Obat PCC yang Beredar Diduga Produksi Rumahan

   •    Jumat, 15 Sep 2017 11:30 WIB
obat berbahaya
Obat PCC yang Beredar Diduga Produksi Rumahan
Ilustrasi obat. (Foto: Men's Health)

Metrotvnews.com, Jakarta: Sebelum ramai obat PCC yang menyebabkan puluhan anak dirawat di Rumah Sakit Jiwa Kendari akibat mengalami gangguan mental, publik lebih dulu mengenal somadril. Obat ini memiliki kandungan sama dengan PCC yang peredarannya dihentikan pada 2012 silam.

"Kalau somadril itu buatan pabrik. Ada salah satu pabrik yang sebelum 2012 membuat obat ini dengan komposisi yang sama dengan obat PCC dan ditarik pada 2012-2013," ungkap Kepala Rehabilitasi Badan Narkotika Nasional (BNN) Iman Firmansyah, dalam Metro Pagi Primetime, Jumat 15 September 2017.

Menurut Iman, obat jenis apapun umumnya diproduksi oleh pabrik. Cirinya, tekstur obat lebih keras dan tidak mudah hancur. Berbeda dengan obat PCC yang belakangan beredar, teksturnya rapuh dan lebih mudah hancur.

Iman pun menduga, obat yang mengandung parasetamol, caffein, dan carisoprodol itu diproduksi secara rumahan dan bebas diedarkan dengan harga yang tak terlalu mahal.

"Saya sempat bicara dengan Kepala BNN Kendari bahwa sangat berbeda (dengan produksi pabrik) karena mudah hancur. Yang jadi ketakutan adalah ada kandungan lain di dalamnya dan dosisnya berbeda," kata Iman.

Baca juga: Obat PCC Awalnya Legal

Iman mencontohkan, untuk satu tablet somadril yang diproduksi oleh pabrik obat mengandung carisoprodol sekitar 200 miligram, kafein 32 miligram dan paracetamol 190 miligram. Sementara untuk industri rumahan, bisa dipastikan bahwa kandungan di dalamnya tidak akan diukur.

"Makanya sekarang dalam pemeriksaan di laboratoroiun apakah ada kandungan lain yang mengandung zat-zat berbahaya lain," ungkapnya.

Sementara itu, bagi mereka yang sudah terlanjur mengonsumsi PCC dan mengalami gangguan setelahnya, BNN akan mengambil langkah farmakoterapi dan psikoterapi terhadap para korban.

Baca juga: BPOM: Pil PCC Mengandung Karisoprodol yang Izin Edarnya Ditarik 2013

Terapi-terapi ini untuk menghilangkan symptoms atau gejala suatu penyakit atau trauma yang dialami atau dirasakan seseorang. Misalnya menghilangkan rasa sakit di tubuh atau gejala lain yang menyertai akibat menghentikan konsumsi obat.

Setelah melewati masa ini, akan dilanjutkan dengan konseling psikoterapi yang disesuaikan dengan masalah penggunaan obat oleh masing-masing orang.

"Tapi yang pertama memang emergencynya terlebih dulu sebelum dua itu. Adanya kegawatdaruratan seperti henti napas, karena obat ini pun efeknya bisa henti napas karena dia melakukan sedasi sampai efek jauhnya itu. Mungkin itu yang menyebabkan korban meninggal," jelasnya.




(MEL)