Sopir Truk Sampah DKI Takut Bersuara

Ilham wibowo    •    Selasa, 18 Oct 2016 16:34 WIB
sampah jakarta
Sopir Truk Sampah DKI Takut Bersuara
Antrean truk sampah di UPST Bantar Gebang, Bekasi, Jawa Barat. (foto: MTVN/Ilham Wibowo)

Metrotvnews.com, Jakarta: Sejumlah sopir truk pengangkut sampah DKI Jakarta mengeluhkan lamanya proses bongkar muat di Unit Pengolahan Sampah Terpadu (UPST) Bantar Gebang, Bekasi, Jawa Barat. Ingin protes, takut dicap pembangkang.

Aceng, 40, misalnya. Dia meyakini ada masalah dalam pengelolaan UPST. Sebab, jam kerja Aceng sebagai pegawai harian lepas melebihi kontrak namun tetap digaji Rp3,1 juta per bulan.

"Padahal alasan kita melapor untuk kepentingan masyarakat juga. Semua sopir sudah tahu, di UPST semenjak pindah kelola itu kekurangan peralatan bongkar muat," kata Aceng kepada Metrotvnews.com, Selasa (18/10/2016).

Aceng bilang, alat berat seperti ekskavator dan sopel di UPST yang hanya 18 unit tak sebanding dengan 1.300 unit truk yang harus mengangkut ribuan ton sampah dari ibu kota. Para sopir, kata Aceng, harus menunggu berjam-jam untuk proses bongkar muat.

Tak cuma kekurangan alat berat, ketersediaan solar sebagai bahan bakar operasional ekskavator juga kerap dijadikan alasan untuk menunda proses bongkar muat. Aceng harus mengantre bahkan menunggu hingga 10 jam untuk proses bongkar muat.

"Setiap kali isi ulang solar pasti mesti tunggu dua sampai tiga jam. Belum lagi kalau solar habis, kita mesti tunggu lagi sampai jatah solar datang," kata Aceng.

Para sopir juga mengaku heran dengan Pemprov DKI yang tak kunjung berbenah. Padahal, UPST sudah dikelola sendiri oleh Dinas Kebersihan setelah memutus kerja sama dengan PT Godang Tua Jaya (jo) PT Navigat Organic Energy Indonesia pada Juli 2016 lalu.

"Ada kawan saya yang menyampaikan keluhan di Facebook besoknya langsung di SP pindah kerjaan jadi tukang sapu," kata Hamdan, sesama sopir pengangkut sampah.

Hamdan mengutarakan, untuk melepas lelah pun sulit. Sebab tak ada kesempatan untuk istirahat lantaran harus mengantre hingga belasan jam. Puluhan petugas yang berstatus PHL pun berjaga mengawasi seluruh kawasan UPST.

"Kadang kita sedang tidur karena kecapean menunggu antrean langsung difoto pengawas, diarsipkan, untuk pelaporan kesalahan kita. Padahal yang kita mau hanya lekas pulang buat siap-siap besok kerja lagi," tutur Hamdan.

Sementara itu, Kepala UPST Bantar Gebang Dinas Kebersihan DKI Jakarta, Asep Kuswanto, mengatakan, saat ini hanya bisa mengoptimalkan armada alat berat dan kuota bahan bakar untuk proses bongkar muat. Dirinya belum bisa memberikan informasi kapan akan dilakukan penambahan jumlah tersebut.

"Benar kekurangan alat berat dan BBM. Untuk mengurangi antrean kita optimalkan armada yang ada meski jumlahnya sangat minim," kata Asep.


(MEL)