GI 2030 Jadikan Pemuda Indonesia sebagai Tuan Rumah di Negeri Sendiri

Husen Miftahudin    •    Rabu, 15 Nov 2017 11:34 WIB
pendidikan
GI 2030 Jadikan Pemuda Indonesia sebagai Tuan Rumah di Negeri Sendiri
Ilustrasi pendidikan, MTVN - M Rizal

Jakarta: Arus globalisasi menuntut bangsa Indonesia menyejajarkan kualitas sumber daya manusia (SDM) dengan negara-negara lainnya. Persaingan antarnegara yang kian ketat membuat pemuda Indonesia harus mampu menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Bila lengah, bukan tak mungkin ekonomi Indonesia dijarah kembali oleh asing.

Presiden Direktur & CEO Euro Management, Bimo Sasongko, mendorong pemuda Indonesia untuk mendongkrak kualitas dan kapabilitas. Lewat Gerakan Indonesia 2030 (GI2030), Bimo berharap usia produktif di Tanah Air menguasai bahasa asing sehingga bisa menuntut ilmu di negara-negara maju. Dengan itu, pemuda pemudi Indonesia menyerap ilmu pengetahuan dan teknologi negara maju untuk diaplikasikan di negaranya sendiri.


(Presiden Direktur & CEO Euro Management, Bimo Sasongko, MTVN - Husen Miftahudin)

GI2030 merupakan program gagasan Bimo. Euro Management bersama Yayasan Pendidikan Eropa Indonesia (YPEI) menyelenggarakan program ini untuk mewujudkan Sejuta Indonesia di Jantung Dunia. Program GI2030 memberikan beasiswa kursus bahasa asing secara gratis untuk berbagai kalangan.

Adapun kursus bahasa asing yang ditawarkan adalah Jerman, Prancis, Belanda, Jepang, Inggris, Spanyol, Italia, Mandarin, Korea, dan Rusia. Ada pula persiapan tes bahasa asing gratis yang ditawarkan seperti TOEFL, IELTS, SAT, GRE, dan GMAT. Juga ada persiapan studi ke luar negeri secara gratis seperti workshop informasi studi di luar negeri, presentasi beasiswa studi ke luar negeri, konsultasi studi di luar negeri hingga pelatihan bela negara dan pembinaan karakter.

"Intinya, kita ingin bangsa Indonesia ini penduduknya produktif. Punya bonus demografi tapi juga mempunyai skill yang tinggi, energetic, memiliki kemampuan akademis, menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, dan berwawasan global. Karena kalau tidak, kita akan dimakan oleh bangsa-bangsa asing," kata Bimo.

Hampir genap berusia dua tahun GI2030 berjalan, sekitar 8.000 peserta yang bergabung. Periode pertama di 2016, pemberian beasiswa ditujukan kepada SMA Kelas X, XI, dan XII. Kemudian pada periode ke dua di tahun yang sama, beasiswa diberikan untuk jurnalis serta mahasiswa S1, S2, dan S3.

Setelah berjalan satu tahun, di 2017, GI2030 memberikan beasiswa kepada anggota organisasi masyarakat (PP Muhammadiyah), PNS/ASN, pegawai BUMN dan BUMD, dan terakhir diberikan kepada guru dan dosen.

Bimo bilang, program beasiswa GI2030 menjadi jalan bagi pemuda Indonesia memaksimalkan beasiswa. Banyak kuota beasiswa yang diberikan pemerintah dan instansi lainnya terbuang percuma lantaran kemampuan bahasa asing pendaftar yang tak memenuhi syarat.

"LPDP yang setahun katanya mau ngirim seribu tapi yang kepakai hanya 120 orang. Ini karena banyak anak-anak muda kita tidak mampu memaksimalkan bahasa, karena salah satu syarat untuk mendapatkan program beasiswa (ke luar negeri) adalah kemampuan bahasa asing," tegas dia.

"Jadi program ini namanya scholarship for scholarship, memberikan beasiswa untuk mendapatkan beasiswa sesungguhnya, kuliah S1, S2, S3 ke luar negeri. Kita membiayai program bahasanya dan segala macam persiapannya agar mereka bisa mendapatkan beasiswa," tutur Bimo mengakhiri.


(RRN)