Fokus

Adulyadej dan Masa Depan Thailand

Sobih AW Adnan    •    Jumat, 14 Oct 2016 19:05 WIB
raja thailand
Adulyadej dan Masa Depan Thailand
A mourner clutches a picture of Thai King Bhumibol Adulyadej after the hearse carrying the body of the late monarch passes the Grand Palace in Bangkok on October 14, 2016. (AFP/LILLIAN SUWANRUMPHA)

Metrotvnews.com, Jakarta: Hampir seabad Adulyadej didaulat sebagai raja, meski sebenarnya ia tidak hidup di negeri yang tanpa konflik. Thailand memiliki lika-liku perjalanan politik yang curam. Sejak 1940-an, sebanyak 17 percobaan kudeta terjadi di kalangan pemerintahan dan militer. Bahkan, 21 perdana menteri di negeri Gajah Putih itu tak ada yang mampu menjabat lebih dari empat tahun saja.

Sebagai raja, Adulyadej selaiknya tidak bersentuhan dengan hiruk pikuk dunia perpolitikan. Namun atas dalih kepentingan rakyat, raja penggemar musik jazz dan fotografi ini beberapa kali turut melerai konflik dengan gayanya yang tenang. Adulyadej hadir di tengah hati rakyat Thailand sebagai penyudah pertikaian.

"Raja Bhumibol memiliki wewenang hukum yang kurang kuat, tapi dihormati dan tampaknya memegang kekuasaan moral yang besar. Ketika sebuah kebuntuan politik menyebabkan penggulingan kekuasaan oleh militer pada September 2006, sang raja memperhalus transisi pemerintah dengan tampil di televisi di samping pemimpin pemberontakan itu, komandan militer Sonthi Boonyaratglin," tulis Alan Greenspan, The Age of Turbulence: Adventures in a New World.



Di periode-periode sebelumnya, Bumibhol juga pernah meminta Marsekal Thanom Kittikachorn mundur dari rezim militer dan membentuk pemerintahan demokrasi pada 1973. Hal yang sama terjadi pada 1991, Adulyadej mendesak rezim militer pimpinan Jenderal Suchinda Kraprayoon mengadakan pemilu setelah terjadi kudeta.

Peran penting sang raja

Memasuki usia senja, Adulyadej dikabarkan menderita segala penyakit infeksi, kesulitan bernapas, gagal ginjal, dan hydrocephalus. Rakyat Thailand kerap menggelar upacara doa demi kesehatan sang raja. Termasuk pekan lalu, sebagaimana dilansir AFP, warga Thailand ramai-ramai megenakan pakaian berwarna merah muda dengan harapan mampu membawa keberuntungan bagi Adulyadej.



Kecintaan rakyat Thaland kepada Adulyadej berpuncak pada hari duka Kamis, 13 Oktober kemarin. Berita kepergian Bumibhol bahkan berdampak pada kegelisahan dunia bisnis. Bursa utama anjlok 6,8% sejak Rabu siang. Nilai tukar mata uang baht mencapai titik terendah selama tiga tahun terakhir dengan nilai jual 35,90.

Kematian Adulyadej tak hanya meninggalkan pekerjaan rumah bagi para pencintanya. Di kalangan militer Thailand, tumbuh juga rasa kekhawatiran tentang kemampuan pengganti Bumibhol yang mesti selues mendiang dalam meredam segala permasalahan. Rezim militer yang bertahan sejak 2014 itu pun mulai sibuk menjaga stabilitas politik yang kembali bergejolak sejak kesehatan Adulyadej diberitakan terus menurun.

Peran penting Adulyadej di Thailand juga diakui para pemimpin dunia. Sekretaris Jenderal Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) Ban Ki-moon menyebut Adulyadej sebagai pemimpin nasional dengan penuh semangat persatuan. Ia, menurut Ban, memiliki komitmen terhadap nilai-nilai universal.
 
"Thailand akan terus menghormati warisan Raja Bhumibol," kata juru bicara PBB dalam sebuah pernyataan seperti dikutip The Star, Jumat (14/10/2016).

Sementara Presiden Amerika Serikat (AS) Barack Obama memandang Bumibhol sebagai pembela rakyat tak kenal lelah demi pembangunan Thailand. "Pengabdiannya yang tak kunjung padam untuk meningkatkan kehidupan rakyatnya," kata Obama.

Baca: Hormat dari Para Pemimpin Dunia untuk Raja Thailand Sang pengganti

Sebagaimana kelaziman tradisi negara monarki, tampuk kepemimpinan dijalankan secara estafet kepada keturunan terdekatnya. Maka, disebutlah Putra Mahkota Pangeran Maha Vajiralongkorn segera menduduki singgahsana menggantikan Bumibhol yang wafat di usia 88 tahun itu.

Vajiralongkorn didapuk sebagai putra mahkota kerajaan Thailand sejak 28 Desember 1972 silam. Meskipun begitu, gaung namanya tidak semegah sang ayahanda yang bahkan dianggap rakyatnya sebagai manusia setengah dewa.

Melampaui itu, nama pangeran kelahiran Bangkok, 28 Juli 1952 ini lebih lekat dengan kehidupannya yang penuh dengan ingar bingar kenikmatan duniawi. Bahkan, beberapa surat kabar luar negeri kerap menyebut pria yang kini berusia 64 tahun itu dalam isu-isu skandal yang bersifat pribadi. Oleh International Business Times misalnya, sepanjang 1977 hingga 2014 Vajiralongkorn tercatat telah menikah tiga kali yang melulu diakhiri dengan perceraian.

Meski oleh sebagian analis dianggap belum teruji, namun tak ada komentar lanjut terkait ramalan masa depan kerajaan Thailand di bawah kepemimpinan pangeran yang juga dikenal dekat dengan mantan Perdana Menteri Thaksin Shinawatra itu. Kabar kedekatan ini tentu bukan kabar baik bagi rezim militer yang telah melengserkan Thaksin pada September 2006 lalu, namun kekurangan Vajiralongkorn tak dapat dijadikan alat propaganda karena akan bersinggungan dengan Undang-Undang Antipenghasutan keluarga kerajaan yang dikenal tegas di negeri tersebut.

Baca: Maha Vajiralongkorn, Penerus Monarki Thailand 


(ADM)

Warga Jatinegara Beri Sumbangan Dana Kampanye untuk Agus

Warga Jatinegara Beri Sumbangan Dana Kampanye untuk Agus

12 hours Ago

Calon Gubernur DKI Jakarta Agus Yudhoyono mendapatkan sumbangan dari warga saat berkampanye di …

BERITA LAINNYA