FOKUS

Demi Jakarta

Sobih AW Adnan    •    Rabu, 19 Apr 2017 21:28 WIB
pilgub dki 2017
Demi Jakarta
Paslon nomor urut 2 dan 3 usai debat publik Pilkada Jakarta putaran kedua di Hotel Bidakara, Jakarta, Rabu (12/4)/MI Ramdani

Metrotvnews.com, Jakarta: Para pemimpin politik tidak boleh lupa; mereka berasal dari rakyat, bukan berada di atas rakyat.
 
Ucapan Presiden Soekarno itu, kiranya layak dijadikan pembuka untuk ucapan selamat kepada Anies Rasyid Baswedan dan Sandiaga Uno. Sebagaimana yang disaksikan seharian ini, exit poll dan hitung cepat semua lembaga survei menunjukkan bahwa mereka telah mendapat kepercayaan dari pemilih untuk memimpin Ibu Kota hingga lima tahun ke depan.
 
Perolehan suara pasangan calon (paslon) nomor piihan tiga, Anies-Sandi jauh meninggalkan nomor urut dua, Basuki 'Ahok' Tjahaja Purnama-Djarot Saiful Hidayat. Selisihnya antara 16% hingga 17%.
 
Ya, persis dalam judul buku yang ditulis Bung Besar itu, Anies-Sandi wajib menjadi; Penyambung Lidah Rakyat. Gubernur dan wakilnya, adalah penghubung kepentingan warga. Memimpin untuk melayani. Bukan berjarak, apalagi menindas.
 
Sementara kepada Ahok-Djarot, tak ada yang pantas terucap selain apresiasi dan rasa terima kasih setinggi-tingginya. Kelegawaan jiwa dan pernyataan siap kalah yang telah terlontar jauh-jauh hari, sudah barang tentu mewarisi tradisi berpolitik yang kian beradab. 
 
Selebihnya, kemenangan paling sejati adalah berlangsungnya Pilkada DKI Jakarta yang aman, damai, dan demokratis. Kemenangan milik semua warga. Kemenangan menuju Ibu Kota jadi lebih baik.


 
Ongkos besar
 
Diakui atau tidak, Pilkada DKI Jakarta 2017 memang berongkos besar. Bukan soal dana yang memang dikabarkan menelan hampir Rp1 triliun, tapi betapa emosi publik di sepanjang prosesnya turut terkuras. Tak cuma yang ada di Jakarta, hiruk pikuknya nyaris dirasakan seluruh masyarakat Indonesia.

Banyak yang bilang; pilgub rasa pilpres.
 
Sekadar mengingat. Sejak mula, Pilgub Jakarta sudah amat menyedot perhatian. Bahkan keriuhan demi keriuhan tak jarang membuat banyak orang khawatir. Misalnya, akankah nasib persatuan Indonesia bisa remuk lantaran perkara dukung mendukung paslon gubernur di satu provinsi saja. 
 
Kerukunan dalam kebinekaan sering menjelma kata kunci yang dipertaruhkan. Polarisasi yang terbentuk pun merangsek hingga ke nilai-nilai sensitif dan pribadi.
 
Terus terang, kemajemukan Indonesia sempat ketar-ketir dengan menguatnya isu suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA) sebagai isu kampanye baik dalam putaran pertama maupun kedua. 
 
Pada 1950-an, Clifford Geertz menyebut hal ini sebagai ciri bangkitnya politik aliran. Jika pada Pemilu 1999, sentimen anti kepemimpinan perempuan hadir di tengah partai-partai Islam, maka dalam Pilgub DKI 2017, pertarungannya kerap memanfaatkan simbol-simbol keagamaan.
 
Imbasnya, intimidasi, perpecahan, hingga konflik horisontal tampak begitu kental. Dan lagi-lagi, tidak hanya berputar regional, tetapi berkadar nasional. Sampai-sampai, di beberapa persoalan Presiden Joko Widodo terpaksa turun tangan.
 
Delapan bulan lebih, tahap demi tahap pertarungan paslon pemimpin Jakarta ini bergulir. Bersyukur, ibarat ujung, hari ini tak terbentuk terlalu runcing. Tapi mengingat ongkos anggaran dan sosial yang terlampau mahal, sudah semestinya Anies-Sandi tidak menyia-nyiakan amanat yang telah didapatkan.


Anies Baswedan (kanan) dan Sandiaga Uno (kiri) berjabat tangan usai memberikan keterangan pers menanggapi hasil hitung cepat Pilkada DKI Jakarta putaran kedua di Jakarta, Rabu (19/4)/ANTARA FOTO/Dedi Wijaya
 

Yang ditunggu
 
Ahok-Djarot masih berkesempatan menyempurnakan karyanya dalam pembangunan DKI Jakarta hingga Oktober 2017 mendatang. Setelah itu, secara estafet, Anies-Sandi boleh melanjutkan.
 
Sepanjang pagelaran kampanye, memang, Anies-Sandi tak banyak menawarkan gagasan baru selain masyhur dengan program penguatan kewirausahaan berjuluk OKE-OCE. Selebihnya, kedua paslon ini bertekad memberikan nilai tambah terhadap gagasan-gagasan yang sudah ada. Sebut saja, Kartu Jakarta Pintar (KJP), dijanjikan masih ada jika kepercayaan sebagai gubernur diberikan kepadanya. Malah, lepas dari negatif-positifnya, KJP yang disempurnakan menjadi KJP Plus; memiliki kemampuan tarik tunai.
 
Berikutnya, persoalan-persoalan yang amat karib dengan Jakarta semenjak lampau. Anies-Sandi, jangan bosan berurusan dengan banjir, dan utamanya; timbang-timbang soal penggusuran. Bolehlah jika dalam kampanye Anies kerap berjanji mengubah kebijakan itu, tinggal tunaikan saja bagaimana caranya, yang jelas, warga sudah menunggu.
 
Melompat kepada hal yang jauh lebih vital, yakni ihwal semangat kebersamaan dan kerukunan. Kemajemukan Jakarta, pada kenyataannya masih terserang kekurang-percayaan diri untuk bangkit, sampai hari ini. Pasalnya, kemenangan paslon nomor tiga itu masih saja ada yang menganalogikan kemenangan satu kelompok, kemenangan umat Islam. Bagaimana dengan yang lain? Cuma Anies-Sandiri yang bisa menjawabnya.
 
"Saya akan sarankan itu ke Anies-Sandi. Kita ini anak bangsa, anak-anak Indonesia, kita di satu kapal, kita harus bersatu, rukun, harus bersatu semua agama, suku," ucapan Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo di Roemah Djoeang, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, siang tadi ini, bolehlah dianggap sebagai jaminan.
 
Warga DKI Jakarta juga menunggu realisasi ucapan bijak Ahok tentang janji akan tetap bersedia membantu pasangan pemimpin baru demi pembangunan Jakarta.  "Selamat kepada pak Anies dan pak Sandi. Kita bangun Jakarta bersama, Jakarta rumah kita."

Ucapan itu, tentu jangan sampai cuma memberikan ketenangan sesaat. Alangkah baiknya jika calon gubernur petahana itu berkenan berbagi secara terbuka tentang apa-apa yang dinilai penting dalam rangka mengantarkan DKI Jakarta makin berjaya.
 
Kalah legawa, menang tak jemawa. Mengenai keras-lembek yang dirasakan di sepanjang pertarungan kemarin, alangkah baiknya pula mengutip kiasan Ketua Umum Partai Nasional Demokrat (NasDem) Surya Paloh tadi siang, katanya; "Tutup buku lama, buka buku baru." Saling dukung saling rangkul, demi Jakarta baru.


 


(SBH)

Kematian Saksi Kunci KTP-el (3)

Kematian Saksi Kunci KTP-el (3)

5 hours Ago

Sebuah perusahaan asal Amerika Serikat ikut menyediakan teknologi perekaman KTP-el. Terselip na…

BERITA LAINNYA