Agar Banjir Bandang tak Lagi Datang

Sobih AW Adnan    •    Kamis, 22 Sep 2016 20:13 WIB
banjir bandang garut
Agar Banjir Bandang tak Lagi Datang
Beberapa rumah nyaris roboh tergerus aliran air di Kampung Cimadan, Tarogong/ANTARA/Adeng Bustomi

Metrotvnews.com, Jakarta: Jawa Barat berduka. Kabupaten Garut dilanda banjir bandang. Hingga Kamis, 22 September tercatat 23 orang tewas, belasan hilang, puluhan mengalami luka berat dan ringan, serta ratusan lainnya terpaksa mengungsi.

Bukan kali ini saja Garut disapu banjir berkecepatan tinggi itu. Satu dekade sebelumnya, yakni pada 2003, peristiwa serupa telah merenggut jumlah korban dan kerugian yang nyaris sama. Tak hanya itu, terhitung sejak 2013, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Garut telah menyatakan wilayah dengan 42 kecamatan itu sebagai daerah paling rawan bencana di Indonesia. Bukan cuma banjir bandang, akan tetapi tanah longsor, puting beliung, gunung meletus, dan tsunami juga turut dalam daftar.



Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho mengatakan antisipasi banjir bandang sebenarnya sudah dilakukan sejak awal September 2016. Kala itu, BNPB merespon laporan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) yang mendeteksi adanya La Nina dan dipole mode (penyimpangan suhu permukaan air laut) di Samudera Hindia dan menghangatnya perairan laut di Indonesia, maka curah hujan khususnya di Jawa akan meningkat. 

"Peringatan dini potensi hujan lebat sudah kita sampaikan kepada masyarakat agar meningkatkan kesiap-siagaan," kata Sutopo kala dihubungi Metrotvnews.com, Kamis (22/9/2016).



Yang mengundang si banjir bandang

Hujan yang turun pada Selasa malam itu terlampau deras. Longsor yang turut terjadi di beberapa titik memicu terjadinya banjir bandang. Berdasarkan peta longsor, sebagian daerah yang gogos di Garut saat ini memang berada pada zona merah. Anehnya, jika mengacu pada peta rawan banjir skala 1 : 250.000, wilayah Garut tertera pada barisan aman. 

"Untuk itulah peta rawan banjir perlu kita revisi. Juga perlu disusun perta rawan banjir skala besar, misal 1:50.000 sehingga akan lebih detil," kata Sutopo.

Ada satu hal yang paling layak dicurigai menjadi pemicu banjir bandang di Garut. Menurut Sutopo, peristiwa yang terjadi malam itu merupakan respon atas aliran sungai Cimanuk yang telah dinyatakan sebagai daerah aliran sungai (DAS) yang kritis dan tidak sehat. Label yang melekat sejak 1980-an itu berlandaskan pada koefisien regim sungai, yakni perbandingan antara debit maksimum dan minimum air.

"DAS Cimanuk menyentuh angka 713. Jauh lebih besar dari ambang batas maksimum, yakni 80," kata dia.

Tenaga Ahli Kebencanaan Kementerian Energi dan Sumberdaya Mineral (ESDM) Surono mengungkap titik picu lainnya, menurut dia, sebagaimana banjir yang terjadi di Mandalawangi Kabupaten Garut pada 2003 lalu, peristiwa yang meluluhlantakkan ratusan rumah itu disebabkan letak geografis Garut yang berada pada wilayah cekung rawan longsor.

"Ada juga sebab alih-fungsi lahan untuk penanaman kentang dan sayuran. Lahan digemburkan," kata Surono dalam acara Netizen News, di Metro TV, Kamis (22/9/2016).




Jika mengacu pada tiga penyebab itu saja, maka puluhan anak sungai yang ada di Garut memusatkan aliran menuju Cimanuk. Hujan lebat dan longsor menjadikan semacam bendungan alami. Tak kuat, muatan sungai pun tumpah laksana air bah.

Bersatu-padu mencegah bencana

Garut saat ini akan mengundang siapapun yang masih memiliki rasa peduli. Perhatian dan uluran bantuan mesti terus diberikan kepada mereka yang membutuhkan. Melampaui itu semua, berpikir tentang cara pencegahan agar bencana ini tak lagi berulang menjadi bagian penting sebagai wujud kepedulian.

Tugas berat pertama tentu milik pemerintah. Mitigasi bencana, baik secara struktural dan non strukltural penting dilakukan. Menurut Sutopo, sejauh ini BNPB telah mengkoordinir penyusunan Rencana Nasional Penanggulangan Bencana 2015-2019. Di dalam dokumen itu disepakati program dan kegiatan yang dilakukukan oleh kementerian/lembaga sesuai dengan tupoksi masing-masing. 


Pasien menjalani perawatan di selasar karena RSUD dr Slamet Garut juga terendam banjir. Banjir juga mengakibatkan peralatan perlengkapan RSUD rusak dan sebagian pasien dipindahkan ke RS Guntur.ANTARA/Adeng Bustomi

"Misal untuk pengendalian banjir maka Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat melakukan upaya normalisasi sungai, membangun bendungan, waduk, tanggul dan infrastruktur keairan lain," kata dia.

Sementara pengurangan risiko banjir terkait kerusakan DAS, maka Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) akan melaksanakan kegiatan pengelolaan DAS terpadu, reboisasi, penghijauan, program kali bersih, pengelolaan sampah dan lainnya. 

Begitu pula terkait penataan ruang di daerah rawan bencana, maka Kementerian Agraria dan Tata Ruang dan Pemda menetapkan arahan tata ruang. Kerjasama segenap pihak dalam urusan ini semakin menjadi perkara penting, termasuk masyarakat.

"Selama ini banyak masyarakat yang belum menerima informasi secara akurat terkait ancaman bencana di wilayahnya. Ini yang perlu kita perbaiki dan hal ini menjadi prioritas kebijakan strategis BNPB," ujar Sutopo.

Sementara menurut Surono, masyarakat sebenarnya menjadi aspek penting dalam pencegahan bencana di daerah masing-masing. Kesadaran terhadap pelestarian alam menjadi tonggak. Termasuk, mendukung gagasan penataan ruang yang menyinggung hal-hal tersebut.

"Penggusuran di bantaran sungai bukan penistaan, tapi untuk perlindungan masyarakat itu sendiri dan masyarakat lainnya," kata Surono.

Dalam hal-hal seperti ini, menurut Surono, Masyarakat harus kooperatif. Bencana semestinya dipahami berkenaan dengan segala aspek kehidupan. Begitu juga dengan sosial-politik. 

"Pemerintah daerah, dan calon-calon pemimpin daerah terkait jelang pelaksanaan Pilkada, menghadapi bencana bukan hanya berpikir tentang mie instan, beras atau kantung mayat. Akan tetapi perlu juga mendukung mitigasi bencana yang baik," kata dia.


Salah satu peta rawan bencana yang diterbitkan BNPB dalam menyambut mudik Lebaran 2016/bnp.go.id

Mitigasi bencana sekarang ini tak hanya dibutuhkan Garut dan Sumedang. Berdasarkan laporan BNPB, curah hujan akan meningkat hingga Maret dengan puncak curahnya pada Januari 2017. Hal itu menjadi catatan bagi daerah rawan banjir di Indonesia. Wilayah ini terbentang sepanjang Pantai Timur Sumatera, sebagian pantai barat Sumatera, Pantura Jawa, selatan Jawa Tengah, pesisir di Kalimantan dan lainnya. Merujuk peta rawan bencana BNPB, maka ada 63,7 juta jiwa orang yang terancam dari banjir sedang hingga tinggi.
 


(ADM)

Ahok: Besok Nusron Umumkan Tim Pemenangan
Pilkada Serentak 2017

Ahok: Besok Nusron Umumkan Tim Pemenangan

20 minutes Ago

Sejauh ini nama kuat yang akan menjadi pimpinan tim sukses Ahok-Djarot adalah Prasetio Edi Mars…

BERITA LAINNYA
Video /