FOKUS

Mengganjar Predator Anak

Sobih AW Adnan    •    Senin, 20 Mar 2017 19:57 WIB
pedofilia
Mengganjar Predator Anak
Kampanye perlindungan anak disosialisasikan pada kegiatan Hari Tanpa Kendaraan Bermotor di Jalanan Dago Bandung, Jawa Barat, Minggu (21/9)./ANTARA/Agus Bebeng

Metrotvnews.com, Jakarta: Mulanya sekadar kode. Pais, adalah cakapan Yunani merujuk anak-anak, sementara philia, memiliki makna cinta atau persahabatan. Gabungan dari keduanya; pedofilia, menjadi simbol era modern bagi mereka yang berselera 'tak wajar' dalam urusan seksualitas.

Wajar tak wajar, tentu mengundang perdebatan. Pedofilia sebagai penyakit atau kejahatan; selalu menjadi bahan sawala. 

Tapi ihwal kabar tempo hari, pasti menohok. Ketika Polisi menemukan akun Facebook berlabel Official Loly Candy's 18+. Akun grup yang dibuat pada September 2014 itu memiliki anggota sebanyak 7.497 orang. Isinya, 500 video dan 100 foto berkonten kekerasan terhadap anak yang terus menjamur.

"Itu belum termasuk yang di WhatsApp. Bisa ribuan. Kita masih analisis apakah foto itu dari Asia atau negara lain," ujar Kepala Subdirektorat Cyber Crime Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Metro Jaya Ajun Komisaris Besar Roberto Pasaribu di Jakarta.

Semacam sinyal, kata Roberto. Temuan ini adalah isyarat bahwa Indonesia tengah menjadi sasaran para predator kekerasan seksual anak.

Penyakit jahat

Kebanyakan ahli medis memasukkan pedofilia ke dalam kategori khusus. Kelainan yang keumuman menyerang orang dewasa itu, biasanya ditandai dengan suatu kepentingan seksual primer atau eksklusif pada obyek yang berusia di bawahnya. 

Seorang psikiater asal Wina, Richard von Krafft-Ebing mengenalkan istilah erotica pedophilia kali pertama pada 1886. Dalam hasil penelitiannya, Ebing menggarisbawahi beberapa tipologi pelaku, asal usul dan faktor penyebab penyimpangan seksual tersebut. Nyaris semua kesimpulan mengarah pada klasifikasi perilaku itu pada kejahatan pelecehan seksual terhadap anak-anak.

Berbeda dengan pandangan Klaus Beier, ahli seksual asal Jerman ini lebih menganggap pedofilia sebagai ketentuan bagi seseorang yang tidak terelakkan. Ia menyebutnya takdir. Bukan sebuah kehendak yang bisa dipilih atau dihindari. 

"Meskipun sulit diukur, prevalensi pedofil adalah satu persen dari populasi di seluruh dunia," ujar dia.

Maka, kata dia, dibanding urus-urus hukuman apa yang tepat, lebih baik menggencarkan pencegahan langsung di tengah masyarakat. 

Pedofil dianggapnya tak bisa dikategorikan sebagai gangguan psikis karena pelaku bertindak secara sadar. Biasanya juga, pelaku dihantui perasaan bersalah atas perbuatan yang dilakukan secara moral dan hukum. 

Apapun itu, jika memang penyakit, tak gamang lagi jika harus dianggap sebagai penyakit jahat. Penyakit yang menelan korban anak-anak tak bersalah. Tentunya, kurang layak mendapat toleransi.



Jejak para pemangsa

Pedofilia, memang bukan perkara baru. Menengok data ECPAT pada September 2016 hingga 2017, tercatat 157 anak menjadi korban para pedofil. Parahnya lagi, jumlah itu cuma yang dihimpun dari enam kasus besar kejahatan anak. Persebarannya pun, hanya yang dilaporkan dari 4 provinsi dan 6 kabupaten di Indonesia.

Di tahun sebelumnya, ancaman serupa juga tak kalah rawan. Monitoring hasil Institute for Criminal Justice Reform (ICJR) mendapat 29 laporan kejahatan anak dalam dunia maya di sepanjang 2015. Yang sedikit lucu, dari seabrek laporan itu, cuma satu kasus yang bisa mulus ke tahap penuntutan.

Belum lagi jika menilik rekaman kasus yang disorot Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI). Bisa disimpulkan, angka kasus kejahatan seksual terhadap anak cenderung meningkat dari tahun ke tahunnya. Pada 2012, perilaku asusila itu menelan korban 256 anak. Sementara pada 2013 menjadi 378 orang, dengan klasifikasi 60 persen anak laki-laki dan 40 persen perempuan.

Sebenarnya bukan cuma Indonesia. Wabah ini juga menggejala hampir di tiap-tiap negara, terutama di Asia Tenggara.

Dalam satu pernyataannya, ECPAT memang pernah menyebutkan bahwa kawasan Asia Tenggara tengah menjadi target pariwisata seks anak. Thailand dan Philipina, dua negara dengan perkembangan industri seksnya yang dahsyat itu dinilai telah menyumbang dampak negatif.

Thailand rupanya lebih sigap. Selama dua tahun terakhir, Negeri Gajah Putih itu sudah melakukan langkah-langkah efektif dalam memerangi pariwisata seks anak. Tapi imbasnya, para pemain perkara cabul itu hijrah ke Kamboja dan Vietnam, termasuk Indonesia.

Kembali ke Indonesia, ECPAT menandai tiga daerah rawan. Ialah Bali, Lombok, dan Batam. Itu pun, tidak menutup kemungkinan kejahatan serupa mengancam di belahan wilayah Indonesia lainnya.

Di Italia, jumlah korban pedofil berusia 1–6 tahun mencapai 10 persen, usia 7–12 tahun sebanyak 30 persen, sementara 13–17 tahun hingga 60 persen. Sedangkan dari usia pelaku, 18–30 tahun sebanyak 30 persen, 31 – 40 tahun 34 persen, usia 41–50 tahun 19 persen, dan usia 51–80 sebanyak 17 persen. 

Yang mengejutkan, ECPAT menyebut 90 persen kasus pedofilia di dunia melibatkan pelaku laki-laki.

Memberi titik jera

Di dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP), pedofilia ditarik dalam pengertian sebuah perbuatan cabul yang dilakukan seorang dewasa dengan obyek anak bawah umur. 

R. Soesilo dalam KUHP serta Komentar-Komentarnya (1980) bahkan berbicara lebih blak-blakan. Pedofilia dianggap sebagai pelanggaran norma susila dan keji. 

Sederet UU tentang anak lalu disahkan sebagai political will perhatian pemerintah terhadap perlindungan anak. Aturan itu antara lain UU No 23/2002 tentang Perlindungan Anak yang sudah direvisi melalui UU No 35/2014, serta UU No 11/2012 tentang Sistem Peradilan Anak, Undang-Undang No 10 Tahun 2012 tentang Pengesahan Protokol Opsional Konvensi Hak-Hak Anak tentang Penjualan Anak, Prostitusi Anak, dan Pornografi Anak. 



Namun semuanya, masih dianggap belum menjerakan lantaran cuma mengancam rata-rata 5 sampai 15 tahun kurungan penjara bagi si predator. Anggapan ini seiring dengan perlunya mengganjar dengan hukuman berlapis, termasuk kebiri.

Ini kejahatan kriminal yang amat luar biasa. Extra ordinary crime dan membutuhkan penanganan otoritas hukum yang luar biasa pula. Begitu ketika Ketua KPAI Arist Merdeka Sirait saat mengomentari pelaku pedofilia.

Bukan sembarang ide kebiri muncul di tengah orang-orang yang geram terhadap kekerasan anak. Hukuman sejenis, telah lama diberlakukan di sejumlah negara. Kebiri kimiawi misalnya, mengancam pelaku pedofil dii Polandia dan sejumlah negara bagian di Amerika Serikat.

Di Asia, ada Korea Selatan. Negeri Ginseng memberlakukan hukuman kebiri sejak 2012. Lebih jauh lagi, Denmark dan Swedia, dua negara itu sudah menerapkan kebiri sejak Perang Dunia II. 

Merujuk Telegraph, ancaman kebiri pernah manjur untuk mengurangi kejahatan-kejahatan serupa di Denmark, Norwegia, dan Swedia. Tak tanggung-tanggung, angkanya bisa ditekan dari 40 ke 5 persen. 

Lalu, apa soal Indonesia tak mengganjar pedofil dengan hukuman serupa. Ya, karena selain diperlukan biaya mahal sekira 700 ribu sampai 2 juta rupiah sekali ekskusi, kebiri juga kembali menuai pro kontra lantaran dinilai belum tentu menjerakan.

Ada yang tidak terpenuhi dalam cara pandang menyelesaikan kengerian ini. Komnas Perempuan pernah bilang, urusan asusila yang tuna-perikemanusiaan itu harus ditopang dengan penegak hukum yang tegas, juga aturan main yang bisa memenuhi tiga ruang. Pertama, pemenuhan keadilan bagi korban, kedua, penjeraan, dan ketiga, mencegah keberulangan.
Kuncinya, tanggung jawab negara. Negara harus hadir di tengah anak-anak. Penindakan yang tegas, dan jaminan keamanan demi tercegahnya persoalan serupa. 

Jalan akhirnya,  pencegahan memang jauh lebih penting. Orang tua dan keluarga dituntut mengambil peran banyak dalam praktik yang satu ini. Apalagi, para predator tak cuma mengancam dari balik jendela. Tapi sudah beroperasi di dunia maya.




(SBH)