Menata Jakarta, Perluas Daratan atau Perbanyak Lantai?

Intan fauzi    •    Sabtu, 20 May 2017 11:08 WIB
reklamasi teluk jakarta
Menata Jakarta, Perluas Daratan atau Perbanyak Lantai?
Deretan gedung perkantoran dan apartemen terlihat di kawasan Senayan, Jakarta, Kamis (6/4/2017). Foto: Antara/M Agung Rajasa

Metrotvnews.com, Jakarta: Pro dan kontra kelanjutan proyek reklamasi pantai utara Jakarta terus bergulir. Apalagi setelah gubernur dan wakil gubernur DKI Jakarta terpilih, Anies Baswedan-Sandiaga Uno, bakal merealisasikan janji kampanyenya menghentikan proyek itu.

Pemerintah Pusat dan Pemerintah DKI Jakarta tak sejalan lagi. Tim sinkronisasi bentukan Anies-Sandi sedang mencari cara menyetop proyek pembuatan 17 pulau itu secara legal.

Seperti diketahui, salah satu alasan reklamasi dianggap perlu dilakukan ialah kurangnya ruang yang dimiliki Jakarta untuk menampung pertumbuhan penduduk. Sebagai Ibu Kota, Jakarta bak gula yang dikerumuni semut, laju pertumbuhan penduduknya sulit dikendalikan.

Jakarta tak bisa lagi menambah lahan, pilihannya ingin menambah luas daratan ke laut dengan reklamasi atau menambah jumlah lantai atau membangun hunian secara vertikal. Untuk mengatasi persoalan itu, publik pun belum satu suara ingin memilih yang mana.

Membangun secara vertikal memang sedang dilakukan Pemprov DKI. Namun, apakah Jakarta harus terus menambah lantainya ke atas?

Firdaus Ali. Foto: Metrotvnews.com/Nur

Peneliti Lingkungan dari Universitas Indonesia (UI), Firdaus Ali menegaskan, reklamasi diperlukan. Menurutnya, membangun hunian secara vertikal pun ada batasnya.

"Ketika bangun ke atas, dalam ruang yang sama akan bertambah manusia. Kan infrastrukturnya juga terbebani. Emang orang yang tinggal di bangunan tinggi bisa terbang ke tempat lain tanpa bisa menyentuh daratan?" kata Firdaus kepada Metrotvnews.com, Jumat 19 Mei 2017.

Itulah yang Firdaus anggap kurang dipahami pengamat tata kota yang menolak reklamasi. Semakin menambah lantai ke atas maka infrastrukturnya pun ikut terbebani.

Staf Khusus Menteri PUPR bidang Sumber Daya Air itu tak sepakat dengan pilihan menambah lantai. Ia merasa reklamasi tetap menjadi cara lebih baik untuk 50-100 tahun ke depan.

"Kan kita bikin simulasi, kalau sebuah bangunan tadinya horizontal, lalu dibikin ke atas, maka air minumnya akan melewati pipa yang sama. Limbahnya juga di jalur yang sama. Bebannya akan berat. Itu tidak dipahami teman-teman yang mengkritisi. Kita semua kan menyimulasikan segala kemungkinan tadi," kata Firdaus.

Marco Kusumawijaya. Foto: Metrotvnews.com/Ciputri

Pengamat perkotaan Marco Kusumawijaya tak sepakat. Ia menilai anggapan tambah penduduk tambah daratan itu salah. Ia mendukung pemikiran membangun lebih banyak lantai untuk mengatasi permasalahan ruang di Ibu Kota.

"Kalau kita bicara horizontal, kita bicara hutan. Tapi kalau kita bicara kota, kita bicara lantai," ucap Marco.

Pria yang tergabung dalam tim sinkronisasi Anies-Sandi itu berkaca ke negeri Singapura. Kata dia, Singapura memiliki lantai terbangun sebanyak enam kali luas pulaunya.

"Sementara Jakarta ini lantai yang kita bangun paling-paling cuma dua kali luas wilayah. Karena itu setiap penduduk Singapura rata-rata menikmati 1.000 meter persegi lantai terbangun. Kalau Jakarta kan cuma 170 (meter persegi) lantai terbangun," ujar Marco.

Menurut Marco, ada kesalahan ekstrapolasi dalam memperhitungkan solusi persoalan kekurangan ruang di Jakarta. Pertambahan penduduk tak melulu harus menambah lahan.

"Lahan di mana-mana pun kan tidak bertambah. Jangan berpikir mereklamasi berarti menambah daratan. Mengambil laut berarti Anda mengurangi laut. Berpikirnya itu jangan menambah tanah, tapi menambah lantai," terangnya.




(UWA)

KPK Yakin Mampu Jawab Argumentasi Praperadilan Novanto

KPK Yakin Mampu Jawab Argumentasi Praperadilan Novanto

11 hours Ago

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) bakal memberikan jawaban atas gugatan praperadilan Setya Nov…

BERITA LAINNYA