FOKUS

Bergerak Bersama Cegah HIV-AIDS

Sobih AW Adnan    •    Selasa, 29 Nov 2016 20:20 WIB
hari aidsaids
Bergerak Bersama Cegah HIV-AIDS
Aids Day/AP Photo/Lee Jin-man

Metrotvnews.com, Jakarta: Human immunodeficiency virus (HIV) dan Acquired Immune Deficiency Syndrome (AIDS) menjadi momok menakutkan bagi masyarakat dunia. Di Indonesia, teror penyakit ini mulai menguat sejak pertengahan 1987.

Dalam satu dekade terakhir, jumlah kasus HIV/AIDS di Indonesia relatif meningkat. Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI menyebutkan, indeks kumulatif kasus terinfeksi HIV hingga Maret 2016 sebanyak 198.219 kasus. Membengkak dari tahun sebelumnya yang hanya 184.929 kasus.

Sementara berdasarkan persebaran wilayah, jumlah infeksi HIV tertinggi berada di DKI Jakarta dengan 40.500 kasus, disusul Jawa Timur 26.052, Papua 21.474, Jawa Barat 18.727, dan Jawa Tengah 13.547.

Kelompok rentan

Komisi Penanggulangan Aids (KPA) merilis siapa saja yang rentan terkena serangan HIV/AIDS. Khusus di Ibu Kota, Sekretaris KPA DKI Jakarta Rohana Manggala menyebut ada empat kelompok yang rawan terkena mematikan itu. Mereka adalah para pekerja seks komersial (PSK), pengguna narkotika, psikotropika, dan zat aditif (Napza) jarum suntik, lelaki yang berhubungan sesama jenis (LSL), serta waria.



Potensi paling besar dimiliki LSL dan PSK. Sementara tingkat penularan tertinggi ada pada kelompok pengguna napza suntik. Sedangkan populasi rentan terbesar justru mengarah pada ibu hamil, penderita tuberkulosis (TBC), serta kelompok lelaki yang jauh dari keluarga.

Perang terhadap HIV/AIDS pun gencar dilakukan di berbagai daerah. Di Jakarta digulirkan program Fast Track Ending AIDS Epidemik 2020 untuk menanggulangi bahaya virus tersebut. Pemerintah melakukan pendekatan penanganan HIV/AIDS dengan program 90-90-90.

Program 90-90-90 menafsirkan bahwa penderita HIV/AIDS di Ibu Kota pada 2020 akan 92.919 jiwa. Melalui usaha tersebut, 90 persen mereka yang terinfeksi diusahakan menyadari statusnya. Kemudian, 90 persen orang dengan status HIV mendapatkan akses layanan dan pengobatan, sementara 90 persen ODHA mendapat pengobatan dan dukungan Anti Retro Viral (ARV). Paket kerja ini diharapkan bisa  menurunkan jumlah virus HIV dalam darah penderita hingga ke level tidak terdeteksi. 

"Dengan begitu diharapkan persebaran HIV di Jakarta berkurang," kata Rohana kepada Metrotvnews.com, Jumat (25/11/2016).

Baca: Empat Kelompok Masyarakat Ibu Kota Rawan HIV/AIDS 

Pencegahan

Pengurus Yayasan AIDS Indonesia Bernhard Adilaksono mengatakan diperlukan edukasi dan sosialisasi mengenai HIV/AIDS kepada masyarakat luas. Gejala HIV/AIDS bisa dideteksi secara dini melalui tes darah. Jika itu dilakukan, angka harapan hidup ODHA bisa lebih tinggi.

"Mereka biasanya merasa khawatir. Jika positif apa yang harus dilakukan? Pengobatannya bagaimana? Banyak yang belum teredukasi," kata Bernhard di Jakarta, sebagaimana dimuat Media Indonesia, pekan lalu.

Meski begitu, Yayasan AIDS Indonesia melaporkan bahwa angka kematian yang disebabkan HIV/AIDS mulai menampakkan penurunan. Kondisi itu dimulai pada 2014 dari 0,94 % menjadi 0,02%.

Untuk saat ini, pencegahan HIV/AIDS cukup signifikan bisa melalui terapi obat ARV. Obat ini dipercaya bisa memperlambat pertumbuhan virus yang bergerak dalam tubuh ODHA.

Achi, 38, misalnya. Dia didiagnosis positif HIV sejak 2005 dan mulai terapi ARV pada 2007. Sebagai ODHA, ia secara rutin meminum obat sesuai petunjuk dokter. Obat itu disarankan diminum setiap hari selama seumur hidup.

"Kalau tidak, tubuh kita akan resisten dan berpotensi terkena penyakit yang bisa memicu AIDS," kata dia.

Kini, Achi sudah mempunyai anak berusia 2,5 tahun. Sesuatu yang amat ia khawatirkan pun tidak terjadi. Anaknya tidak turut divonis terkena HIV. 

Stigma miring 

Meski kerap dipicu hubungan seksual, namun tidak semua ODHA mesti memiliki cerita masa lalu yang kelam. 

Komisi Ahli Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) Pusat, Abdul Muiz Ghazali mengatakan, stigma negatif yang sering diterima ODHA memicu terhambatnya proses pencegahan penularan HIV/AIDS di Indonesia. Sebab, kata dia, salah satu pendorong kesembuhan ODHA paling manjur adalah adanya dukungan, terutama dari lingkungan terdekatnya.

"Stigma miring itu timbul akibat kekurang-pahaman masyarakat mengenai sebab-sebab teridapnya HIV/AIDS. Misi kita menjaga diri dari HIV/AIDS, tetapi itu tidak boleh menggugurkan sikap kemanusiaan dan kepedulian kepada ODHA," kata Muiz kepada Metrotvnews.com, Selasa (29/11/2016).

Penularan HIV/AIDS tidak hanya disebabkan hubungan seks bebas. Muiz menjelaskan bahwa virus mematikan itu bisa ada lantaran transfusi darah, jarum suntik yang terkontaminasi, hubungan ibu dan bayi selama kehamilan, bersalin, atau menyusui, serta bentuk kontak lainnya dengan cairan-cairan tubuh.

"Tidak ada yang membahayakan dalam memberikan mereka sebuah dukungan, atau membangun pergaulan yang hangat," kata dia.

Kesadaran masyarakat merupakan pekerjaan rumah dan tanggung jawab pemerintah. Pemerintah, kata dia, mestinya lebih menggenjot pengetahuan masyarakat seputar HIV/AIDS melalui sosialisasi dan penyuluhan.

"Terutama, pelayanan kesehatan yang tidak diskriminatif," ujar dia.

Muiz menjelaskan, saat ini PKBI menggerakkan perwakilan-perwakilan di daerah untuk meningkatkan sosialisasi sekaligus pendampingan ODHA. Cara ini, kata dia, sedikit banyak mengurangi kekeliruan di tengah masyarakat terkait cap miring yang kerap disasarkan kepada ODHA.

"Semua tidak hanya berkewajiban mencegah, tapi juga mendukung kesembuhan," kata Muiz.




(SBH)

Ahok Tegaskan tak Pernah Umbar Janji saat Kampanye

Ahok Tegaskan tak Pernah Umbar Janji saat Kampanye

28 minutes Ago

Dia menegaskan hanya menyampaikan kinerjanya saat menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta defenit…

BERITA LAINNYA