BPOM Bantah Kecolongan Kasus PCC di Kendari

Arga sumantri    •    Jumat, 15 Sep 2017 16:53 WIB
obat berbahaya
BPOM Bantah Kecolongan Kasus PCC di Kendari
Ilustrasi/MTVN

Metrotvnews.com, Jakarta: Badan Pengawas Obat Makanan (BPOM) menampik kecolongan dalam kasus penyalahgunaan obat di Kendari, Sulawesi Tenggara. Pola edar obat yang membuat semaput puluhan remaja itu dinilai mirip peredaran narkoba.

"Kami BPOM tidak kecolongan, karena yang di Kendari itu produk rumahan, bukan yang beredar di toko biasa," tegas Direktur Bidang Pengawasan Distribusi Obat BPOM Hans G. Kakerissa kepada Metrotvnews.com, Jumat 15 September 2017.

Direktur Pengawasan Narkotika, Psikotropika, dan Zat Adiktif BPOM, Rita Endang juga menyampaikan hal senada. Ia menegaskan Paracetamol Cafein Carisoprodol (PCC) yang ada di Kendari adalah obat ilegal. Obat jenis itu sudah tidak terdaftar dalam obat yang direkomendasikan BPOM.

"Ini tanggung jawab bersama, BPOM, Polri, dan BNN mengawasi juga. Ini persoalan koordinasi harus lebih intensif lagi," ungkap Rita kepada Metrotvnews.com.

Rita menjelaskan, PCC sudah tidak punya izin edar. Bahkan, zat Carisoprodol yang terkandung dalam PCC juga sudah dicabut izin edarnya sejak 2013. "Bahan bakunya sudah tidak terdaftar resmi di Indonesia."

Rita mengklaim, BPOM sudah melakukan pengawasan komperhensif soal peredaran obat dari hulu ke hilir. Pengawasan dilakukan mulai sarana produksi, sarana ditribusi, sampai pelayanan di apotek, rumah sakit, maupun toko obat.

Sebelumnya, anggota Komisi IX DPR Okky Asokawati prihatin atas jatuhnya puluhan korban bahkan beberapa meninggal akibat mengonsumsi paracetamol caffein carisprondol (PCC). Okky menyebut hal itu terjadi lantaran lemahnya pengawasan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).

"Dalam kasus ini tampak sekali mandulnya peran BPOM dalam mengawasi peredaran obat-obatan di tengah masyarakat," tegas Okky melalui keterangan tertulis, Jumat 15 September 2017.


(OJE)