Senior SMAN 7 Bogor Diduga Menyiksa dan Mencekoki Miras Junior

Dede Susianti    •    Kamis, 14 Sep 2017 21:24 WIB
penganiayaan
Senior SMAN 7 Bogor Diduga Menyiksa dan Mencekoki Miras Junior
Ilustrasi/Metrotvnews.com-M Rizal

Metrotvnews.com, Bogor: Citra Kota Bogor, Jawa Barat, sebagai kota layak dan ramah anak tercoreng. Ini disebabkan heboh kasus perundungan yang menimpa seorang siswa SMAN 7 Bogor.

Kasus perundungan diduga melibatkan siswa baru dengan kakak kelasnya (senior). Peristiwa itu terungkap setelah ayah korban mem-posting tulisan pengalaman anaknya di laman jejaring sosial Facebook.

Saeful Anam yang memakai akun Samidi menceritakan mengenai kejadian yang baru saja menimpa anaknya, L. Kejadian berlangsung pada Senin 11 September. Saat itu L pulang sekitar pukul 22.00 WIB.

Kepada orangtua, L menceritakan bahwa dirinya bersama beberapa teman yang masih duduk di kelas 1 dipaksa kakak kelasnya (kelas 3) untuk meminum minuman keras. Selain itu, mereka juga ditendang dan dipukul.

Perundungan dilakukan sekitar 20 orang. Beberapa di antaranya memegang senjata tajam.

Saat dikonfirmasi Media Indonesia pada Kamis sore 14 September 2017, Saeful Anam membenarkan kejadian yang dia tulis di Facebook. Menurutnya, itu sebagai tumpahan kekecewaan. Dia mengaku tidak terima anaknya diperlakukan seperti itu.

"Saya menjaga anak saya sedemikian rupa agar terhindar dari minuman keras dan narkoba. Sungguh tidak terima anak saya diperlakukan seperti itu. Kemarahan saya sudah sudah di ubun-ubun. Orang lain seenaknya merusak anak saya," kata Saeful.

Kronologi kejadian

Kejadian bermula sekitar pukul 21.00 WIB, Senin 11 September. Saat itu, anaknya belum juga pulang. Padahal, pukul 17.00 WIB biasanya sudah tiba di rumah.

Karena khawatir, dia pun langsung menelepon. Tapi, suara L terdengar seperti orang ketakutan. Sesampainya di rumah, L mengadu telah dipaksa meminum miras. Dia juga mengaku dipukuli dan ditendangi oleh seniornya.

L disebut sempat dicegat seniornya dan dibawa ke Taman Palupuh yang berlokasi di belakang SMAN 7.

Selain L, ada 12 siswa lain yang dirundung. Sebelas di antaranya berhasil melarikan diri.

Saeful sengaja menceritakan pengalaman anaknya ke media sosial. Alasannya, agar tak terjadi kepada anak lain.

"Saya akan meng-kasus-kan hal ini. Dua puluh anak yang melakukan perbuatan jahat itu harus dikeluarkan dari sekolah. Dan kalau sekolah tak berani melakukan itu, saya akan berusaha agar SMAN 7 dibubarkan saja," tulisnya di Facebook.

"Saya pikir hanya kenakalan ala anak-anak, tawuran dan sejenisnya. Kalau tawuran, saya masih mentolerir. Bahkan ketika anak saya bilang bahwa dia dimintai uang setoran tiap bulan oleh "suatu mafia" (geng di sekolah itu), saya biarkan. Biar anak saya mengatasinya sendiri."

"Namun, kalau sudah ada paksaan untuk minum, dipaksa minum di bawah ancaman, saya anggap sebagai tindakan kekerasan, suatu kejahatan. Berarti saya sedang berurusan dengan penjahat, bukan lagi berurusan dengan anak-anak nakal. Ini sudah menjadi sebentuk mafia. Sekolah tidak boleh tunduk atau takut dengan ancaman mafia itu. Ini harus diatasi. Harus dibuat jera."

Selang dua hari dari kejadian, dia baru melaporkan kejadian tersebut ke kepolisian. "Ini saya sedang di jalan. Saya mau ke Polresta Bogor Kota di Kedung Halang. Saya mau laporkan," katanya saat dihubungi Media Indonesia.

Jawaban pihak sekolah

Humas SMAN 7 Agus Setiadi membenarkan adanya laporan itu. "Sebelum orang tuanya datang ke sekolah, kami sudah mengetahuinya. Melihat di medsos. Kepsek pun langsung mengundang orang tua. Kami akan mengkroscek dulu," kata Agus.

Dia mengatakan kejadian ini tak lantas mengganggu aktivitas belajar-mengajar. Semuanya tetap berjalan normal. Bahkan, menurutnya, empat korban yang disebutkan tetap masuk sekolah. "Hanya L saja yang tidak masuk dengan alasan masih trauma," katanya.


(UWA)

KPK Optimis Menang di Praperadilan Setya Novanto

KPK Optimis Menang di Praperadilan Setya Novanto

2 hours Ago

KPK optimis memenangkan gugatan praperadilan tersangka korupsi ktp-el Setya Novanto. KPK akan m…

BERITA LAINNYA