FOKUS

Warisan Hasyim Muzadi

Sobih AW Adnan    •    Jumat, 17 Mar 2017 22:44 WIB
obituari
Warisan Hasyim Muzadi
Sekjen International Conference of Islamic Scholars (ICIS) Hasyim Muzadi (kanan) bersama mantan Perdana Menteri Malaysia Abdullah Badawi (kiri) saat menghadiri Halaqah Perdamaian dan ultah ICIS ke-6 di Jakarta (22/7)/FOTO ANTARA/Herka Yanis Pangaribowo

Metrotvnews.com, Jakarta: Ada yang berdebat puasa 29 atau 30 hari. Saya jawab, dua-duanya boleh. Yang tidak boleh itu, gegeran 29 dan 30 tapi dia sendiri enggak puasa.

Itulah sepenggal kelakar yang paling mudah dikenang dari seorang KH Hasyim Muzadi. Beda hitung kalender Ramadan antara Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah, nyaris dianggap bukan apa-apa. Sederhananya, membangun hubungan yang baik dengan Pencipta, otomatis menuntut sikap yang bagus pula kepada sesama manusia.

Kini, Kiai Hasyim telah berpulang. Namun sejatinya, laku yang ditampilkan sepanjang hidup menggambarkan wajah kebanyakan ulama di Indonesia. Luwes, tapi tidak meragukan kefasihannya dalam masalah fikih. Penuh guyon, namun tidak menyangsikan keluhuran akhlak dan sopan santun.

Tentu, bukan hanya NU, tapi juga Muhammadiyah dan lainnya.

Barangkali, inilah yang menjadi titik menarik bagi bangsa lain untuk mengkaji lebih dalam tentang wajah Islam di Indonesia. Meminjam istilah pendahulu Kiai Hasyim, yakni Abdurrahman 'Gus Dur' Wahid, kita butuh Islam Ramah, bukan Islam Marah.

Meski begitu, watak moderasi Islam Indonesia ternyata bukan sesuatu yang halal dibiarkan sendiri. Ia tetap perlu dikawal. Kehadiran Islam dengan mengedepankan rasio perdamaian itu tidak bebas ancaman.

Tengok saja riwayat para intelektual yang dengan sekuat tenaga menjaga prinsip jalan tengah Islam Indonesia. Masing-masing orang atau badan, punya cara dan penjabaran sendiri. Tapi intinya satu, menjaga ruh Islam yang penuh semangat perdamaian, kasih sayang, dan menolak kekerasan.

Gus Dur sendiri, kerap menyuarakan prinsip dengan apa yang disebutnya pribumisasi Islam. Begitu juga Nurcholis 'Cak Nur' Madjid dengan Islam Hanifnya. Kiai Hasyim dengan Islam rahmatan lil alamin, atau KH Said Aqil Siroj dengan platform Islam Nusantaranya. Muhammadiyah, bahkan sejak tahun 1950-an telah menengenalkan Islam Berkemadjoean. Belakangan, dalam Musyawarah Nasional (Munas) IX 2015, Majelis Ulama Indonesia (MUI) juga turut mengenalkan sebutan Islam Wasathiyah.

Indonesia memang kaya sesegala. Coba kita bandingkan, yang terdekat saja, Malaysia.

Sekilas, memang tak ada beda yang menonjol. Jika mengacu sensus penduduk 2013, maka ada 19,5 juta orang alias 63 persen dari total penduduknya menganut agama Islam. Sebagian besar bermazhab Syafii, persis seperti di Indonesia.

Yang mencolok, mungkin pertarungan reformis dan tradisionalis yang lebih keras dibanding di Indonesia. Ditambah lagi, tidak banyak intelektual yang turut terlibat dalam menjaga kekuatan Islam moderat.


Sekelompok aktifis Muslim Malaysia menolak penggunaan lafaz Allah oleh agama lain (5/3/2014)/AFP Photo/Mohd Rasfan

Soal ikhtiar moderasi Islam, berbarengan dengan usaha Kiai Hasyim mempromosikan Islam rahmatan lil alamin, di Malaysia pernah didengar jargon Islam Hadhari. Tawaran prinsip keberagamaan yang langsung diusung perdana menteri, Abdullah Ahmad Badawi ini menggaris bawahi 10 prinsip penting yang menunjukan jalan tengah Islam sekaligus respon terhadap perkembangan zaman.

Islam Hadhari mencita-citakan pribadi Muslim yang maju dan sanggup bersaing. Ada semacam nostalgia pada kejayaan Islam di masa lalu. Dalam Islam Hadhari, konsep yang dinamakan dengan tamaddun merujuk pula pada keunggulan peradaban Mesir, maupun negeri-negeri Eropa.

Tapi yang mengagetkan, pada 2008, sebuah institusi akademik di Kuala Lumpur memunculkan hasil riset bahwa 63 persen dari sebanyak 3013 responden menyatakan Islam Hadhari bukan tawaran terbaik. Sementara yang setuju cuma 22 persen, apalagi yang menyatakan sangat setuju, hanya 5 persen saja.

Selidik demi selidik, karena Islam Hadhari digawangi langsung sebagai proyek pemerintah. Jauh berbeda dengan konsep Islam rahmatan lil alamin Kiai Hasyim. Cuma ada 3 persen responden yang setuju bahwa Islam Hadhari mampu meningkatkan moral pimpinan negara. Selebihnya, sebanyak 70 persen nyaris mengatakan itu bohong.

Ini seimbang dengan risiko menjadikan Islam sebagai agama resmi Kerajaan Malaysia (state religion). Para ulama tradisional Melayu memiliki pengaruh kuat dan memandang dirinya sebagai penjaga tradisi Islam. Islam Hadhari kerap dipandang sebagai semacam eksperimentasi kaum elite dan kelas menengah Malaysia.

Islam yang modern dan moderat memang menjadi orientasi kuat kalangan elite dan kelas menengah. Negara ikut mendorong kelahirannya. Tapi tanpa dukungan kuat para ulama tradisional Melayu, Islam Hadhari sulit berkembang.

Islam di Indonesia, lebih memilih jalan demokrasi sebagai ruang fastabiq al khairat, berlomba-lomba menuju kebaikan. Agama memiliki pengaruh kuat dalam kehidupan negara, tetapi pengaruh itu lebih terasa sebagai sumber moral keagamaan.

Negara dan agama saling mendukung dan memperkuat, tetapi negara tidak menempatkan agama tertentu sebagai agama resmi negara seperti di Malaysia.

Di Indonesia, Islam dan demokrasi juga menemukan kompatibilitas atau kecocokan. Demokrasi memberi kesempatan kepada Islam menampilkan sisi-sisi terbaiknya. Di sisi lain, Islam hadir menguatkan dimensi moral keagamaan sebagai basis nilai-nilai demokrasi.

Sudah dari sononya, riwayat kedatangan Islam ke Indonesia memang agak beda. Jalannya, bukan peperangan. Lebih banyak ditandai dengan aneka negosiasi budaya. Pertemuan antarbudaya turut membentuk praktik keberagamaan.

Jalur-jalur perdagangan internasional yang ramai membawa warna Islam yang tidak tunggal. Perjumpaan Islam dengan budaya lokal ikut membentuk wajah Islam Indonesia.

Dalam buku babon Sejarah Nasional Indonesia III: Zaman pertumbuhan dan perkembangan kerajaan Islam di Indonesia (2008), Marwati Djoened Poesponegoro menjelaskan, Islam sebagai agama dan budaya cenderung mudah diterima masyarakat Indonesia. Sebab, cara penyebarannya lebih menyesuaikan diri dengan kondisi sosial-budaya yang telah lebih dulu ada.

"Jadi, pada taraf permulaan Islamisasi dilakukan dengan saling pengertian akan kebutuhan dan kondisinya," tulis Marwati.

Meski fakta itu juga tidak menutupi adanya warna lain yang turut andil dalam sejarah perkembangan Islam di Indonesia. Semisal, data yang digambarkan Bernard Hubertus Maria Vlekken dalam Nusantara: Sejarah Indonesia (2008), bahwa di kemudian hari, ada juga sekelompok pendakwah memercikan corak lain dalam tradisi keberagamaan masyarakat Indonesia.

 "Selama beberapa abad, sebelum muncul kaum putihan (yang sangat dipengaruhi budaya Timur Tengah), raja-raja dan masyarakat Jawa menganggap Islam sebagai agama yang damai penuh dengan toleransi," tulis Vlekken.

Kata kuncinya adalah toleransi. Toleransi, cinta damai, dan mengedepankan prinsip kemanusiaan menjadikan Islam mampu tampil baik di Indonesia dengan masyarakatnya yang multikultural.

Sepeninggal Kiai Hasyim, ada warisan yang kini menjadi bagian tak terpisahkan dalam leksikon umat Islam Indonesia: Islam rahmatan lil’alamin. Kiai Hasyim Muzadi-lah orang yang menjadikannya makin masyhur di publik Indonesia.

Beruntung bagi kita orang Indonesia mengenal kosa kata itu. Budaya ramah dan toleran dalam masyarakat menjadi basis kokoh bagi Islam yang 'menjadi rahmat segenap alam.'

Bagaimanapun, menjadikan Islam sebagai rahmat benar-benar menjadi tantangan nyata Indonesia, sekarang ini.




(SBH)

KPK Masih Telusuri Dugaan Keterlibatan 7 Penyidik di Kasus KTP-el

KPK Masih Telusuri Dugaan Keterlibatan 7 Penyidik di Kasus KTP-el

4 hours Ago

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) memastikan pemeriksaan internal terhadap tujuh orang penyidi…

BERITA LAINNYA