Urbanisasi yang tak Kunjung Usai

Media Indonesia    •    Minggu, 02 Jul 2017 10:04 WIB
pembangunanperekonomianurbanisasi
Urbanisasi yang tak Kunjung Usai
Pemandangan deretan gedung-gedung pencakar langit di Jakarta, Selasa (31/3). ANT/Vitalis Yogi.

Metrotvnews.com, Jakarta: Siang itu di kawasan Lebak Bulus, Jakarta Selatan, tampak pemuda yang baru turun dari bus yang membawanya dari Yogyakarta ke Ibu Kota. Sang pemuda datang dengan tujuan jelas, ingin mengubah nasib menjadi lebih baik.

"Iya saya datang dari Yogyakarta untuk bekerja di sini. Alhamdulillah saya sudah dapat pekerjaan di tempat percetakan di BSD," ungkap pemuda bernama Romi, 25, kepada Media Indonesia, Jumat (30/6).

Romi akan tinggal di rumah saudaranya selama mengadu nasib di Ibu Kota. Ia mengaku senang dengan pekerjaan baru ini karena pendapatan yang lebih besar dibandingkan pekerjaan lama di kampung halaman.

Hal senada juga diungkapkan Jay, 22, yang baru menginjakkan kaki di Jakarta. Pria asal Blora ini ingin mencari pekerjaan dengan gaji yang lebih baik.

"Datang untuk mengubah nasib," kata Jay yang menyandang gelar sarjana pendidikan bahasa Inggris.

Jay sadar kehidupan di Ibu Kota keras. Tapi, berdiam di desa bukan pilihan bijak. Jay menilai, kesempatan untuk mendapatkan pekerjaan di desa lebih kecil ketimbang Ibu Kota.

"Minim lapangan pekerjaan, banyak juga yang merantau," kata dia.

Fenomena urbanisasi yang terjadi setiap tahun tersebut cenderung meningkat pascamudik Lebaran. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta pun sudah melakukan upaya untuk mendata para pendatang yang biasanya berdatangan pasca-Idul Fitri, salah satunya dengan melakukan pendataan jumlah penduduk yang pergi mudik.

Menurut Kepala Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Provinsi DKI Jakarta, Edison Sianturi, tahapan kegiatan Pemda DKI untuk membendung arus urbanisasi ialah dengan melakukan pendataan arus mudik. Mereka sudah mengetahui pendataan dari angkutan Lebaran, termasuk sepeda motor, Jasa Marga, dan nontol.

"Penduduk yang mudik berdasarkan pendataan yang kita lakukan dengan kemungkinan eror 5%, pemudik dari Jakarta itu jumlahnya 5.921.633 orang," jelas Edison Sianturi saat dihubungi Media Indonesia, Jumat (30/6).

Pendataan arus balik baru dilakukan mulai 29 Juni sampai H+10 Lebaran, disesuaikan dengan Posko Mudik Kementerian Perhubungan.

"Perkiraan kita (jumlah pendatang) tidak jauh dari tahun kemarin (68.500 pendatang). Tahun ini antara jumlah itu dan 70 ribu, tapi itu yang didata sampai H+10. Kita akan terus pantau sampai 1 bulan setelah hari raya," jelas Edison.


(DRI)