Polisi Periksa Pelapor Bahar Smith

Siti Yona Hukmana    •    Jumat, 30 Nov 2018 16:14 WIB
ujaran kebencian
Polisi Periksa Pelapor Bahar Smith
Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya, Kombes Argo Yuwono. Foto: Medcom.id/Fachri.

Jakarta: Penyidik Direktorat Reserse Kriminal Umum (Ditreskrimum) Polda Metro Jaya memeriksa Ketua Umum Cyber Indonesia Muannas Alaidid. Dia diperiksa sebagai pelapor terkait ujaran kebencian atau hate speech terhadap Presiden Joko Widodo oleh Bahar Bin Smith.
 
"Pak Muannas kita mintai klarifikasi, artinya bahwa yang bersangkutan membuat laporan lalu kita klarifikasi," kata Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Argo Yuwono di Jakarta Selatan, Jumat, 30 November 2018.
 
Setelah memeriksa Muannas, kata Argo, pihaknya akan memeriksa saksi-saksi. Setelah seluruh keterangan dikumpulkan, polisi akan melakukan gelar perkara.
 
"Apakah kasus ini bisa ke penyidikan atau tidak. Kalau misalnya memenuhi unsur pidana kita naikkan ke penyidikan, tapi kalau misal tidak memenuhi unsur kita hentikan penyelidikan tersebut," imbuh dia.
 
Polisi akan memeriksa Bahar Smith setelah pemeriksaan pelapor dan saksi selesai. "Nanti, bertahap," ujar dia.
 
Muannas melaporkan Bahar ke Polda Metro Jaya karena isi ceramahnya dinilai menghina dan merendahkan kepala negara. Bahkan, secara tegas ia meminta polisi mengusut materi ceramah tersebut.
 
"Polisi harus berani proses hukum, polisi jangan gentar. Saya yakin masyarakat tidak mendukung praktek-praktek kebencian seperti ini, termasuk pendukung Pak Prabowo juga saya yakin tidak membenarkan caci maki dan sumpah serapah seperti itu," sebutnya.

Baca: Moeldoko Kecam Pernyataan Bahar Smith

Dia memastikan, apa yang disampaikan Bahar sangat meresahkan dan tidak mengandung unsur kritikan, sebaliknya hal itu dapat memecah belah umat.
 
"Ini bukan kritik atau ceramah yang beradab, jika mau protes silakan. Tetapi jangan melecehkan seperti itu. Tidak pantas juga orang yang disebut habib dan ulama berkata kasar penuh kebencian seperti itu," pungkas Muannas.
 
Laporan Habib Bahar Smith diterima dengan nomor laporan polisi TBL/6519/XI:2018/PMJ/Ditreskrimsus, 28 November 2018 sesuai pasal 28 ayat (2) Jo. Pasal 45 A ayat 2 UU RI No.19 Tahun 2018 Tentang Perubahan atas UU No. 11 Tahun 2008 Tentang ITE dan Pasal 4 huruf b angka 2 Jo. Pasal 16 UU RI No. 40 Tahun 2008 tentang Penghapusan Diskriminasi Ras dan Ernis dan Pasal 207 KUHP dengan ancaman pidana lebih dari 5 tahun penjara.
 
Bahar juga punya catatan hitam di kepolisian, dia pernah jadi tersangka dan ditahan karena ulahnya memimpin aksi sweeping di Kafe de Most, Bintaro, Jakarta, pada 2012.


(FZN)