Jangan Biarkan Garis Hijau Sia-Sia

Yanurisa Ananta    •    Kamis, 10 Aug 2017 08:57 WIB
krlpenumpang krl
Jangan Biarkan Garis Hijau Sia-Sia
Penumpang berdiri di garis batas antrean di Stasiun Juanda, Rabu (9/8/2017). Foto: MI/Arya Manggala

Metrotvnews.com, Jakarta: "PENUMPANG naik utamakan penumpang turun. Selalu tunggu di batas antrean KRL demi kelancaran dan kenyamanan penumpang." Suara seorang petugas itu menggema melalui pengeras suara di peron Stasiun Juanda, Jakarta Pusat.

Tak lama, sebuah kereta rel listrik (KRL) tujuan Depok tiba. Para penumpang tampak bersiap menaiki kereta. Pesan tadi tampak tak ada guna. Dengan berbagai cara, penumpang-penumpang itu berusaha naik cepat-cepat, saling mendahului dan berdesakan.

"Selama ini saya lihat belum pada tertib, terutama di jam-jam sibuk seperti pukul 08.00 WIB dan pukul 16.00 WIB," tutur petugas di peron Stasiun Juanda, kemarin.

Sedikit penumpang yang menggubris garis penanda area bahaya warna kuning yang terbentang di sepanjang peron. Apalagi punya niat memberi kesempatan bagi penumpang di dalam kereta turun lebih dahulu sebelum mereka menyerbu masuk.

Mulai dari adu mulut antara penumpang yang naik dan yang turun hingga insiden penumpang terjepit, sudah jadi catatan kasus di berbagai stasiun.

"Penumpang bahkan terbiasa menunggu kereta di luar batas garis kuning. Padahal, walaupun tidak ada petugas, kami kan sudah sediakan pengumuman dari pengeras suara," lanjutnya.

Menyadari keselamatan penumpang terancam, PT KAI Commuter Jabodetabek (KCJ) akhirnya mencari akal. Dua pekan lalu, dipasanglah garis khusus untuk menandai jalur antre bagi mereka akan naik kereta.

Dua garis hijau saling sejajar sepanjang 2 meter itu terbentang horizontal dari garis kuning yang sudah ada selama ini. Letaknya disesuaikan dengan posisi pintu kereta.

Dua garis itu membentuk jalur tempat penumpang berbaris mengantre, lengkap dengan tanda panah mereh ke arah mendekati pintu kereta. Di sanalah para penumpang boleh berdiri menanti kereta.

Untuk setiap posisi pintu kereta, ada dua jalur antre disediakan, sedangkan area polos yang diapit dua jalur itu diperuntukkan mereka yang keluar dari kereta.

"Satu bulan ke depan kami secara bertahap akan mulai melengkapi pemasangan garis batas antre di peron tersebut pada 75 stasiun KRL Jabodetabek," kata VP Komunikasi PT KCJ Eva Chairunisa.

Saat ini baru Stasiun Juanda dan Stasiun Kota yang punya jalur antre peron. Jalur semacam itu lazim ditemui di stasiun-stasiun kereta atau MRT di negara maju. Yang berbeda ialah perilaku penumpangnya.

Berdasarkan pantauan Media Indonesia di Stasiun Juanda, kemarin pukul 09.00 WIB, banyak penumpang tidak sadar akan jalur antre itu. Begitu kereta tiba, penumpang langsung menyasar pintu KRL yang akan terbuka. Jalur antre peron itu pun sia-sia.

Karen, 20, seorang pekerja yang sehari-hari naik dan turun kereta di Stasiun Juanda, mengaku perilaku penumpang masih sama saja.

"Petugas juga diam-diam saja. Jangankan garis yang baru. Ada juga yang masih berdiri di garis kuning. Semuanya masih sama saja," ujar Karen yang tinggal di kawasan Pondok Gede.

Selain karena tidak diingatkan, menurutnya, tidak disiplinnya penumpang itu terjadi karena fungsi garis-garis di peron kurang disosialisasikan.

Desi, 41, yang baru dua kali naik kereta dari Stasiun Juanda, membandingkan kondisi itu dengan stasiun di sejumlah kota di Jepang, seperti Tokyo dan Osaka.

Menurut Desi, seharusnya ada plang penunjuk untuk memberikan sosialisasi kepada masyarakat Indonesia yang selama ini belum kenal dengan hal itu.

"Kalau di Jepang mereka sudah menunggu masuk di jalurnya masing-masing. Sesampainya di stasiun mereka bakal langsung berdiri dan menunggu kereta karena tidak disediakan bangku," paparnya.


(UWA)