Pelarangan Motor di Jalan Sudirman Membahayakan Bisnis Kelola Gedung

Lis Pratiwi    •    Rabu, 09 Aug 2017 21:29 WIB
pembatasan sepeda motorsistem ganjil genap
Pelarangan Motor di Jalan Sudirman Membahayakan Bisnis Kelola Gedung
Rambu larangan melintas bagi pengguna sepeda motor yang terpasang di Jalan Jenderal Sudirman, sudah terpasang di kawasan Semanggi, Jakarta, Rabu (20/4/2016). Foto: MI/Galih Pradipta

Metrotvnews.com, Jakarta: Aturan baru Pemerintah Provinsi DKI Jakarta terkait larangan sepeda motor di sepanjang jalan Sudirman hingga Senayan dinilai berbahaya bagi bisnis tata kelola gedung di sekitarnya.

Pasalnya, tidak semua gedung di Sudirman memiliki jalan belakang sebagai alternatif bagi karyawan perusahaan tenant di gedung tersebut. Jika akses depan dari jalan Sudirman ditutup, pengelola khawatir penyewa akan pindah.

"Sebelum ada aturan ini (larangan sepeda motor) gedung ini sudah begini, jangan karena ada aturan jadi menutup bisnis kami," ujar Yahya, building manager Mayapada Tower II saat ditemui Metrotvnews.com di Jakarta, Rabu 9 Agustus 2017.

Menurut Yahya, gedung yang ia kelola memang tidak menerima dampak tersebut secara langsung. Pasalnya, Mayapada Tower II memiliki akses jalan belakang sejak dahulu. Sehingga karyawan dan tamu memiliki jalur alternatif lain untuk masuk.

Namun, tidak dengan gedung di sebelahnya yakni Sona Topas. Yahya menuturkan gedung tersebut tidak memiliki akses keluar masuk selain lewat Sudirman karena ada gedung lain di belakangnya. Ia pun menyarankan beberapa kelonggaran bagi gedung semacam itu.

"Berikan jarak-jarak pendek untuk pengecualian. Misalnya dari Sona Topas jalan alternatif paling dekat itu dua gedung di sebelahnya, berarti karyawan sana boleh lewat jalan Sudirman tapi hanya melewati dua gedung supaya bisa ke kantor. Jangan sampai kami mati bisnis," imbuh Yahya.

Building manager Sona Topas Tower, Rio Wardhana pun menyetujui hal tersebut. Menurutnya, belakangan ini ekonomi kelola gedung sedang menurun karena penyewa menghindari pusat kota dan lebih memilih daerah pinggiran, seperti Jalan TB Simatupang dan Depok.

"Itu kalau diberlakukan seperti itu kemungkinan berkurang lagi karena masuknya susah, karyawan mereka kebanyakan pakai motor," jelas Rio.

Rio menjabarkan, hingga 70 persen karyawan di perusahaan penyewa menggunakan motor sebagai transportasi kerja. Jangan sampai kebijakan tersebut justru mematikan pengelolaan-pengelolaan gedung di kawasan Sudirman ini.

"Jadi pemerintah juga harus memberikan jalan keluarnya seperti apa jangan dipaksakan menutup jalur motor tapi solusinya tidak ada," beber Rio.


(LDS)

Kematian Saksi Kunci KTP-el (3)

Kematian Saksi Kunci KTP-el (3)

3 hours Ago

Sebuah perusahaan asal Amerika Serikat ikut menyediakan teknologi perekaman KTP-el. Terselip na…

BERITA LAINNYA