Pindah Haluan melalui SBMPTN

   •    Selasa, 16 May 2017 16:38 WIB
pendidikansbmptnujian sbmptn
Pindah Haluan melalui SBMPTN
Ilustrasi: Peserta SBMPTN 2016 mengikuti ujian di Fakultas Psikologi, Universitas Indonesia, Depok, Jawa Barat. Foto: MI/Bary Fathahilah.

Metrotvnews.com, Jakarta: Peserta seleksi bersama masuk perguruan tinggi negeri (SBMPTN) tidak diwajibkan mengikuti tes sesuai jurusan di sekolahnya. Alhasil, tidak sedikit peserta yang mengambil jurusan berbeda dari yang selama ini dipelajari di sekolah.

Kesempatan ini dimanfaatkan Nurafny Zahra, pelajar lulusan SMAN 58, Jakarta Timur. Afny, sapaannya, sejatinya masuk jurusan IPA di SMA. Namun, kecintaannya pada bidang sosial, humaniora (soshum), dan bahasa membuatnya memilih jurusan IPS dalam SBMPTN 2017.

"Setelah UN (ujian nasional) langsung ambil kelas super intensif di tempat bimbingan belajar selama satu bulan untuk belajar IPS. Belajarnya hampir setiap hari di tempat les, hanya seminggu sekali liburnya," ujar Afny di UIN Syarif Hidayatullah, Ciputat, Kota Tangerang Selatan, Banten, Selasa 16 Mei 2017. 

Dia memilih jurusan pendidikan bahasa dan sastra Indonesia serta ilmu pemerintahan di Universitas Singaperbangsa, Karawang, Jawa Barat, di pilihan pertama dan kedua. Pendidikan Bahasa Jerman di Universitas Negeri Jakarta menjadi pilihan ketiga Afny.

Serupa tapi tak sama disampakan Susy Widyastuti, yang mendampingi anaknya, Melati, ujian SBMPTN di UIN Syarif Hidayatullah. Dia menuturkan, sejatinya Melati mengambil jurusan IPA saat sekolah tetapi akhirnya memilih porgram studi jurusan IPS pada SBMPTN.

"Awalnya anak saya mau ambil kedokteran sesuai sekolahnya di IPA. Tapi, dia kemudian pindah ke IPS dan ambil hukum karena terpengaruh ayahnya juga yang pengacara," kata Susy di depan Aulamadya, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Jurusan hukum di Universitas Indonesia (UI), Universitas Padjadjaran (Unpad), dan Universitas Brawijaya (Unibraw) menjadi pilihan. Susy mengaku, anaknya sejatinya memiliki kesempatan lulus saat seleksi nasional masuk PTN (SNMPTN) karena memiliki nilai rapor memuaskan. 

Baca: Tekad Penyandang Disabilitas Ikut SBMPTN

Saat itu, Susy melarang anaknya memilih universitas di luar Jakarta yang memiliki persaingan lebih ketat. Namun, akhirnya dia menyesalkan keputusannya itu.

"Saya juga tidak tahu kalau sekolahnya di-blacklist sama universitas tersebut. Padahal kalau dia pilih universitas lain pasti masuk. Jadi sekarang ambil hukum semua dan boleh di universitas di luar Jakarta," tambah dia. (Lis Pratiwi)




(OGI)

Fredrich Menduga Majelis Hakim tak Adil

Fredrich Menduga Majelis Hakim tak Adil

6 hours Ago

Fredrich menyesalkan sikap JPU KPK yang dinilai sengaja tidak mau menghadirkan sejumlah saksi k…

BERITA LAINNYA