Solusi Jangka Pendek Mengatasi Banjir Jakarta

   •    Senin, 12 Feb 2018 13:11 WIB
banjir jakartanormalisasi sungai
Solusi Jangka Pendek Mengatasi Banjir Jakarta
Anak-anak bermain saat banjir melanda kawasan Kampung Pulo, Jakarta. (Foto: ANTARA/Galih Pradipta)

Jakarta: Pengamat Tata Kota Nirwono Joga menilai ketimbang memperdebatkan penggunaan istilah naturalisasi dan normalisasi dalam upaya penanganan banjir di ibu kota, yang sesungguhnya dibutuhkan warga DKI Jakarta saat ini adalah solusi nyata. 

Jika penanganan banjir jangka panjang bisa dibantu dengan merefungsi sungai yang menjadi tampungan air hujan, tidak demikian dengan solusi jangka pendek.

Menurut Joga, sedikitnya ada lima solusi jangka pendek yang bisa dilakukan Pemprov DKI dalam upaya penanganan banjir sementara. Solusi jangka pendek, kata dia, bisa dilakukan selama sepekan ke depan jelang puncak musim hujan.

"Pertama, pastikan dulu semua pompa berfungsi dengan baik. Jangan seperti tahun lalu, pompa di Dukuh Atas, Jakarta, justru mati pada waktu banjir," katanya, dalam Metro Pagi Primetime, Minggu, 11 Februari 2018.

Kedua, kata Joga, Pemprov DKI dan dinas terkait harus memastikan semua tanggul di ibu kota tidak ada yang berisiko. Misalnya, retak sedikit yang berpotensi menyebabkan tanggul jebol saat debit air meningkat.

"Seperti di daerah Kemang dan Jatipadang, Jakarta Selatan, itu jebol. Masalahnya kalau di Puncak musim hujan rata-rata terjadi pada waktu orang beristirahat. Antara malam sampai dini hari, apalagi kalau kita bicara wilayah pantai utara yang semuanya tanggul," kata Joga.

Joga mengatakan selama 20 tahun terakhir wilayah DKI yang terdampak banjir hanya itu-itu saja. Alasan itulah yang membuat Pemprov DKI Jakarta harus menyiapkan langkah antisipasi seperti pola evakuasi dan lokasi pengungsian sementara.

Keempat, Pemprov DKI perlu membuat rencana tata kota akan diapakan kawasan yang menjadi langganan banjir. Seperti bagaimana upaya perbaikan agar dalam beberapa tahun ke depan lokasi langganan banjir bisa terbebas dari genangan.

"Kelima adalah persoalan sampah. Ini persoalan mendasar yang kalau kita bicara bukan hanya di DKI tapi juga di Bogor dan Depok. Pemerintah harus berkoordinasi untuk sama-sama membereskan sampah," ungkapnya.

Empat tipe banjir

Selain menyiapkan solusi, warga termasuk Pemprov DKI dan instansi terkait perlu lebih dulu mengenal tipe banjir di ibu kota agar penanganan yang dilakukan bisa maksimal. 

Melihat dari kondisi geografis Jakarta, Joga mengatakan pada dasarnya ada empat tipe banjir yang kerap melanda ibu kota. 

"Pertama itu banjir kiriman dari Bogor. Bisa dikatakan Bogor hujan lebat sementara di Jakarta hanya gerimis. Banjir yang terjadi tentu berasal dari kiriman karena ada perubahan tata ruang di wilayah Puncak," kata Joga.

Tipe kedua kata Joga, adalah banjir lokal yang disebabkan karena buruknya drainase. Kemudian banjir rob akibat pasang surut air laut yang umumnya terjadi di kawasan pantai utara Jakarta, serta keempat hujan yang terjadi secara bersamaan.

"Ini yang harus diantisipasi. Karena ketika Puncak Bogor hujan deras, Jakarta hujan lokal, di pantai utara rob, dipastikan Jakarta banjir. Seperti yang terjadi pada 1996, 2002,2007, 2012, dan 2013," pungkasnya.




(MEL)