FOKUS

Siapa Indonesia?

Sobih AW Adnan    •    Rabu, 17 May 2017 21:49 WIB
nkri
Siapa Indonesia?
Bendera merah putih raksasa dibentangkan di Kawasan Gunung Bromo, Probolinggo, Jawa Timur, Rabu (17/8)/ANTARA FOTO/Zabur Karuru

Metrotvnews.com, Jakarta: Penemuan Pithecanthropus Erectus oleh Eugene Dubois, tampaknya tak memberi jawaban banyak ihwal asal-usul penduduk asli di bumi Nusantara.
 
Ia; bagian ras manusia paling awal, atau sekadar dari kelompok kera pun masih amat ragu, bahkan kabur. Sejak 1890 itu, diskusi-diskusi antar-antropolog tentangnya tak juga mendapat titik terang.
 
Nyaris separuh abad kemudian, dua antropolog Belanda bernama Oppenorth dan Von Koenigswald juga menemukan fosil sisa jenis manusia purba di sekitaran Surakarta, Jawa Tengah. Temuan yang tak kalah hebat karena diduga berasal Pleistosen awal atau tengah.
 
Hasil pencarian dalam rentang 1931-1941 itu memang menarik bagi dunia antropologi dan biologi pada umumnya, tapi lagi-lagi, tidak bagi sejarah Indonesia.
 
Bernard Hubertus Maria Vlekke, dalam Nusantara: A History of Indonesia (1959), kemudian bilang, orang-orang Indonesia zaman purba tak lain berasal dari keturunan imigran benua Asia.
 
"Antara zaman Pithecanthropus dan tibanya para imigran, mungkin ada jenjang waktu ribuan abad," tulis Vlekke.
 
Jadi, sebenarnya, siapa Indonesia? Terlebih, manusia Indonesia?
 
Campur-baur
 
Vlekke, memang tidak berhenti sampai di situ. Secara kuat, ia menuliskan bahwa sejak mulanya keadaan linguistik dan rasial Indonesia begitu kompleks.

Dari keseluruhan gugusan pulau, ada ratusan bahasa yang dipercakapkan, juga ras yang saling berbaur.
 
"Tidak ada satu pulau, betapapun kecilnya, yang penduduknya tidak campur-baur secara rasial," tulis Vlekke masih dalam buku yang sama.
 
Maka, bolehlah disimpulkan, watak kebinekaan Indonesia rupanya memang sejak awal dikodratkan. Maka, naif, jika belakangan ada satu dua kelompok yang mengklaim merasa paling tuan, sementara yang lainnya; pendatang.
 
Sikap seperti itu bukan tanpa sebab. Salah satunya, wawasan sejarah yang lemah. Bahkan nahasnya, informasi yang dangkal mengenai asal-usul dan nilai budaya itu dilanjutkan menjadi alat politik pemecah belah. 
 
Pengurus Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia (IAAI) W. Djuwita Sudjana mengakui adanya fenomena itu. Ia mengatakan, keberagaman Indonesia yang tadinya saling melengkapi, belakangan malah bergeser saling menegasi.
 
Jika dirunut, menyempitnya wawasan sejarah bisa jadi diakibatkan dengan derasnya arus teknologi yang tidak dibarengi dengan sikap bijak para penggunanya. Ambil singkat, pengetahuan sejarah yang didapat dari media sosial, tidak didampingi dengan sumber tertulis yang jelas, atau keterangan para ahli.
 
"Menafsirkan karena kepentingan kelompok tanpa diteliti sejarahnya dengan benar," kata Djuwita dalam diskusi bertajuk 'Kebinekaan, Warisan Budaya Nusantara dalam Tantangan Masa Kini dan Mendatang' di Gedung Balai Agung, Balai Kota, Jakarta, Selasa 16 Mei 2017. 
 
Musabab lainnya, lanjut dia, timbul karena konsep toleransi, kebinekaan, identitas, dan pluralisme yang juga diartikan secara serampangan. Toleransi yang dulu dianggap sebagai salah satu identitas, kini ditanggapi sebagai keberpihakan kepada hal yang berseberangan pemikiran dan keyakinan.
 
Fatalnya, muncul stigma pribumi dan non-pribumi. Isu ini tidak sekali-dua dimanfaatkan pihak yang tidak bertanggung jawab untuk memperkeruh keadaan. Padahal, jika diukur dari kacamata genetika, istilah itu sudah tak relevan lantaran telah begitu lamanya manusia di Indonesia menjalani proses pencampuran rasial.
 
Mengenai ini, ahli genetika dari Lembaga Biologi Molekular Eijkman Herawati Sudoyo mengukurnya melalui penelitian genetika di laboratorium dan lapangan. Fokus riset mencakup sisi bahasa, etnografi, antropologi, arkeologi, dan sejarah.
 
Hasilnya, Hera menyimpulkan bahwa tanah Indonesia telah didiami manusia modern sejak 50 ribu tahun silam. Migrasi pertama dari Afrika. Mereka datang melalui Paparan Sunda, yakni ketika pulau Sumatera, Kalimantan, dan Jawa masih bersatu.
 
Migrasi kedua, sekitar 30 sampai 15 ribu tahun lalu. Sementara gelombang ketiga terjadi pada 6.000 tahun lalu berasal dari Formosa, sebutan silam untuk Taiwan.

Baca: Belajar Kebinekaan dengan Menelusuri Asal Genetika Manusia Indonesia
 
"Migrasi keempat melalui perdagangan. Dengan India, Arab, dan Tiongkok, yang menghasilkan pembauran," ujar Hera, masih dalam diskusi yang sama.
 
Satu misi, satu cita-cita
 
Konsekuensi paling sederhana dari bangsa yang kaya dengan identitas adalah sikap saling menghargai. Lebih jauh lagi, cita-cita bersama dari sebuah negara-bangsa bisa dengan gampang terwujud melalui kerjasama antar-elemen yang memiliki kekurangan dan kelebihannya masing-masing.
 
Maka, wajar jika Presiden Joko Widodo menghubungkan fenomena hari ini dengan nilai produktivitas dan budaya kerja Indonesia yang kian lesu.

Karena apa? Ya, kebiasaan saling hujat, menjelekkan, memfitnah, dan menolak perbedaan adalah perkara nganggur yang tidak akan berdampak apa-apa selain kemunduran.
 
"Bangsa mana seberagam kita? Ini takdir Allah SWT yang diberikan untuk dirawat dan dijaga, bukan untuk dipecah belah," kata Presiden saat membuka Kongres XIX Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) di Aula Masjid Agung Darussalam Palu, Selasa, 16 Mei 2017.
 
Presiden memang tak asal cakap. Dalam setahun terakhir, egoisme kelompok dan golongan begitu menguras energi masyarakat. Perbedaan itu, kian rawan ketika sudah menyinggung soal suku, ras, agama, dan antargolongan (SARA).
 
Utamanya lagi, ada yang memang sengaja menghadap-hadapkan agama dengan negara, dengan Pancasila, atau dengan prinsip dasar lain yang semestinya sudah menjadi konsensus bersama sejak berdirinya Indonesia. 
 
Indonesia yang kian demokratis, memang tak dipungkiri oleh sekelompok-dua yang berkepentingan itu. Tapi, kesannya sengaja memberikan tafsir yang berbeda, makna yang justru menimbulkan pengertian yang berseberangan.
 
Sebut saja, golongan yang begitu kekeh menuntut agar negara memberlakukan formalisasi syariat Islam. Mereka menyatakan itu dengan dalih kebebasan bersuara dan berpendapat dalam negara demokrasi. Tapi, secara tidak langsung, gerakan mereka tampak tak peduli dan menutup telinga atas aspirasi kelompok lainnya. 
 
Saiful Mujani, dalam Muslim Demokrat: Islam, budaya demokrasi, dan partisipasi politik di Indonesia pasca-Orde Baru (2007) menyebut, memang seperti itulah karakter dari gerakan Islamis ketika hidup di negara demokrasi yang kebetulan sebagian besar penduduknya beragama Islam. Demokrasi di mata mereka adalah majoritarianism. Demokrasi harus menomorsatukan suara mayoritas, tetapi mengabaikan kebebasan sipil.
 
"Mereka mengklaim bahwa tuntutan mereka tentang penerapan syariat Islam oleh negara mewakili kepentingan mayoritas umat Islam," tulis Saiful.
 
Dalam riwayat Indonesia, Islam tidak hadir seperti itu. Islam datang tidak dengan menihilkan budaya dan kearifan lokal yang sudah ada. Bahkan, pada perkembangan selanjutnya, Islam menjadi garda terdepan dalam mengawal kehidupan yang damai dan saling menghargai dalam kebinekaan.
 
Walhasil, tak salah jika para pendiri bangsa yang kebanyakan relijius-nasionalis itu malah menyepakati Pancasila sebagai ideologi bersama. Dan sudah barang tentu, mereka tak bermaksud mengenyampingkan agama dalam bernegara. Malah jatuhnya lebih selaras; mengintegrasikan agenda agama dalam keseluruhan sikap berbangsa dan bernegara.
 
Islam dan Pancasila bukan sesuatu yang saling mengganti. Bukan pula dua hal yang layak dipertentangkan.
 
Apa pasal? Dari sila ke sila, dasar negara itu sudah amat sesuai dengan keragaman identitas yang hidup dan berkembang di Indonesia. 
 
Maka pantas, jika di hari kelahiran Pancasila, Presiden Soekarno dengan penuh percaya diri berkata; "Het heeft zijn nut bewezen, telah terbuktilah tepat gunanya Pancasila."
 
Jadi, siapakah manusia Indonesia? Mudah saja. Mereka yang sadar perbedaan adalah kekayaan. Dan menjadikan Pancasila sebagai dasar dan semangat persatuan.




(SBH)

Irman Kembali Diperiksa KPK sebagai Saksi Setnov

Irman Kembali Diperiksa KPK sebagai Saksi Setnov

1 hour Ago

KPK kembali memeriksa mantan Dirjen Dukcapil Kemendagri Irman. Irman diperiksa sebagai saksi un…

BERITA LAINNYA