Terpaksa Jadi Guru di SMAN 10 Bekasi

Gana Buana    •    Kamis, 10 Aug 2017 08:03 WIB
pendidikan
Terpaksa Jadi Guru di SMAN 10 Bekasi
Aksi teaterikal siswa di sebuah SMA di Kota Bekasi. Foto: MI/

Metrotvnews.com, Bekasi: Permintaan Pemerintah Kota Bekasi, Jawa Barat, untuk menambah rombongan belajar (rombel) siswa SMA/SMK negeri di wilayah mereka pada tahun ini berbuntut Panjang. Sebanyak 72 pelajar di SMAN 10 telantar karena ketiadaan guru.

Para relawan pun menerjunkan diri mengajar para siswa telantar tersebut karena rasa iba. "Dari awal masuk sekolah, dia mengeluh belum juga belajar. Saya sebagai ibunya jelas marah," kata Evi, ibunda David.

Evi mengaku dirinya tak bisa hanya marah. Sebagai wanita yang pernah menjadi tenaga pengajar kontrak di salah satu SMA negeri di Jawa Tengah, ia memutuskan untuk mengisi jam kosong 72 siswa itu dengan ilmu yang dimilikinya.

"Kemarin saya isi dengan bahasa Inggris, materinya 'good manner'. Memang bukan kurikulum resmi, tapi ini untuk mengisi waktu anak-anak agar tidak terbuang sia-sia," jelas Evi. Ia mengajar dua kelas yang menampung 72 siswa tersebut.

Untuk sementara, SMAN 10 sebagai sekolah resmi para siswa itu menempatkan mereka di gedung milik SMK Yaperti di Jalan Nusa Indah XI, Kelurahan Pejuang, Kecamatan Medan Satria, Kota Bekasi.

Ketua perkumpulan orang tua 72 siswa itu, Fanni Plontho, menyampaikan, sampai dengan kemarin, janji SMAN 10 untuk memulai proses belajar bagi 72 siswa tersebut belum juga terlaksana. Padahal, sekolah tersebut telah menjanjikan para siswa akan mulai belajar pada Senin 7 Agustus lalu.

"Karena enggak ada guru, relawan dari orang tua siswa jadi andalan. Ada dua relawan yang bersedia mengajar siswa-siswi. Akan tetapi, jamnya masih tidak beraturan. Namanya juga relawan, jadi jamnya sebisa mereka," kata dia.

Fanni menjelaskan baru beberapa mata pelajaran yang bisa diajarkan kepada para siswa, di antaranya pendidikan kewarganegaraan, bahasa Inggris, biologi, dan pendidikan agama. Ia mengaku bahan ajar yang digunakan memang jauh dari standar baku kurikulum.

Sebab, pengajar yang rela mengajari siswa bukanlah tenaga pengajar yang tesertifikasi dari lembaga kedinasan atau kementerian tertentu. "Yang kami miliki hanya hati nurani. Meski tidak bersertifikat, kami masih berupaya agar anak-anak bisa belajar, daripada yang bersertifikat tetapi terbentur pada aturan," ujar Fanni.

Ia berharap pihak sekolah dan pemerintah mewujudkan opsi terbaik bagi para siswa.

Tetap semangat

Meski belajar seadanya, Tasya Anggi, 16, salah satu siswi telantar tersebut, dengan serius dan tekun mendengarkan penjelasan seorang guru relawan itu. Sesekali ia mencatat apa yang dipaparkan guru yang ada di depannya tersebut.

Tak jarang ia aktif bertanya jika penjelasan yang didapat kurang bisa dipahami. "Mamanya David yang mengajarkan kita pelajaran bahasa Inggris. Dari tiga minggu lalu kami tetap datang ke sekolah pagi hari dan pulang siangnya, seperti masuk sekolah biasa, meski sebetulnya tidak ada pelajaran didapat," tutur Anggi.

Sebetulnya, ia sudah mengikuti rangkaian kegiatan masa pengenalan lingkungan sekolah (MPLS) di SMAN 10 yang diadakan satu pekan di awal tahun ajaran baru pada 17 Juli lalu.

Setelah itu, Anggi pun pernah diajar guru dari SMAN 10. Namun, hal tersebut berlangsung hanya satu hari. Selanjutnya, hingga kemarin, guru resmi dari sekolah itu berhenti mengajar mereka.


(UWA)