Mardjiun tak Lagi Fobia Rumah Sakit

Nur Azizah    •    Selasa, 18 Oct 2016 09:31 WIB
kartu jakarta sehat
Mardjiun tak Lagi Fobia Rumah Sakit
Mardjiun, pemegang KJS yang mendapatkan pengobatan gratis dan pelayanan baik dari RS/MTVN/Nur Azizah

Metrotvnews.com, Jakarta: Mardjiun, warga Juraganan, Jakarta Barat sempat mengalai fobia rumah sakit. Ia tak pernah mau berobat ketika sakit.

Ia menganggap rumah sakit tempat mewah yang hanya diisi orang-orang kelas atas. Ia bahkan sempat berpikir orang miskin dilarang sakit. Itu karena ia masih beranggapan biaya rumah sakit bisa mencekik.

Sebulan lalu, mau tak mau Mardjiun harus dilarikan ke rumah sakit Pelni, Petamburan, Jakarta Barat. Kesehatannya turun drastis. Pria berusia 57 tahun itu didiagnosa mengalami flek di paru-paru. Jantungnya pun bermasalah.

Mardjiun dirawat kurang lebih enam hari. Ia sudah mengabiskan sekitar tiga kantung darah dan berkantung-kantung infusan. Herannya, ia tak dikenakan biaya sedikit pun.

“Sampai saya pulang, saya enggak bayar sedikit pun,” cerita Mardjiun kepada Metrotvnews.com di Puskesman Palmerah, Jakarta Barat, Senin 17 Oktober.


Ilustrasi KJS/MI/Immanuel Antonius

Usut punya usut, Mardjiun ternyata salah satu pengguna Kartu Jakarta Sehat (KJS). Ia sempat berpikir negatif tentang kartu tersebut, 'pasti ujung-ujungnya bayar atau pelayananya buruk'.

“Tapi enggak, saya dilayani dengan cepat. Saat saya sampai di rumah sakit langsung ditangani,” tutur pria asal Terenggalek itu.

Mendapat pelayanan baik dari rumah sakit membuat Mardjiun rutin memeriksa kesehatan. Namun, Mardjiun harus membawa surat rujukan dari Puskesmas. Ia tak merasa direpotkan dengan persyaratan itu.

“Saya mau check-up lagi ke sana tapi disuruh bawa surat rujukan dari puskesmas biar gratis,” ungkap Mardjiun.

Hal serupa juga dialami Jubaidah, warga Jati Pulo, Jakarta Barat. Sebagai pengguna Kartu Jakarta Sehat, ia tak pernah mendapat perlakuan buruk apalagi sampa ditelantarkan.

Ia bebas berobat tanpa takut soal biaya. KJS tak memiliki limit pengobatan.

“Selama ini baik-baik saja. Pengunaannya juga enggak rumit,” ungkap Jubaidah.


Kepala Dinkes DKI Koesmadi Koesmedi Priharto saat berbincang dengan Metrotvnews.com/Nur Azizah

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan DKI Koesmedi Priharto menyebutkan, saat ini pengguna KJS dan BPJS telah mencapai 91 persen dari 10,3 juta penduduk DKI Jakarta. Pemprov sudah menganggarkan triliunan rupiah untuk klaim kesehatan.

“Anggaran tahun ini berkisar Rp1,1 hingga Rp1,2 triliun. Itu untuk cover seluruh tindakan-tindakan yang tidak ditanggung BPJS,” kata Koesmedi kepada Metrotvnews.com di kantor Dinas Kesehatan.

Ia berharap seluruh warga yang sakit bisa ditangani melalui program tersebut. Ia tak ingin orang sakit menjadi miskin lantaran biaya pengobatan yang mahal.

“Orang sakit tidak boleh miskin (karena biaya), bukan orang miskin tidak boleh sakit,” ungkapnya.


(OJE)

Aplikasi MataRakyat untuk Penghitungan Cepat Pilkada DKI

Aplikasi MataRakyat untuk Penghitungan Cepat Pilkada DKI

18 minutes Ago

Aplikasi MataRakyat hadir untuk menjawab keingintahuan masyarakat terhadap hasil penghitungan s…

BERITA LAINNYA