Tersiksa di Trotoar Pendek

Media Indonesia    •    Senin, 14 Jan 2019 09:05 WIB
trotoar
Tersiksa di Trotoar Pendek
Ilustrasi trotoar--MI/ BARY FATHAHILAH.

Jakarta: Setiap hari, Melia, 23, hanya butuh berjalan kaki 100 meter dari Pasar Pondok Labu, Jakarta Selatan, menuju ke toko tempat ia bekerja. Namun, setelah ia turun dari angkutan kota, siksaan di trotoar berjarak pendek itu membuatnya selalu merinding.

"Saingan saya di jarak 100 meter itu bukan hanya sesama pejalan kaki. Saya harus berebut trotoar dengan gerobak, tenda pedagang kaki lima, motor ojek yang mangkal, juga pengendara motor yang tergesa dan menerobos trotoar," ungkapnya, Minggu, 13 Januari 2019.

Banyak kalangan memanfaatkan trotoar Pondok Labu sepanjang hari. Selain Melia yang pekerja toko, ada mahasiswa, pedagang pasar, pelajar, dan para ibu rumah tangga. Mereka harus beraktivitas di sejumlah sekolah, pasar, dan toko yang ada di kawasan tersebut.

Karena itu, Melia berharap, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta ikut memikirkan keselamatan para pedestrian, pengguna trotoar. "Faktor keamanan juga penting bagi kami."

Dalam beberapa tahun terakhir, wajah trotoar di Ibu Kota memang terus dibenahi. Di sekitar Stadion Utama Senayan, trotoar di Jalan Sudirman-Jalan Thamrin dan Jalan KH Wahid Hasyim sangat nyaman, hijau, dan manusiawi.

Warga yang beraktivitas di pusat kota itu dimanjakan dengan trotoar yang lebar, selalu bersih dan terawat. Keberadaan pedagang kaki lima pun minim karena senantiasa dihalau petugas Satpol Pamong Praja.

Berbagai fasilitas dibangun Dinas Bina Marga DKI Jakarta. Dari pagar pembatas agar kendaraan roda dua tidak bisa naik hingga konblok khusus pemandu bagi tunanetra.

Tahun lalu, Pemprov DKI menggulirkan dana sekurangnya Rp387 miliar untuk mempercantik trotoar sepanjang 80 kilometer. Selain Sudirman-Thamrin, dan KH Wahid Hasyim, revitalisasi digelar di kawasan Velodrome, Rawamangun, Jakarta Timur; Daan Mogok, Jakarta Barat, dan Sisingamangaraja hingga Fatmawati, Jakarta Selatan. Penataan trotoar juga dilakukan suku dinas yang ada di lima kota administratif.

Tahun ini, pemprov kembali melirik revitalisasi trotoar. Panjangnya ditargetkan sama dengan tahun lalu, 80 km.

Meski disebut-sebut masuk program revitalisasi trotoar 2018, trotoar Jalan Fatmawati, di paling ujung dekat Pasar Pondok Labu, tidak bisa disebut baik. Lebar trotoar tidak lebih dari 1 meter dan tidak dilengkapi dengan konblok pemandu tunanetra.

Meski keadaan trotoar cukup baik dan tidak ada yang berlubang, ketinggiannya sudah hampir sama dengan ketinggalan aspal jalan sehingga tidak layak. Jangan diharapkan ada tiang pembatas untuk menghalau kendaraan roda dua. Alhasil bukan hanya kendaraan roda dua yang bebas naik trotoar, melainkan juga gerobak-gerobak PKL.

"Di satu sisi, kami memang butuh PKL karena menyediakan jajanan murah dan mudah dijangkau bagi mahasiswa. Tapi, saat musim hujan, jalan tergenang sehingga pejalan kaki menjadi yang menderita. Jalan tergenang air harus kami lewati karena trotoar ditutupi PKL," ungkap Sari, 20, mahasiswi. (Put/J-3)


(YDH)