Sosiolog: Semangat Kepahlawanan yang Salah Mendorong Orang Melakukan Kekerasan

   •    Jumat, 15 Sep 2017 09:44 WIB
kekerasan
Sosiolog: Semangat Kepahlawanan yang Salah Mendorong Orang Melakukan Kekerasan
Sosiolog Devie Rachmawati. (Foto: MI/Arya Manggala)

Metrotvnews.com, Jakarta: Kebanyakan kasus kekerasan yang melibatkan banyak orang terjadi lantaran hal sepele. Misalnya salah satu pihak tak terima jika pasangannya digoda orang lain hingga berujung pengerahan sekelompok orang untuk membalaskan sakit hati.

Tetapi, menurut Sosiolog Devie Rachmawati, apa yang dianggap sepele oleh orang lain bisa jadi dianggap serius oleh mereka yang merasakannya langsung.

"Bagi masyarakat yang merasakannya lalu kemudian ada benih-benih ketidakadilan yang panjang, ini akan menjadi persoalan yang tidak sederhana," ungkap Devie, dalam News Story Insight (NSI), Kamis 14 September 2017.

Anggapan yang tak sederhana inilah yang kemudian menyeret masyarakat ke hal yang jauh lebih besar.

Pemicu mungkin akan menguap seiring dengan banyaknya persoalan yang ada di masyarakat. Namun persoalan ketidakadilan secara umum seperti keadilan yang tajam ke bawah dan tumpul ke atas mungkin akan terus menjadi pemicu mengapa orang mudah tersulut emosinya dalam hal-hal tertentu.

"Alam bawah sadar masyarakat menyimpan banyak emosi. Penegakan hukum itu ada beberapa lapisan, kita tahu polisi sukses menangkap penjahat tapi bagaimana penyelesaiannya di meja hijau. Ada banyak ketidak adilan inilah yang membuat masyarakat menjadi batman-batman yang harus melakukan keadilan hitam tadi," kata Devie.

Masalah lain yang menjadi pemicu adalah sebaran informasi hoaks yang beredar di media sosial mampu menggerakkan sekelompok orang untuk melakukan tindakan. Informasi yang belum tentu kebenarannya dengan mudah disebarkan tanpa memikirkan dampak apa yang bisa terjadi pada seseorang.

Secara alamiah, kata Devie, orang selalu ingin jadi pahlawan. Ketika menerima informasi meskipun belum tentu benar akan langsung disebarkan ke orang lain.

"Karena kita ingin jadi yang pertama, mendapat hujanan jempol sebagai orang yang paling tahu, paling hebat dan paling berjasa menyebarkan ada bahaya, ada hal-hal yang perlu ditakuti. Semangat kepahlawanan yang salah ini mendorong orang untuk menjadi yang terdepan termasuk melakukan hal buruk seperti kekerasan," ungkapnya.




(MEL)