4% WNI Disebut Menjadi Pendukung ISIS

M Rodhi Aulia    •    Minggu, 17 Sep 2017 06:26 WIB
isis
4% WNI Disebut Menjadi Pendukung ISIS
taf Khusus Presiden Diaz Hendropriyono. MTVN/ M Rodhi Aulia

Metrotvnews.com, Jakarta: Sejumlah warga negara Indonesia (WNI) disebut menjadi pendukung ISIS. Jumlahnya sekir empat persen dari total WNI.

"Empat persen data WNI menjadi pendukung ISIS," kata Staf Khusus Presiden Diaz Hendropriyono di sela acara bertajuk Toleransi jadi Aksi di Gandaria City, Jakarta Selatan, Sabtu 16 September 2017.

Diaz mengatakan jumlah tersebut bukanlah jumlah yang sedikit. Ia juga menyebutkan warga negara Malaysia yang mendukung ISIS sebanyak 11 persen.

"Kalau kita lihat empat persen dari 250 juta (penduduk Indonesia), dan 11 persen dari 31 juta (penduduk Malaysia), itu dua angka yang fenomenal. Dan itu harus menjadi perhatian khusus," ucap dia.

Pemerintah pun mengantisipasi fenomena itu, salah satu langkahnya, lanjut Diaz, dengan memutar video pengakuan WNI yang sempat terbuai rayuan ISIS. Dalam video itu, WNI tersebut mengungkapkan ISIS penuh dengan kebohongan.

"Katanya ada sekolah yang gratis, ternyata bawa anak, anaknya di sana mau dikawinin. Katanya mau orang penuh iman, imannya tinggi, ternyata di sana saling bunuh satu sama lain. Jadi ISIS itu adalah pembohong," ucap dia.

Diaz menuturkan pengakuan WNI mantan ISIS tersebut telah dipublikasikan oleh Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT). Presiden Jokowi menyambut baik langkah BNPT mempublikasikan kepada khalayak lebih luas terkait kebohongan ISIS.

"Malah beliau (Presiden) minta untuk dipublikasikan secara lanjut agar tidak ada lagi orang Indonesia khususnya apalagi bocah-bocah (yang tergiur) dengan ISIS. Ini demi melindungi generasi muda," ucap dia.

Diaz menegaskan harus ada upaya memastikan konten di internet bebas dari paham radikal. Upaya itu juga dapat dengan menggerakkan anak muda memproduksi konten positif di internet.

Dalam hal ini, Diaz melakukan langkah nyata dengan membuat program #DengarYangMuda. Diaz berupaya menggerakkan anak muda untuk memikirkan sesuatu kegiatan dan mereka juga yang melaksanakan kegiatan tersebut dengan penuh antusias.

Diaz mengundang sejumlah anak SMA di Jakarta Selatan untuk memikirkan model acara dan kegiatan positif serta produktif. Alhasil kegiatan #DengaryangMuda dengan tajuk Toleransi jadi Aksi digelar di sebuah mal di bilangan Jakarta Selatan.

Program itu tak sekadar talkshow, namun ada juga mentoring session. Para peserta dapat belajar langsung sesuatu yang dianggap keren.

Tentunya hal yang positif dan produktif. Misalnya cara mengioerasikan sebuah coffee shop, menjadi fashion blogger dan vlogger yang mendatangkan subscriber yang banyak.

"Ada 30 SMA yang kita jadikan panitia perwakilan yang ikut brainstorming, apa sih hal-hal yang kalian suka. Inginnya itu apa? Kalau mau produktif itu seperti apa? Jadi acara ini adalah acara kalian (anak muda) dari kalian untuk kalian. Saya di sini hanya memfasilitasi," ucap dia.

Diaz merencanakan akan melakukan hal yang serupa. Tidak hanya di Jakarta tapi di berbagai daerah lain dengan sasaran utama para anak muda dan dengan tema yang berbeda-beda.

"Kita mengarahkan mereka kepada hal yang positif. Sebenarnya banyak sekali hal positif dan produktif yang bisa dilakukan," tandas Diaz.

 


(SCI)