Magdalena Sitorus Ajak Perempuan Bersuara Melalui Tulisan

Wanda Indana    •    Kamis, 01 Dec 2016 00:20 WIB
peluncuran buku
Magdalena Sitorus Ajak Perempuan Bersuara Melalui Tulisan
Peluncuran lima buku Magdalena Sitorus di Erasmus Huis, Kedutaan Belanda, Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, Rabu (30/11/2016).-- Foto: MTVN/Wanda--

Metrotvnews.com, Jakarta: Komisioner Komnas Perempuan Magdalena Sitorus bersama Penerbit Jalasutra meluncurkan lima seri Buku Catatan Harian Magdalena (2011-2015). Buku Catatan Harian ini dihrapkan bisa menginspirasi setiap perempuan untuk bisa mulai menulis tentang cerita kesehariannya.

Lima seri Buku Catatan Harian Magdalena Sitorus ini menjadi contoh bagaimana perempuan begitu bebas mengeluarkan pendapat tentang apa saja hal-hal yang dialaminya sehari-hari. Mulai dari soal rasa kehilangan atas kepergian suami tercinta, persoalan keluarga, adat, agama, dunia aktivisme hingga persoalan relasi dengan tetangga, dan persoalan-persoalan bangsa.

Beberapa buku Magdalena Sitorus sebelumnya seperti: Semua Ada Waktunya (2012), Daun Putri Malu (2013), Sepatu Emas Buat Inang (2014), dan Kain Cinta Tanpa Batas (2015) juga ditulis berdasarkan cerita catatan harian.

"Sejak Asmara (Suami Magda) meninggal, saya mengubah catatan harian saya menjadi surat yang saya tujukan kepadanya, itu cara saya tetap berkomunikasi dan merasa dekat dengan Asmara," kata Magda pada acara peluncuran Buku Catatan Harian Magdalena di Erasmus Huis, Kedutaan Belanda, Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, Rabu (30/11/2016).

Semua yang ditulis Magda merupakan apa yang dia alami sehari-hari mulai dari bangun tidur hingga tidur kembali. Banyak di dalam tulisannya, Magda juga menceritakan kisah orang lain yang menurutnya penting untuk ditulis.

"Saya suka sekali mengamati orang apalagi jika orang tersebut memiliki pergumulan hidup yang kalau ditulis dan dibaca orang bisa mengayakan kemanusiaan kita. kata Magdalena.


Komisioner Komnas Perempuan Magdalena Sitorus--Foto: MTVN/Wanda--

Menurut magda, menulis cerita sehari-hari bagi perempuan menjadi salah satu cara untuk pemberdayaan diri. Cerita tersebut tidak hanya sebagai dokumentasi tapi juga membuat perempuan mengenali apa yang terjadi pada diri dan lingkungannya.

"Perempuan itu kaya akan pengalaman. Tapi sangat sedikit yang mau menuliskannya. Apalagi prosentasi penulis laki-laki dan perempuan sangat jauh perbedannya," ucap Magda.

Penerbit Jalasutra Nur Imroatus menambahkan, perempuan sering saksi mata dan mengalami langsung berbagai peristiwa ketidakadilan yang terjadi di sekitar mereka. Melalui tulisan yang sederhana dan dekat dengan perempuan seperti catatan harian, diharapkan bisa menjadi bagian dari wacana publik.

"Siapa tahu nantinya akan berkembang lagi betuk-bentuk penulisan yang appropriate dengan pengalaman perempuan." pungkas Nur.


(ALB)

Ahok Tegaskan tak Pernah Umbar Janji saat Kampanye

Ahok Tegaskan tak Pernah Umbar Janji saat Kampanye

39 minutes Ago

Dia menegaskan hanya menyampaikan kinerjanya saat menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta defenit…

BERITA LAINNYA