Menghajikan Indonesia

   •    Senin, 29 Aug 2016 12:14 WIB
ibadah haji
Menghajikan Indonesia
Ribuan umat muslim melakukan Thawaf (mengelilingi Ka'bah tujuh putaran) di Masjidil Haram, Mekkah, Arab Saudi. (FOTO ANTARA/Prasetyo Utomo)

Abdul Mu'ti
Sekretaris Umum PP Muhammadiyah
Dosen FITK UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta

HAJI adalah rukun Islam yang kelima, dan umat muslim meyakini ibadah ini sebagai indikator kesempurnaan keislaman. Urutan penyebutan rukun Islam dalam teks hadis dimaknai sebagai hierarki kesempurnaan berislam. Pengertiannya, sebelum menunaikan ibadah haji, seseorang harus terlebih dahulu bersyahadat, salat, puasa, dan zakat. Empat rukun Islam yang lain merupakan prasyarat untuk seseorang berhaji. Itulah bekal haji. Sebagaimana disebutkan di dalam Alquran, 'Berbekallah untuk menunaikan ibadah haji. Sesungguhnya bekal yang terbaik adalah takwa'. Demikianlah pendapat sebagian umat Islam.

Sebagian lainnya berpendapat rukun Islam tidak menjelaskan urutan pelaksanaan, tetapi kesempurnaan berislam. Secara syar'i, lima rukun Islam memiliki ketentuan pelaksanaan dan waktu yang tersendiri. Akan tetapi, menurut pendapat ini, jika semua rukun Islam tidak ditunaikan seluruhnya, seseorang belum menjadi muslim yang sejati. Menunaikan ibadah haji justru menjadi sumber motivasi untuk menunaikan rukun Islam yang lainnya.

Sebagian yang lain berpendapat seseorang dapat menjadi muslim yang sempurna walaupun tidak menunaikan ibadah haji. 'Diwajibkan bagi manusia menunaikan ibadah haji bagi mereka yang mampu untuk menuju ke Baitullah' (QS.3, Ali Imran:97). Para ulama bersepakat ada empat syarat haji, yaitu Islam, balig, berakal sehat, mampu, dan aman. Mampu meliputi empat aspek, yaitu material, intelektual, spiritual, dan mental. Seseorang yang menunaikan ibadah haji harus memiliki ekonomi yang cukup untuk biaya haji, juga nafkah untuk dirinya serta keluarga yang ditinggalkannya. Jemaah haji harus mampu memahami tata cara pelaksanaan ibadah dan kecakapan lain yang mendukung pelaksanaan ibadah. Jemaah haji seharusnya mandiri tidak bergantung kepada pembimbing haji baik dari pemerintah maupun kelompok bimbingan ibadah haji (KBIH). Yang sangat penting ialah jaminan keamanan. Termasuk dalam konteks ini ialah situasi keamanan, kuota, keterpenuhan dokumen perjalanan, kenyamanan akomodasi, dan jaminan kesehatan. Kewajiban haji gugur ketika persyaratan-persyaratan tersebut tidak terpenuhi.

Perjalanan spiritual

Haji adalah perjalanan spiritual manusia untuk meraih kesucian iman, kekuatan jiwa, dan kemuliaan hidup. Menurut sebuah hadis, ibadah haji, sebagaimana puasa, dapat membersihkan manusia dari segala dosa sebagaimana ketika mereka baru lahir dari rahim ibu. Peraih haji yang mabrur adalah calon penghuni sorga. Selesai menunaikan haji terdapat tradisi mengganti nama. Tradisi ini merupakan simbol kelahiran kembali seseorang sebagai manusia baru; manusia yang bersih dari segala dosa dan berkomitmen mengisi kehidupan masa depan dengan senantiasa berbuat kebajikan.

Ibadah haji dimulai dengan niat dari miqat. Saat itu jemaah haji mulai memakai ihram. Manusia menanggalkan seluruh kebesaran duniawinya. Ihram adalah simbol egalitarianisme kemanusiaan. Tidak ada primordialisme nasab/keturunan, rasial, material, jabatan, kebangsaan, dsb.

Setelah itu, jemaah bergerak ke Baitullah untuk menunaikan tawaf, yang menggambarkan kesatuan antarumat manusia. Putaran tawaf adalah simbolisasi perjalanan dan hidup menuju kebahagiaan. Dalam hidup harus senantiasa terikat, dekat, dan mendekatkan diri kepada Allah dengan tidak menyakiti, menghalangi, apalagi menyingkirkan sesama.

Setelah tawaf, jemaah melaksanakan sai, yakni berlari-lari kecil dari bukit Shofa ke bukit Marwa. Ibadah haji merupakan napak tilas perjuangan Hajar, istri Nabi Ibrahim, dalam menyelamatkan anaknya, Ismail. Sai berarti bekerja keras, Shofa berarti kelembutan dan kasih sayang yang tulus, sedangkan Marwa berarti tekad yang kuat, kehormatan. Sai menggambarkan perjuangan ibu menyelamatkan kehidupan anaknya. Dalam konteks kebangsaan, sai menarasikan tanggung jawab pemimpin dalam menyelamatkan dan menyejahterakan rakyatnya. Jemaah haji kemudian melanjutkan perjalanan menuju Arafah melalui Mina. Di situ jemaah melaksanakan wukuf, yaitu rukun haji yang apabila tidak ditunaikan, hajinya batal. Waqaf berarti berhenti. Ini adalah simbol bahwa suatu saat manusia perlu meninggalkan hal-hal yang bersifat duniawi. Manusia melakukan refleksi hakikat dan kesejatian hidup.

Selesai wukuf, jemaah menuju Mina untuk melontar jumrah atau menuju ke Mekah untuk menunaikan tawaf Ifadah. Ibadah melempar jumrah menggambarkan perjuangan Nabi Ibrahim melempar setan yang mengganggunya demi menunaikan pengabdiannya kepada Allah. Jumrah menggambarkan konsistensi dan keberanian manusia untuk senantiasa berada di jalan yang benar. Dalam kehidupan sekarang ini banyak orang baik dan hebat, tapi tidak mampu istikamah dalam memegang amanah karena bisikan jahat dan godaan keindahan dari orang-orang dekatnya.

Setelah itu, jemaah melakukan tahallul sughra. Mereka boleh melepaskan pakaian ihram dan melaksanakan hal-hal yang terlarang selama ihram. Selama haji, jemaah berpakaian ihram. Selama itu mereka tidak boleh memakai wewangian, pakaian berakhir (bagi laki-laki), tidak boleh berburu, membunuh binatang, mencabut tanaman, bertengkar, berkata kotor, bersetubuh, memotong kuku, menutup kepala, dan larangan lainnya. Ihram mengajarkan disiplin, kesederhanaan, kebersahajaan, kesabaran, kedamaian, dan keramahan kepada sesama manusia dan alam semesta. Tahallul mengajarkan kepada manusia bahwa dalam hidup ini ada masa perjuangan dan saat menikmati buah usaha. No pain no gain. Siapa menanam mengetam.

Haji untuk Indonesia

Kemuliaan dan nilai-nilai haji tersebut sering kali hilang. Haji dimaknai sebatas kegiatan ritual formal sehingga tidak membentuk karakter utama. Tidak sedikit kaum muslim yang memaksakan diri untuk berhaji dengan menyuap pejabat penentu kuota, memalsukan paspor, dan bentuk penipuan lainnya. Haji adalah perbuatan utama sehingga harus diraih dengan rezeki yang halal dan cara-cara yang benar. Haji adalah privilese dari Allah, sehingga jika belum dapat berangkat karena keterbatasan kuota, harus dimaknai sebagai kasih sayang Allah.

Pemerintah bersama-sama para ulama, ormas Islam, dan KBIH perlu menanamkan pemahaman bahwa masih banyak ladang ibadah lain selain haji. Perlu pemahaman dan aturan yang sangat ketat untuk masyarakat yang menunaikan haji berulang kali. Kewajiban haji hanya satu kali, dan bahwa Rasulullah Muhammad SAW hanya sekali berhaji. Walaupun demikian, tetap diperlukan sistem informasi haji yang lebih baik dan penetapan kuota yang adil, serta sanksi hukum yang tegas bagi siapa pun yang melanggar perundangan-undangan haji.

Berhaji bukanlah untuk memamerkan kekuatan, kekayaan, apalagi untuk berbisnis. Allah melaknat mereka yang berhaji dengan niat bisnis atau membisniskan haji. Tidak jarang terjadi selama di Tanah Suci seseorang berbisnis badal haji, menjadi joki tawaf, memeras saat tahallul, atau melakukan mark up harga binatang dam. Kecenderungan ini terjadi karena lemahnya kemandirian jemaah haji baik dalam ibadah, kecakapan hidup, ataupun pelayanan.

Sudah seharusnya pemerintah memperbaiki pelayanan manasik, mengawasi secara saksama biro haji dan KBIH, serta memberikan sanksi administratif dan hukum bagi KBIH dan biro yang nakal. Haji adalah ibadah yang mengajarkan kelembutan, kejujuran, keramahan, kesabaran, toleransi, dan kerja keras. Haji adalah ibadah kemanusiaan, dengan kita memanusiakan, memuliakan, dan menyelamatkan sesama manusia. Lebih dari itu, haji mendidik manusia untuk tidak melampaui batas, menindas sesama, dan merusak alam semesta demi mencapai kebahagiaan pribadi dengan menindas dan menyingkirkan sesama.

Kehidupan sosial dan kebangsaan kita sekrang ini sangat jauh dari nilai-nilai haji. Korupsi, kekerasan, intoleransi, perdagangan manusia, dan eksploitasi alam masih merajalela. Inilah saatnya kita menghajikan Indonesia.


(ADM)