Ojek Pangkalan si Raja Trotoar Stasiun

   •    Selasa, 29 Nov 2016 10:46 WIB
trotoar
Ojek Pangkalan si Raja Trotoar Stasiun
Tukang ojek parkir dan menunggu penumpang di trotoar Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta Selatan. Foto: MI/Adam Dwi

Metrotvnews.com, Jakarta: Perilaku tukang ojek pangkalan di kawasan Stasiun Tanah Abang dan Manggarai makin menjadi-jadi. Tukang ojek pangkalan alias opang, begitu mereka menyebut diri, menjadi raja trotoar depan stasiun.

Di Stasiun Tanah Abang, Jakarta Pusat, contohnya. Pejalan kaki hanya disisakan ruang kurang dari 1 meter dari lebar trotoar 4 meter.

Pejalan kaki 'dijepit' para tukang ojek yang berdiri bergerombol dan lapak pedagang kaki lima. Berjalan pun menjadi sulit karena mereka berdiri menghadang warga yang baru keluar stasiun.

"Setiap hari ya seperti ini, dari pagi sampai sore. Trotoar buat pejalan kaki malah dikuasai tukang ojek. Saya lihat ada petugas Dishub, tetapi tak mengambil tindakan apa-apa. Mereka hanya mengatur lalu lintas supaya tak macet," keluh Wita, 33, yang setiap hari menggunakan jasa commuter line.

Pemandangan di Tanah Abang tidak berbeda dengan di Stasiun Manggarai, Jakarta Selatan. Mereka berteriak menawarkan jasa dengan berdiri bergerombol di depan stasiun.

Saad, salah satu tukang ojek pangkalan di Stasiun Manggarai, mengaku tidak pernah ditegur petugas keamanan stasiun. Polisi juga tak pernah menegur mereka meski motor mereka yang terparkir di pinggir jalan menimbulkan kemacetan.

"Kami sudah lama jadi tukang ojek di sini, tidak ada yang persoalkan. Kalau pun ada polisi, itu biasanya karena ada kunjungan pejabat ke stasiun. Jadi, kami diminta bergeser sedikit. Setelahnya, kami kembali mangkal lagi ke lokasi semula," ujar pria yang sudah mangkal di situ sejak 16 tahun lalu.

Menurut Zulfikar, petugas keamanan di Stasiun Manggarai, pihaknya tidak berwenang meminta ojek pangkalan pindah ke tempat lain sehingga tak menghalangi penumpang yang baru turun dari commuter line.

Dia mengaku hanya melaksanakan kewajibannya untuk menjaga keamanan stasiun dan sesekali mengatur arus lalu lintas depan stasiun agar tidak macet.

"Ada pos polisi di depan stasiun. Petugasnya kadang ada, kadang tidak. Mereka kalau koordinasi, ya sama pihak stasiun, tidak dengan petugas yang ada di lapangan," terang Zulfikar.

Kepala Subdit Pembinaan dan Penegakan Hukum Direktorat Lalu Lintas Polda Metro Jaya Ajun Komisaris Besar Budiyanto mengatakan pihaknya tidak lepas tangan untuk setiap angkutan umum yang kerap berhenti seenaknya, apalagi untuk tukang ojek, baik pangkalan atau daring, yang terkadang memarkir motor mereka di trotoar sembari menunggu penumpang.

"Pada prinsipnya pelanggar akan ditindak, dendanya Rp250 ribu. Kepolisian bukannya tidak menindak, melainkan ojek dan angkutan umum yang bandel, kan suka kucing-kucingan. Kalau ada petugas, mereka kabur. Kami tidak ada, mereka bandel lagi, begitu terus," tandas Budiyanto. (Media Indonesia)


(TRK)