Dinas Kesehatan Menyerahkan Surat Teguran ke RS Mitra Keluarga

Lis Pratiwi    •    Jumat, 15 Sep 2017 12:30 WIB
fasilitas kesehatan
Dinas Kesehatan Menyerahkan Surat Teguran ke RS Mitra Keluarga
Penyerahan surat teguran untuk RS Mitra Keluarga/MTVN/Lis Pratiwi

Metrotvnews.com, Jakarta: Dinas Kesehatan DKI Jakarta memberikan surat teguran kepada Rumah Sakit Mitra Keluarga terkait kasus meninggalnya bayi Tiara Debora. Surat diserahkan langsung Kepala Dinkes DKI Koesmedi Priharto kepada Direktur RS Mitra Keluarga, drg. Francisca Dewi P.

"Hari ini saya menyerahkan surat teguran kepada RS Mitra Keluarga sesuai dengan yang dianjurkan oleh Kementerian Kesehatan," kata Koesmedi usai pertemuan antara Dinas Kesehatan DKI Jakarta dengan direktur RS se-Jakarta di auditorium Dinas Kesehatan DKI Jakarta, Petojo, Gambir, Jakarta Pusat, Jumat 15 September 2017.

Koesmedi menuturkan, terdapat empat tahapan sanksi yang seharusnya diberikan terhadap rumah sakit bermasalah. Di antaranya teguran lisan, teguran tertulis, denda, hingga pencabutan izin operasional.

Menurut Kosmedi, teguran untuk RS Mitra Keluarga merupakan teguran tertulis. Dinas Kesehatan tidak memberi teguran lisan karena pihak rumah sakit telah memiliki perjanjian dengan dirinya.

"Setelah menemukan kasus itu, ada perjanjian kalau RS Mitra Keluarga harus melayani lebih baik, tidak boleh tarik uang muka. Kalau mengulang mereka bersedia izinnya dicabut," tutur Koesmedi.

Isi surat teguran itu berupa aturan-turan kegawatdaruratan dan pelarangan menarik uang muka pada pasien kritis. Koesmedi menjelaskan, aturan berbetuk surat edaran ini juga diberikan kepada rumah sakit lain di seluruh Jakarta dalam pertemuan hari ini.

Selain memberi surat teguran, Dinas Kesehatan DKI Jakarta juga membentuk tim investigasi untuk melakukan audit medik terhadap RS Mitra Keluarga. "Hari ini tim kami akan mencari medical record di rumah sakit dan akan diolah oleh tim investigasi."

Tiara Debora meninggal di Rumah Sakit Mitra Keluarga, Kalideres, Jakarta Barat, Minggu, 3 September 2017. Bayi berusia empat bulan tersebut diduga terlambat mendapat penanganan karena rumah sakit meminta uang muka masuk PICU Rp19.800.000.


(OJE)