Konsep Pendidikan Inklusi Disebut Belum Matang

   •    Selasa, 18 Jul 2017 10:43 WIB
penyandang disabilitasbullying
Konsep Pendidikan Inklusi Disebut Belum Matang
Ilustrasi. (MI/Arya Manggala)

Metrotvnews.com, Jakarta: Pendiri Advokasi Inklusi Disabilitas Indonesia (Audisi) Bahrul Fuad menyebut perundungan yang dialami anak-anak berkebutuhan khusus di lingkungan pendidikan merupakan bentuk kegagalan pemerintah dalam mewujudkan pendidikan inklusi.

Fuad menilai konsep pendidikan inklusi yang digagas pemerintah belum jelas sasarannya. Selama ini fokus pendidikan inklusi hanya soal penyandang disabilitasnya, bukan pada lingkungan sosial yang menjadi hambatan utama.

"Yang kita tahu persoalan disabilitas itu bukan pada diri penyandang disabilutasnya tetapi dari luar. Misalnya stigma negatif, stereotip, dan perspektif negatif terhadap penyandang disabilitas yang semestinya pemerintah fokus juga," ungkap Bahrul dalam Primetime News, Senin 17 Juli 2017.

Menurut Bahrul mestinya pendidikan inklusi dapay menerima keseluruhan perbedaan termasuk di dalamnya yang dialami oleh anak-anak berkebutuhan khusus. Perbedaan harus diterima sebagai sebuah keragaman.

Selama ini, kata Bahrul, yang terjadi justru penyandang disabilitas dipandang sebagai kekurangan dan hambatan sehingga solusi yang dilakukan lembaga pendidikan hanya fokus pada penyandang disabilitasnya bukan bagaimana memberikan apa yang dibutuhkan. 

"Yang semestinya dilakukan adalah mempersiapkan lingkungan termasuk lingkungan fisik dan lingkungan sosial dimana teman-temannya, guru-gurunya dan orang di sekitar mereka," katanya.

Kondisi pendidikan inklusi yang belum matang inilah yang diduga menjadi penyebab mengapa aksi perundungan masih kerap terjadi pada anak-anak berkebutuhan khusus. 
Memang, pada akhirnya akan ada sanksi sebagai konsekuensi. Namun menurut Bahrul sanksi saja tidak cukup untuk membuat jera dan menyadarkan masyarakat tentang hak-hak penyandnag disabilitas.

"Yang lebih penting sekarang adalah pemerintah dan lembaga lain termasuk organisasi penyandang disabilitas melakukan sosialisasi, edukasi kepada masyarakat tentang apa itu disabilitas dan bagiamana harus memperlakukan mereka secara kemanusiaan dan beradab," jelasnya.




(MEL)