FOKUS

Tamasya Demokrasi

Sobih AW Adnan    •    Selasa, 18 Apr 2017 22:52 WIB
pilgub dki 2017
Tamasya Demokrasi
Warga melintasi spanduk ajakan untuk menggunakan hak pilih pada Pilgub DKI Jakarta di Kawasan Cikini, Jakarta, Senin (17/4)/MI/Galih Pradipta

Metrotvnews.com, Jakarta: Santai aja, Bro. Tak akan ada apa-apa. Sebab, siapapun cinta Jakarta.
 
Betapa tidak, hajatan demokrasi sekelas pemilihan gubernur/wakil gubernur yang mestinya cuma jadi urusan orang-orang yang hidup, makan, dan tidur di dalam satu kota itu, ternyata bisa juga menyedot perhatian, emosi, bahkan reaksi nyaris dari seluruh rakyat Indonesia.
 
Ya, sepanjang proses Pilgub DKI Jakarta 2017 bergulir, semuanya merasa berkepentingan. Dengan beragam dalih dan pandangan, seluruhnya berbicara demi kebaikan dan masa depan Ibu Kota.
 
Pun dalam menyongsong hari pencoblosan putaran kedua pada Rabu, 19 April 2017 besok. Dikabarkan, ribuan orang dari berbagai daerah sudah berduyun-duyun menuju Jakarta. Mereka yang amat bangga tergabung dalam gerakan berjuluk Tamasya Al Maidah itu, akan dipencar menjadi 100 orang untuk satu tempat pemungutan suara (TPS). Tamasya Al Maidah, diklaim dilakukan demi terwujudnya proses pemungutan suara Pilgub DKI Jakarta yang jujur, adil, dan damai.
 
Perang urat saraf
 
Namun, benarkah pilkada yang ideal bisa dibangun dengan cara-cara seperti itu?  Pasalnya, banyak yang bilang, tujuan dan teknis Tamasya Al Maidah ini laksana jauh panggang dari api.
 
Misalnya, soal kapasitas dan kewenangan relawan. Selain bukan pemegang hak suara, bukankah sudah ada lembaga atau badan yang disepakati lebih sahih untuk melakukan pengawasan? Apakah Bawaslu, juga pihak keamanan tak layak dipasrahi kepercayaan?
 
Pada titik ini, boleh jadi, Tamasya Al Maidah justru berada di ruang yang bimbang. Bukan aspirasi politik, tidak juga dengan mudah ditimbang sebagai bentuk kepedulian. Apalagi, jika pihak kepolisian sendiri mewanti-wanti alangkah baiknya gerakan itu urung dilakukan. Tamasya Al Maidah justru dianggap berpotensi menimbulkan kericuhan.
 
Berikutnya adalah semangat yang diusung. Tamasya Al Maidah masih senuansa dengan rangkaian agenda sebelumnya. Aksi Bela Islam yang bergulir hingga enam jilid itu, mau tidak mau mengerucut pada pesan penolakan terhadap kepemimpinan seseorang berdasarkan perimbangan status yang bersinggungan dengan suku, ras, agama, dan antargolongan (SARA).
 
Jika memang begitu, selain jelas tidak sejalan dengan prinsip kebinekaan masyarakat Indonesia, terlebih di Jakarta, rasa-rasanya, dengan menimbang dua pasangan calon (paslon) yang bersaing di putaran kedua ini, meletup-letupkan isu SARA tampak jelas berdiri di area yang memihak dan tidak netral. Imbasnya, sangat mungkin Tamasya Al Maidah menjadi alat intimidasi bagi pemilih yang berbeda pandangan.
 
Anggapan itu boleh-boleh saja ada. Mengingat jika berdiri di satu pihak, maka Tamasya Al Maidah terkesan menjalankan misi sebagai salah satu alat dalam teori perang urat saraf.
 
Bagi para penggila sepakbola, mungkin tak begitu kaget dengan istilah ini. Lebih masyhur dan keren lagi jika diucap dalam istilah asingnya; psywar, kepanjangan dari psychological warfare. Biasanya, teknik ini dilakukan untuk membuyarkan atau memberi rasa gentar di kubu lawan.
 
Secara akademik, pengertian perang urat saraf pertama kali diungkap William E.Daugherty dan Morris Janowitz dalam A Psychological Warface Casebook (1958). Katanya, perang urat saraf ialah penggunaan secara berencana sebuah kegiatan untuk memengaruhi pendapat, emosi, sikap, dan perilaku lawan. Bahkan, bukan cuma musuh, pihak netral dan kelompok asing lainnya bisa terimbas.
 
Dalam konteks Tamasya Al Maidah, bukankah 100 orang mengerumuni satu TPS sudah begitu menggetarkan?
 
Tapi kiranya, bukan cuma soal jumlah yang memiliki kaitan kental dengan psywar. Konten Tamasya Al Maidah bisa dibilang telah memenuhi syarat lantaran mengusung persoalan dan isu agama.
 
Tak usah takut
 
Tak perlu dibantah memang. Tinggal besok, posisi itu ditunjukkan melalui sikap yang bersahabat. Pun masyarakat pemilih, jangan sampai keberadaan gerakan ini malah mengkerdilkan keberanian untuk menunaikan hak memberikan suara yang dijamin konstitusi. Kapolri bilang; aman, ada kami.


Kapolri Jenderal Tito Karnavian menunjukkan pin bertuliskan 'Tenang Ada Kami'. Foto: MTVN/Ilham Wivowo.
 
Relawan Tamasya Al Maidah harus benar-benar legawa, jika pada akhirnya, proses yang dikawalnya itu malah menelorkan hasil yang sebenarnya kurang 'diinginkan'. Selama aman, ketika damai, berarti Pilgub DKI Jakarta sudah berjalan sesuai harapan.
 
Sampai di titik ini, Tamasya Al Maidah sebenarnya jamak saja. Asal kegiatan itu tak mengganggu kelancaran pesta demokrasi.
 
Jika direngreng secara maknawi, bukankah Tamasya berarti senang-senang. Bersih dari tujuan yang justru membangun teror dan ketegangan.
 
Melalui Tamasya Al Maidah, banyak orang jadi tahu betul bagaimana sebuah proses demokrasi bisa berjalan.

Jauh-jauh para 'pelancong demokrasi' itu datang ke Jakarta. Mereka adalah orang-orang yang sejatinya harus disambut dan dihormati. Mengapa? Jarang ada orang yang sengaja meluangkan waktu demi bisa bersenang-senang menikmati pemandangan proses pemilihan; selayaknya berjalan-jalan di tengah wisata alam.
 
Jadi, selamat menikmati tamasya demokrasi.




(SBH)