Warganet Ramai-ramai Menolak KRL Premium

Wandi Yusuf    •    Jumat, 21 Dec 2018 11:29 WIB
krlpenumpang krl
Warganet Ramai-ramai Menolak KRL Premium
Ilustrasi penumpang KRL. Foto: MI/Susanto

Jakarta: Rencana PT Kereta Commuter Indonesia (KCI) meluncurkan Kereta Rel Listrik (KRL) Premium pada pertengahan 2019 banyak ditentang penumpang kereta. Suara itu setidaknya keras menggaung di grup Twitter Anak Kereta (@AnkerTwiter).

Pangkal dari penolakan sebagian besar karena fasilitas KRL masih belum maksimal. Masih banyak terdapat gangguan. Terpenting, masih kurangnya frekuensi keberangkatan KRL. 

"Gampangnya gini, misalnya sekarang frekuensi keberangkatan KRL di satu stasiun katakanlah 12 kereta per jam. Kalau dari 12 kereta itu katakanlah empat dikonversi jadi KRL premium, artinya tinggal delapan jadwal KRL reguler. Artinya penumpang bakal makin padat dan lama nunggu," demikian cuitan @AnkerTwitter, Jumat, 21 Desember 2018 pukul 10.50 WIB.




Gangguan teknis juga menjadi alasan yang dikedepankan para pemrotes KRL Premium. Tak jarang gangguan teknis membuat waktu tiba menjadi molor. 

"Sistem perweselan dan KRL sendiri terkadang mengalami kendala. Artinya, ketika ada gangguan, terutama gangguan persinyalan dan rel, baik KRL Premium, KRL Reguler, KAJJ (kereta api jarak jauh), semuanya kena dampak," tulis @AnkerTwitter.




Akun @nephilaxmus langsung mengadakan survei begitu PT KCI mengumumkan akan meluncurkan KRL Premium. Hasilnya, banyak yang menolak. Dalam kurun 21 jam survei digelontorkan, sebanyak 82 persen dari 1.279 voters menolak pemberlakuan KRL ini. Sebanyak 13 persen setuju dan 5 persen abstain.

Berkaca pada Kereta Bandara

Imam Wiratmadja melalui akun @Outstandjing meminta KRL berkaca pada pemberlakuan Kereta Bandara yang menurutnya tak efektif. "Jangan diulangi kesalahan membuat Kereta Bandara yang sepi. Padahal tinggal sambungin Stasiun Batuceper dengan CGK (Bandara Soekarno-Hatta). Ini malah bikin @RailinkARS sok-sok eksklusif."




Protes lebih serius dilayangkan komunitas yang menamakan Penumpang Setia Kereta Komuter Jakarta kepada Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi. Melalui situs jakartabytrain.com, mereka mempertanyakan tiga hal melalui surat terbuka. 

"Pertama, apakah usulan ini telah dilakukan diskusi dengan perencanaan matang dengan semua stakeholder terkait? Ingatkah bahwa pemerintah telah menugaskan PT KCI untuk mengejar pertumbuhan penumpang sampai dengan 1,2 juta per hari. Tidakkah ini akan menghalangi target pertumbuhan dari pemerintah yang telah dibebankan pada PT KCI," tulis surat itu.

Protes di poin pertama ini merujuk pada pengoperasian Kereta Bandara yang jauh dari efektif. Hingga kini, Kereta Bandara yang diperuntukan agar mengurai kemacetan ke arah bandara, masih belum terlihat. "Justru terancam mengalami kerugian."

Ada diskriminasi penumpang

Alasan kedua, surat elektronik itu mempertanyakan bagaimana cara perusahaan dapat membedakan penumpang kelas premium dan nonpremium. "Apakah akan ada pemberlakuan seperti jadwal masuk ke peron seperti yang ada di stasiun BNI City? Dengan jumlah kepadatan penumpang yang terjadi sekarang, rasanya sulit membuat perbedaan penumpang kelas dompet tebal dengan penumpang kelas dompet tipis."

Ketiga, mereka juga meminta kejelasan jadwal perjalanan kereta. "Pengoperasian Kereta Bandara telah berdampak pada pengurangan jadwal perjalanan kereta komuter. Tidakkah ini menjadi bahan evaluasi bagi pemerintah?"

Baca: KCI Bakal Luncurkan Kereta Premium Pertengahan 2019

PT Kereta Commuter Indonesia (KCI) akan mengeluarkan layanan terbaru kereta dengan kelas atas. PT KCI menyebutnya Kereta Listrik Luar Biasa (KLB) atau KRL premium.

Direktur Operasi dan Pemasaran PT KCI Subakir mengatakan KRL Premium menggunakan kereta yang ada saat ini. Yang membedakan, pelayanan dan fasilitasnya.

"Kapasitas angkutan juga enggak sumpek-sumpekan. Masih kita toleransi berdiri, tapi tidak terlalu banyak. Jadi, 100 persen duduk dan 25 persen berdiri," ujar Subakir di Kawasan Cikini, Jakarta Pusat, Kamis, 20 Desember 2018.





(UWA)