Penjelesan Disdik Kota Bekasi Soal Terlantarnya 72 Siswa SMAN 10

Juven Martua Sitompul    •    Sabtu, 12 Aug 2017 04:59 WIB
pendidikan
Penjelesan Disdik Kota Bekasi Soal Terlantarnya 72 Siswa SMAN 10
Ilustrasi--MI/ROMMY PUJIANTO

Metrotvnews.com, Bekasi: 72 siswa SMAN 10 Bekasi yang masuk melalui zonasi susulan terlantar karena tidak tercatat di Data Pokok Pendidikan (Dapodik) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud). Saat ini, 57 dari 72 siswa sepakat dipindahkan ke SMA Terbuka.

Kepala dinas pendidikan Kota Bekasi Ali Fauzi menjelaskan, awal mula terjadinya kelebihan rombongan belajar (rombel) di sekolah tersebut. Menurut dia, persoalan ini beranjak dari keluhan warga sekitar yang ingin melanjutkan pendidikan menengahnya di SMAN 10.

"Sebagai kepala daerah memperhatikan warganya yang keluh kesah, kemudian pemerintah daerah dalam hal ini Pak Wali Kota mengirimkan surat ke provinsi berkaitan dengan penambahan jumlah siswa di setiap rombel," kata Ali kepada Metrotvnews.com, Jumat 11 Agustus 2017.

Namun, lanjut Ali, permintaan agar setiap kelasnya diisi dengan 40 siswa itu ditolak pihak Pemprov Jawa Barat. Mereka mengarahkan Pemkot Bekasi untuk memasukkan para siswa itu ke SMA Terbuka.

"Anak ini kan harus tetap sekolah, tapi ke swasta mereka enggak siap dengan berbagai alasan biaya kebetulan di samping SMA itu ada yayasan yaudah dibuka tempat kegiatan belajar," jelas Ali.

Ali mengaku maklum dengan keputusan Pemprov Jabar yang menolak permintaan penambahan rombel. Sebab, aturannya jelas menyatakan jumlah rombel hanya 36 siswa perkelasnya.

"Tapi pemerintah Kota Bekasi juga wajar mengusahakan agar warganya bisa sekolah, karena kebijakan ini di provinsi maka pemerintah daerah meminta ke provinsi," ucapnya.

Sebelumnya Wali Kota Bekasi Rahmat Effendi mengusulkan penambahan jumlah peserta rombongan belajar (rombel) dari 36 menjadi 40 siswa. Penambahan dilakukan dengan alasan mengakomodasi siswa-siswi yang berdomisili di sekitar Kelurahan Pejuang.

Usulan Rahmat ditolak oleh Pemprov Jabar. Akibatnya, 72 siswa-siswi yang masuk melalui jalur zonasi susulan itu pun tidak bisa mengikuti proses belajar mengajar seperti siswa SMAN 10 lainnya.

Untuk menyudahi polemik ini, Pemprov Jabar pun akhirnya memberikan dua opsi. Pertama, para siswa dipersilakan pindah ke sekolah swasta dan kedua pembukaan SMA Terbuka, di mana induk dari SMA Terbuka tetap SMAN 10 Bekasi.

57 dari 72 siswa SMAN 10 Bekasi yang terlantar menyatakan siap dipindahkan ke SMA Terbuka. Sedangkan 15 siswa lainnya kemungkinan memilih pindah ke sekolah swasta.


(DEN)