Tangkal Pelajar Anti-Pancasila, Mensos Minta Kualitas Guru Ditingkatkan

Faisal Abdalla    •    Minggu, 16 Jul 2017 16:17 WIB
pancasila
Tangkal Pelajar Anti-Pancasila, Mensos Minta Kualitas Guru Ditingkatkan
Menteri Sosial (Mensos) Khofifah Indar Parawansa. (Foto: MTVN/Faisal Abdalla).

Metrotvnews.com, Jakarta: Menteri Sosial (Mensos) Khofifah Indar Parawansa menyebut sebanyak sembilan persen pelajar di Indonesia anti-Pancasila. Khofifah meminta semua pihak tidak meremehkan temuan tersebut. 

"Ada survei dari beberapa lembaga seperti SMRC yang menyebutkan adanya peningkatan ajakan untuk mengganti sistem NKRI menjadi khilafah di kalangan pelajar," ujar Khofifah di Gedung Konvensi Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta Selatan, Minggu, 16 Juli 2017. 

Menurut survei yang sama, tambahnya, sebanyak 0,4 persen pelajar mengaku pernah atau setuju melakukan perbuatan-perbuatan yang menjurus kepada aksi radikal dan intoleransi. Maka itu, dibutuhkan sistem pendidikan yang tepat.

Menurut Khofifah, merombak sistem pendidikan merupakan jalan untuk menangkal masuknya ideologi radikal di kalangan pelajar. Dalam sistem itu, dia menawarkan program ajar diintegrasikan dengan nilai-nilai nasionalisme.

"Hasil survei-survei itu seharusnya cukup jadi pertimbangan kita untuk melakukan format terhadap proses pendidikan. Bagaimana nilai-nilai tentang NKRI, Pancasila, dan cinta Tanah Air itu terintegrasi dalam proses belajar mengajar kita," terang Khofifah. 

(Baca: Khofifah: 9% Pelajar Sudah Anti-Pancasila)

Selain mengitegrasikan nilai-nilai nasionalisme, Khofifah juga meminta kualitas guru ditingkatkan. Diakuinya saat ini guru belum mampu berperan secara aktif menangkal tumbuhnya benih-benih intoleransi di kalangan pelajar. 

"Anak-anak harus mendapatkan guru yang bisa mensinergikan antara nilai-nilai agama dan nasionalisme. Menurut saya saat ini sangat sedikit guru yang punya kualitas itu, tapi bukan berarti tidak bisa ditingkatkan," ujar Khofifah. 

Sebelumnya dalam acara silaturahim dan halalbihalal Yayasan Khadijah di Surabaya pada Sabtu kemarin, Khofifah sempat menyebut sebanyak sembilan persen pelajar di Indonesia anti-Pancasila. Khofifah mengacu pada hasil survei SMRC yang menyebut sebanyak 9,2 persen pelajar setuju NKRI diganti menjadi negara khilafah atau negara Islam.

Dalam survei yang sama, SMRC juga mencatat sebanyak 40,82 persen pelajar 'bersedia', dan 8,16 persen pelajar bahkan mengaku 'sangat bersedia' melakukan penyerangan terhadap orang atau kelompok yang dianggap menghina Islam.


(HUS)