Jelang Hari Santri Nasional 2017

Belajar dari Bupati yang Santri

Sobih AW Adnan    •    Jumat, 13 Oct 2017 19:58 WIB
hari santri nasionalpilgub jabar 2018
Belajar dari Bupati yang Santri
Bupati Tasikmalaya Uu Ruzhanul Ulum dan para santrinya di komplek Pondok Pesantren Miftahul Huda, Manonjaya, Tasikmalaya, Jawa Barat, Rabu (9/12)/ANTARA/Adeng Bustomi

Metrotvnews.com, Jakarta: Logat Sunda yang kental, berperawakan gagah, fasih bicara tentang Tasikmalaya. Uu Ruzhanul Ulum, kini banyak disorot lantaran disebut-sebut sebagai salah satu jagoan yang siap berlaga di Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur (Pilgub) Jawa Barat 2018.

Tapi, tak ada yang patut dibanggakan, kata Uu, selain pengalaman hidup selama di pesantren. Ia mendaku, apa yang didapatkan hari ini tak lepas dari jasa para ajengan saat dirinya menimba ilmu di "penjara suci".

Bupati Tasikmalaya itu mengawali tempaan agamanya secara langsung di bawah bimbingan keluarga. Siapa nyana, calon kuat pendamping Ridwan "Emil" Kamil ini, tak lain dan tak bukan, adalah cucu ulama kharismatik dari bumi Pasundan, Ajengan KH Choer Affandi, pendiri Pondok Pesantren Miftahul Huda Manonjaya, Tasikmalaya.

Incu kasih, ucap Uu semringah.

"Itu istilah Sunda untuk menyebut cucu kesayangan. Apa yang saya minta, lazim selalu kakek turuti," katanya kepada Metrotvnews.com, baru-baru ini.

Jangan minder

Nama Miftahul Huda, bukan cuma terkenal. Namun juga masuk dalam deretan pesantren dengan jaringan terluas di Indonesia.


Bupati Tasikmalaya, Jawa Barat, Uu Ruzhanul Ulum/MI/Adi Kristiadi

Lembaga pendidikan Islam tradisional itu, kini tercatat memiliki 1.500 cabang yang tersebar di segala penjuru Tanah Air. Sebagaimana yang diwasiatkan pendirinya, pesantren yang berdiri pada 7 Agustus 1967 itu masih kekeh mengedepankan ikhtiar membentuk santri yang ulama al amilin (ahli agama yang mampu mengamalkan ilmunya), imamal muttaqin (pemimpin masyarakat yang bertakwa), dan yang berikutnya insan yang muttaqin, alias kepribadian manusia yang mampu mempertahankan nilai-nilai spiritual.

Soal ini, Uu lebih kerap menekankan pesan kedua, yakni tentang perlunya pemimpin dengan karakter yang lekat dan patuh terhadap ajaran-ajaran agama. Pun sebaliknya, poin ini juga bisa menghadirkan semangat bagi para santri agar tidak pernah takut untuk turut berkompetisi di ragam jalur strategis yang ada di masyarakat.

"Jangan pernah minder jadi santri. Saya lahir dari keluarga pesantren, namun dengan tekad yang baik, akhirnya bisa berperan langsung dalam mengambil kebijakan yang baik untuk masyarakat," kata Uu.

Sebelum menerima amanah sebagai Bupati Tasikmalaya, Uu memang sudah malang melintang dalam wilayah perumus kebijakan daerah. Selama dua periode ia menduduki kursi Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) di kota yang sama.

Bagi Uu, santri merupakan generasi yang siap pakai. Dari sisi sosial kemasyarakatan, mereka sudah banyak dibekali pengalaman di pesantren yang relatif terdiri dari banyak karakter, bahkan latar belakang kebudayaan yang berbeda-beda.

"Itu makanya, satu amanat kakek ulah jadi pancir idup di pasantren. Pesantren tidak mendidik orang untuk menjadi pemecah belah. Sebaliknya, menempa santri menjadi pemersatu," jelas Uu.

Pesantren, juga membina para santrinya agar dekat dengan kearifan lokal. Agama dan budaya bisa menjadi harmonis, seiring sejalan.

Uu bilang, dari sekian banyak tradisi yang ada di pesantren, nyaris semuanya kental dengan budaya setempat. Termasuk, di pesantren-pesantren yang tumbuh dan berkembang di Tatar Sunda.

"Kecuali, dengan budaya-budaya yang memang khariqul adat, aneh, dan bertentangan dengan syariat," jelas dia.

Pesantren melatih santri agar terbiasa hidup dalam keberagaman. Sesuatu yang, kata Uu, diperlukan bagi para calon pemimpin bangsa sekaya Indonesia.




(SBH)

Bacakan Pledoi, Andi Narogong Minta Maaf

Bacakan Pledoi, Andi Narogong Minta Maaf

16 minutes Ago

Jakarta: Terdakwa korupsi pengadaan KTP elektronik tahun anggaran 2011-2013 Andi Narogong memba…

BERITA LAINNYA