Tanamkan Nilai-nilai Baik pada Anak untuk Mencegah Perilaku Merundung

   •    Senin, 17 Jul 2017 17:46 WIB
bullying
Tanamkan Nilai-nilai Baik pada Anak untuk Mencegah Perilaku Merundung
Ilustrasi. (Metrotvnews.com/Mohammad Rizal)

Metrotvnews.com, Jakarta: Bicara soal bullying tak lepas dari aksi perundungan yang mungkin pernah diterima oleh anak sebagai korban yang kemudian dicontoh dan dilakukan kembali ke orang lain. 

Namun, menurut Psikolog Ratih Ibrahim, aksi perundungan tak selalu berasal dari produk bullying saja. Bisa juga datang dari produk masyarakat yang kemudian dicontoh oleh anak-anak untuk melakukan bullying kepada orang lain.

"(Anak merundung) Bisa dari produk masyarakat atau dia lihat di media, lihat temannya, kan contohnya banyak. Makanya harapan saya media bisa ikut mengedukasi masyarakat," kata Ratih, dalam Newsline, Senin 17 Juli 2017.

Menurut Ratih, bullying bisa diredam dengan berbagai cara. Termasuk dari nilai-nilai yang ditanamkan di sekolah. Sebab, sekolah merupakan tempat dimana anak-anak belajar paling lama dan menghabiskan waktu.

Baca juga: Merundung Penyandang Disabilitas Ciri Seseorang Kehilangan Daya Empati

Sehingga sudah seharusnya sekolah waspada terhadap bullying dengan mengangkat semua nilai baik. Seperti nilai-nilai kemanusiaan, kebersamaan, keragaman, dan saling menghargai terhadap sesama.

"Itu harus diangkat sungguh-sungguh di sekolah sehingga yang kemudian dipromosikan sekolah adalah nilai kebersamaan, menghargai kehidupan dan menghargai sesama sebagai nilai-nilai baik," katanya.

Ratih mengingatkan bahwa semua anak adalah istimewa. Mereka memiliki bakat dan harus dihargai. Dengan begitu sekolah bisa mencegah tindakan bullying dan jika kadung terjadi bisa disikapi dengan baik bukan malah membiarkan terjadinya kekerasan.

Selain itu, di rumah juga bisa ditanamkan nilai-nilai baik lain kepada anak. Orang tua menjelaskan kepada anak, memberi teladan yang kemudian akan dicontoh oleh anak. Dengan begitu perilaku bullying tidak hanya ditanggapi melainkan dicegah dengan nilai-nilai positif yang dibangun.

"Kalau ada yang berbeda gimana? Yang berbeda itu harus diterima sebagai perbedaan jadi kalau misalnya perilaku anaknya kurang baik bukan berarti dia kurang ajar tetapi mungkin tidak mengerti. Makanya diberi contoh, diberi pengertian. Lapor ke orang tuanya supaya bisa terima dan orang tuanya juga harus terima diingatkan bukan malah marah," jelas Ratih.




(MEL)