Lenggang Jakarta Kemayoran, Baru Diresmikan Sudah Merana

Deni Aryanto    •    Jumat, 17 Mar 2017 09:31 WIB
pariwisata jakarta
Lenggang Jakarta Kemayoran, Baru Diresmikan Sudah Merana
Suasana Lenggang Jakarta di kawasan IRTI Monas, Jakarta, Jumat (18/3/2017). Foto: MI/Ramdani

Metrotvnews.com, Jakarta: Baru saja diresmikan tiga bulan lalu, Lenggang Jakarta Kemayoran, Jakarta Pusat, mulai ditinggalkan pedagang. Sepinya pengunjung lokasi binaan Pemprov DKI Jakarta itu membuat pedagang lebih memilih kembali berjualan di lokasi terlarang, trotoar jalan.

"Saya sempat ambil lapak di Lenggang Jakarta Kemayoran. Karena sepi, mending jualan di pinggir jalan lagi. Semua pedagang pasti enggak mau kalau disuruh balik ke situ," tutur Indri, 33, salah satu pedagang di sana, kemarin.

Diresmikan pada 29 Desember 2016, Lenggang Jakarta Kemayoran sejatinya dibangun untuk menampung ratusan pedagang yang biasa berjualan di Jalan H. Jiung, kawasan Serdang dan seputar Masjid Akbar, Kemayoran.

Di bawah pengelolaan Dinas Koperasi Usaha Mikro Kecil Menengah dan Perdagangan (KUMKMP) DKI Jakarta, area seluas 1.200 meter persegi itu digadang-gadang akan menjadi pusat wisata kuliner Jakarta. Namun, sepinya pembeli saat ini membuat emoh pedagang untuk bertahan di situ.

Mereka menuding minimnya promosi dan ketiadaan kreativitas pemerintah membuat kawasan itu tak mampu menarik minat warga Jakarta untuk berkunjung.

"Biar bangunan bagus, ditambah lagi gratis sewa lapak, tapi buat apa kalau pengunjung sepi. Mending panas-panasan atau hujan-hujanan berjualan di jalan tapi ada pembeli. Paling pedagang harus waspada saja kalau sewaktu-waktu ada penertiban dari Satpol PP," ujar Indri.

Mardi, 47, pedagang sandal di Lenggang Jakarta Kemayoran, menambahkan, berdasarkan pendapatnya, ada beberapa faktor yang memicu sepinya pasar dari pengunjung hingga berangsur ditinggal pedagang. Salah satunya yakni belum rampungnya seluruh kios.

"Masih banyak kios pedagang yang masih harus direnovasi. Jadi masih berantakan. Mana kiosnya juga sempit, cuma 2x2 meter," ucapnya.

Di area yang dibangun dengan menggunakan dana corporate social responsibility (CSR) PT Sosro Indonesia senilai Rp2,5 miliar itu, telah berdiri 600 kios untuk pedagang kuliner dan nonkuliner. Namun, kini pasar itu benar-benar sepi. Tak ada satu pun pedagang yang tersisa di sana.

Para pedagang kembali memadati kawasan Masjid Akbar Kemayoran, Serdang, dan Jiung. Alhasil, kawasan yang sempat tertib dan bebas dari kemacetan itu kembali ke wujud semula: semrawut.

Pasar liar

Kepala Dinas Koperasi Usaha Mikro Kecil Menengah Perdagangan (KUMKMP) DKI Jakarta Irwandi menuding masih beroperasinya pasar liar di sekitar Masjid Akbar, Serdang, dan Jalan H Jiung, menjadi pemicu sepinya Lenggang Jakarta Kemayoran.

Karena itu, Dinas KUMKMP telah meminta Pemerintah Kota Jakarta Pusat untuk segera menertibkan keberadaan pasar-pasar liar tersebut.

"Tidak mungkin Dinas KUMKMP DKI Jakarta yang lakukan penertiban. Sudah sering kita berkoordinasi dengan pemkot tapi mereka baru mendapat anggaran penertiban untuk 2018. Maka itu saya juga bingung, bagaimana untuk tahun ini," ucapnya.

Terkait dengan pembangunan kios nonkuliner yang belum rampung, kata Irwandi, hal itu pun bukan menjadi kewenangannya.

Itu disebabkan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menyerahkan pembangunannya kepada calon pedagang yang hendak memanfaatkan.

 


(UWA)