Penyebab Carut Marut Jalanan Tanah Abang

M Sholahadhin Azhar    •    Jumat, 19 May 2017 23:06 WIB
dki jakartatanah abang
Penyebab Carut Marut Jalanan Tanah Abang
Kondisi semrawutnya jalanan di kawasan Tanah Abang, Jakarta Pusat. Foto: MTVN/M Sholahudin Azhar

Metrotvnews.com, Jakarta: Hawa panas, abu beterbangan, kendaraan merayap, sesekali pejalan melintas jalan raya tak peduli keselamatan. Trotoar dirampas para pelapak jualan dan beralih jadi lahan parkir.

Tempat yang disiapkan untuk tanaman berubah menjadi tong sampah. Seakan tak peduli dengan keindahan.

Carut marut ini hanya sepetik kondisi jalanan Tanah Abang. Konon, kawasan ini dirujuk sebagai pusat grosir terbesar se-Asia Tenggara. Tapi toh titel tak bisa membuat Tanah Abang, atau Tenabang, berubah rapi.

Dulu Tanah Abang sempat dibenahi. Fasilitas jalan dan trotoar diperbaiki. Tapi kini perlahan jalanan Tanah Abang kembali berantakan.

Banyak diserbu warga

Kasiop Satpol PP Jakarta Pusat, Santoso menyebut banyak alasan yang menyebabkan ini terjadi. Volume masyarakat yang lalu lalang dari stasiun ke kawasan Tanah Abang juga menurutnya jadi salah satu penyebab.

"Stasiun tiap 7 menit menurunkan penumpang, ketika turun dan menyebrang juga menimbulkan kemacetan, belum lagi sopir angkot yang menunggu kemacetan," kata Sutanto kepada Metrotvnews.com, Jumat 19 Mei 2017.

Selain itu, ia mengakui memang ada peningkatan pengunjung menjelang Ramadan ke pasar tekstil terbesar Asia Tenggara ini. Budaya membeli baju baru untuk Ramadan tak bisa hilang dari masyarakat.


Trotoar disulap jadi tempat berdagang dan tempat parkir. Foto: MTVN/M Sholahudin Azhar

Terlebih Stasiun Tanah Abang menurut Sutanto, menghubungkan tak hanya titik-titik di Jakarta saja. Banten dan Jawa Barat bisa mengakses fasilitas angkutan umum tersebut.

"Lonjakan masyarakat itu bisa mencapai 300 ribu, 3 kali lipat dari biasanya," kata Sutanto.

Ada gula ada semut. Semakin tinggi minat pembeli, semakin menjamur penjual yang cari untung. Akhirnya pedagang dadakan memanfaatkan fasilitas yang ada. Walaupun harus mengorbankan orang lain.

Campur aduk minus fasilitas

Wilayah Tanah Abang sendiri bercampur antara pusat bisnis dengan rumah hunian. Kondisi ini terkadang menimbulkan konflik sosial.

Konflik biasanya terjadi antara warga sekitar atau, anak wilayah, dengan pedagang. Tak jarang pula 'penghuni' Tenabang bentrok dengan Satpol PP.

Carut marut di kawasan ini menurut Sutanto juga tak bisa lepas dari kurangnya fasilitas umum. Meski trotoar terlihat rapi namun unsur penyebrangan dari Stasiun menuju Tanah Abang tidak ada.

"Enggak ada Jembatan Penyebrangan Orang (JPO)," kata Sutanto.


Semrawutnya kondisi Tanah Abang yang semakin ramai mendekati bulan Ramadan. Foto: MTVN/Sholahudin Azhar


(SUR)