Fakta Baru Peristiwa G30S Bisa Ditambahkan Jika Film Digarap Ulang

Dian Ihsan Siregar    •    Sabtu, 23 Sep 2017 15:39 WIB
isu g30s
Fakta Baru Peristiwa G30S Bisa Ditambahkan Jika Film Digarap Ulang
Istri sutradara Arifin C. Noer, Jajang C. Noer saat membaca naskah La Galigo dalam pembukan Makassar Writers Festival. ANT/Dewi Fajriani.

Metrotvnews.com, Jakarta: Sutradara Indonesia saat ini dinilai memiliki kapasitas menggarap ulang film Penumpasan Pengkhianatan G30S/PKI yang digarap Arifin C. Noer. Saat penggarapan ulang, sejumlah pihak bisa menambahkan fakta-fakta baru terkait peristiwa ini.

Jajang C. Noer, istri sutradara film Penumpasan Pengkhianatan G30S/PKI, menyebut ada banyak fakta baru yang ditemukan. Ia mencontohkan hasil forensik dari Universitas Indonesia yang mengatakan tak adanya penganiayaan yang dilakukan PKI.

"Para jendral waktu itu menurut forensik UI (Universitas Indonesia) kan bilang, kalau pada masa itu tidak ada penyiksaan sama sekali," ungkap Jajang dalam diskusi Perspektif Indonesia di Gado-Gado Boplo, Menteng, Jakarta, Sabtu 23 September 2017.

Penggarapan ulang tak hanya bisa memasukkan fakta baru dari peristiwa tersebut. Kualitas gambar, data, dan teknik pengolahan film juga bisa lebih menarik.

"Paling pasti, bia melengkapi data-data sejarah. Dengan kemajuan film yang lebih mudah dan bagus. Maka bisa ‎lebih baik data sebenarnya yang bisa diungkap," terang Jajang.

Film yang telah digarap ulang bisa ditonton berbagai kalangan, termasuk anak-anak. Lagipula, film yang dibuat tahun 1984 itu pun layak ditonton usia di bawah umur.

"Menurut KPAI yang sadis itu game-game di internet dan film-film di internet. Kalau ini (film G30S/PKI) tidak ada yang sadis kok. Tidak ada sama sekali, dibanding film-film lain yang ada di bioskop. Ini semua kalau digarap ulang bagus untuk bangsa," tukas Jajang yang juga aktris senior di bidang perfilman maupun teater.

Presiden Joko Widodo mengusulkan film Penumpasan Pengkhianatan G30S/PKI digarap ulang. Penggarapan ulang dinilai bisa membuat film sejarah tersebut lebih menarik dan diterima generasi milenial.

"Ya nonton film apalagi mengenai sejarah itu penting akan tetapi untuk anak-anak milenial yang sekarang tentu saja mestinya dibuatkan lagi film yang memang bisa masuk ke mereka," kata Presiden.

Jokowi berharap, penggarapan ulang bisa membuat generasi milenial sadar dengan bahaya laten komunis. "Ya akan lebih baik kalau ada versi yang paling baru, agar lebih kekinian, bisa masuk ke generasi-generasi milenial," ungkap Presiden.


(DRI)