Menteri Amran, Kotak Tisu, dan Pahitnya Cinta

M Rodhi Aulia    •    Minggu, 16 Oct 2016 11:15 WIB
mentan
Menteri Amran, Kotak Tisu, dan Pahitnya Cinta
Mentan Andi Amran Sulaiman/ANT/Puspa Perwitasari

"Aku lahir dalam keadaan miskin. Aku tidak ingin mati dalam keadaan miskin."

Metrotvnews.com, Makassar: Tekad memperbaiki taraf hidup Andi Amran Sulaiman bergejolak ketika merasakan pahitnya penolakan cinta. Amran, pria yang kini menjadi Menteri Pertanian tak begitu saja meraih keberhasilannya.

Terlahir dalam keluarga miskin ternyata berimbas pada kepahitan lain. Amran muda, sebagai manusia memiliki keinginan untuk mencinta dan dicintai. Sayangnya, keinginan itu harus dia kubur dalam-dalam karena berkali-kali ditolak.

"Tahu? Dulu saya jual beras, jual batu. Setiap aku jatuh cinta, ditolak. Di asrama, tiga kali ditolak," kisah Amran dalam orasi di Universitas Islam Makassar, Sabtu, 15 Oktober 2016.

Amran berbadan kurus dan berambut gondrong ketika remaja. Penampakannya tak seperti bayangan ideal orang tua perempuan yang ingin ia pacari.

Amran mengaku sempat mendatangi rumah orang tua salah satu perempuan yang ia suka. "Dia tolak saya. Tapi (sebenarnya) dia berkontribusi dalam kehidupan saya. Dia memberikan spirit bagi saya. Ya Allah, berikanlah aku kekuatan. Aku lahir dalam keadaan miskin, saya tidak ingin mati dalam keadaan miskin," ujar dia.


Amran memanen bawang di Brebes, Jawa Tengah, Jumat 12 Juni 2015/ANT/Oky Lukmansyah

Pada rentang waktu berikutnya, Amran bertemu dengan salah seorang perempuan yang sempat ia sukai itu. Saat itu, Amran sudah sukses.

"Ini kisah nyata. Dia datang, dia ada masalah. Dia mau ke Australia. Aku dengar, dia sulit. Saya bawakan seperti ini, tempat tisu. Ini kue buat di jalan. Dia mendarat di Bali, transit. Dia lapar mau makan kue itu. Ternyata, uang semua isinya. Dolar," jelas Amran.

Amran menuturkan, perempuan itu kaget, karena tidak menyangka kotak yang disebut berisi kue ternyata penuh dolar. Perempuan itu kemudian menelepon Amran sambil menangis haru.


Menteri Amran berorasi di hadapan mahasiswa Universitas Islam Makassar, Sabtu 15 Oktober 2016/MTVN/M Rodhi Aulia

Kemudian, dalam kesempatan terpisah, ibu perempuan itu mempertanyakan sumber uang. Sebab, jumlahnya relatif di luar kelaziman. Amran mengatakan, ia menjelaskan sembari mengingatkan sang ibu cerita pahit di masa lalu.

"Bu, ingat saya yang ditolak dulu. Datang ke rumah pakai sendal jepit dan naik becak. Saya yang kasih uang, yang dulu ibu usir. Tapi, enggak apa-apa bu. Ibu berkontribusi bagi hidup saya. Ibu melatih saya. Andaikan aku diterima, mungkin kerjaanku pacaran. Dulu, aku jelek, gondrong, kurus. Bisa dibayangkan?" ujar dia.


Menteri Amran mengecek kualitas tebu di Lampung, 11 November 2015/MTVN/Githa Farahdina

Amran mengisahkan ini sebagai motivasi agar mahasiswa mulai mandiri dengan melakukan hal apapun yang halal. Tidak perlu malu, meski pekerjaan itu dianggap hina.

Penolakan dan cerita pahit soal cinta menjadi salah satu faktor utama keberhasilan Amran. Sukses, tak melulu mulus jalannya.

"Saran saya khusus laki-laki, perempuan boleh ikut. Mulai hari ini, jangan minta SPP kepada orang tua. Kamu cari, pasti bisa. Kamu jual kangkung, jual ikan. Ingat, jangan minta SPP ke orang tua. Kalau kamu laki-laki, masih minta, ganti celanamu dengan rok," ucap dia.


(OJE)