Aksara Pegon dan Identitas Islam Indonesia

Sobih AW Adnan    •    Rabu, 19 Oct 2016 19:06 WIB
hari santrihari santri nasional
Aksara Pegon dan Identitas Islam Indonesia
Petugas menjukkan bagian kerusakan naskah kuno berbahasa Arab Pegon dengan media kertas Daluang di Museum Sri Baduga Bandung, Jawa Barat/ANTARA FOTO/Agus Bebeng

Metrotvnews.com, Jakarta: Sejumlah pengkaji naskah kuno dan kesusasteraan klasik menyarankan Pemerintah untuk melestarikan penggunaan aksara Pegon sebagai warisan budaya Indonesia. Pendapat ini muncul dalam Regional Conference on Revitalization of Academic Tradition of Pesantren yang digelar Subdit Pesantren dan Madrasah Diniyah Pendis Kemenag RI dalam rangka menyambut Hari Santri yang jatuh pada 22 Oktober nanti.

Peneliti asal Universitas Leiden, Belanda Dick van Der Meij dalam presentasinya memaparkan bahwa aksara Pegon yang mirip dengan huruf Arab tersebut merupakan bukti kreatifitas para ulama di Nusantara. Hingga saat ini, penggunaan Pegon masih lestari di kalangan pesantren.

"Pegon merupakan hasil kreatifitas ulama yang mengaktualisasikan aksara Arab di tengah masyarakat Jawa, Madura, Sunda, dan daerah lainnya," kata van Der Meij.

Aksara Pegon ditemukan sejak abad 15, lebih akhir dari aksara Jawi yang sudah dikenal pada abad 14 melalui batu nisan. 


Seminar Regional Conference on Revitalization of Academic Tradition of Pesantren, ?Ancol, 13-15 Oktober 2016/ist

Filolog asal Universitas Indonesia (UI) Titik Pudjiastuti mengatakan Pegon memiliki kekhasan masing-masing di setiap daerah yang berbeda. Sayangnya, kata dia, belum ada buku standar yang disepakati kalangan pesantren tentang pedoman penulisan dengan aksara Pegon. 

"Aksara Pegon sebagian besar hasil adaptasi dari aksara Jawi berbahasa Melayu yang sudah lebih dulu berkembang di Sumatera dan sekitarnya. Hanya ada dua huruf yang berasal adapatasi huruf Jawa, yaitu dha dan tha," kata Titik.

Sementara itu, peneliti naskah kuno lulusan UI Mahrus El-Mawa mengatakan pentingnya pelestarian Pegon sebagai warisan budaya Indonesia ini bisa dituangkan melalui mata pelajaran wajib di sekolah-sekolah maupun kampus. Pegon, kata Mahrus, merupakan sumbangan terbesar umat Islam di Indonesia.

"Pegon ini setara dengan huruf Parsi, Urdu, dan semacamnya," kata dia.

Selain para filolog, pertemuan regional yang berlangsung pada 13 hingga 15 Oktober di Ancol, Jakarta ini juga dihadiri perwakilan Kantor Wilayah Kementerian Agama RI se-Indonesia, serta pengurus asosiasi pesantren Nahdlatul Ulama Rabitah Ma’had al-Islamiyyah (RMI) NU.


(SBH)

Anies Janji Beri Gaji Bulanan untuk Sopir Angkot

Anies Janji Beri Gaji Bulanan untuk Sopir Angkot

35 minutes Ago

Calon Gubernur DKI Jakarta nomor urut 3 Anies Baswedan memiliki program untuk mengintegrasi sel…

BERITA LAINNYA