Menguji Kekebalan Hidup di Gang Jati Bundar Dalam

Gana Buana    •    Rabu, 13 Sep 2017 06:42 WIB
pemukiman kumuh
Menguji Kekebalan Hidup di Gang Jati Bundar Dalam
Petugas Dinas Kebersihan DKI Jakarta membersihkan sampah yang terbawa arus Kali Sunter di Kawasan Kemayoran, Jakarta, Selasa (12/9/2017). Foto: Antara/Aprillio Akbar

Metrotvnews.com, Jakarta: Kartini, 43, terlihat tengah asyik mengayunkan sodet di atas sebuah wajan panas di depan rumahnya. Warga Jalan Jati Bundar Dalam, Tanah Abang, Jakarta Pusat, itu tengah menggoreng lauk olahan ayam kemasan sambil bersenda gurau dengan tetangganya.

Di dekat Kartini, anak perempuannya, Andin, tengah membuka popok sekali pakai yang digunakan bayinya. Limbah popok sekali pakai itu ia lemparkan begitu saja ke anak Kali Ciliwung yang berada di depannya.

Pemandangan itu terjadi tiap hari di kampung supersumpek tersebut. Ribuan warga tinggal di gang sempit itu. Rata-rata, mereka menempati bedeng berukuran 3 x 4 meter persegi.

Segala aktivitas mereka lakukan di dalamnya. Mulai tidur, makan, hingga menonton TV. Sementara itu, mandi-cuci-kakus (MCK) dan kegiatan masak mereka lakukan di luar bedeng.

Saat orang melintas di gang yang hanya selebar 1 meter tersebut, aroma busuk langsung menusuk hidung sekalipun yang bersangkutan sudah memakai masker.

Baca: Menengok RW 16 Kapuk, Kawasan Terpadat dan Kumuh di Jakarta

Bau asap masakan, apek, sumpek, asap rokok, serta bau busuk anak Kali Ciliwung yang penuh sampah bercampur menjadi satu. Namun, bau itu tak mengganggu warga menjalani kehidupan.

Sampah aneka plastik juga dibiarkan berserakan di sepanjang gang. Namun, warga, mulai anak-anak hingga orang tua, tak memedulikannya.

"Dulu pernah dikasih tong sampah oleh pemerintah. Oleh warga, dijadikan tempat jemur cucian. Tuh, lihat saja sendiri," ujar Kartini.

Warga Jalan Jati Bundar Dalam Nomor 16, RT 014/09, itu mengatakan membuang sampah di aliran anak Kali Ciliwung sudah menjadi kebiasaan warga sekitar. Ketika ada pembagian tong sampah, hanya ada 1-2 orang yang membuang sampah rumah tangga mereka di tong sampah tersebut. Sisanya tetap akan membuang sampah di aliran anak Kali Ciliwung.

"Ya mau bagaimana lagi? Sudah hobi kayaknya," imbuh Kartini.

Baca: Jakarta Sisakan 223 RW Kumuh Sejak 2013

Afifah Mutiara, warga lainnya, mengaku perilaku jorok warga di permukimannya sudah kelewat batas. Meski petugas pengangkut sampah setiap hari lewat di muka gang, warga malas mengantar sampah mereka ke depan.

"Dulu ada iuran Rp5.000 per minggu buat bayar petugas dan sampahnya kita bawa ke depan gang. Kan enggak muat mobil sampah masuk gang. Tapi itu cuma bertahan satu minggu, selebihnya ya buang sampah lagi di kali," kaya Afifah.

Anak gadis Ketua RT 014/09 itu mengatakan bukan soal besaran iuran mingguan yang menjadikan program itu tak berjalan. Ketiadaan kemauan untuk hidup bersih yang menjadi penyebabnya.

"Mau diingatkan seribu kali dengan cara apa pun, warga di sini sudah kebal. Enggak bakal mempan warga kalau dikasih tahu. Entah harus dengan cara apa lagi dikasih tahunya," ujar Afifah setengah putus asa.




(UWA)