Muslimat NU Minta Kata `Susu` di Kental Manis Dihapus

   •    Senin, 03 Dec 2018 19:19 WIB
susu kental manis
Muslimat NU Minta Kata `Susu` di Kental Manis Dihapus
Petugas Balai Besar Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) Sumatera Barat memusnahkan susu kaleng tanpa logo halal di labelnya. Foto: ANTARA/Iggoy el Fitra.

Jakarta: Pengurus Pusat Muslimat Nahdlatul Ulama (NU) dan Pengurus Wilayah Muslimat NU Surabaya merekomendasikan agar kata `susu` pada iklan susu kental manis (SKM) dihapus. Sebab, BPOM menyebut produk itu tidak cocok untuk bayi dan anak di bawah 12 tahun.
 
Rekomendasi itu muncul dalam diskusi `Membangun Generasi Emas Indonesia 2045, Bijak menggunakan SKM` yang digelar Muslimat NU dan Yayasan Abhipraya Insan Cendekia Indonesia di  SMA Khadijah, Surabaya.
 
"Iklan SKM sebagai susu sudah mengelabui kita puluhan tahun, saatnya iklan itu dihapus," kata  Ketua PW Muslimat NU Jawa Timur, Masruroh Wahid, dalam keterangan tertulisnya, Senin, 3 Desember 2018..
 
Selain itu, Masruroh meminta BPOM tegas menindak produsen yang melecehkan aturan. "Kalau produsen berani beriklan tidak jujur, tidak sesuai dengan peruntukan, berarti ada yang salah dengan kebijakan," kata Masruroh.
 
Ahli Madya Pengawas Farmasi dan Makanan (BPOM) Provinsi Jawa Timur Yuli Ekowati mengatakan, sudahsewajarnya Muslimat NU melaporkan masalah ini kepada Badan POM jika ada produsen yang tidak mengikuti aturan.

Baca: BPOM: Susu Kental Manis Hanya untuk Pelengkap

Yuli menjelaskan BPOM terkadang tidak mengekpose kasus-kasus yang ditangani karena khawatir menimbulkan keresahan. "Tapi jika sudah keterlaluan, BPOM akan memberitahukan secara terang-terangan," kata Yuli.
 
BPOM, kata Yuli, tidak punya dana untuk membuat iklan karena biayanya mahal. Karena itu dibutuhkan bantuan masyarakat, khususnya anggota  Muslimat NU untuk membantu menyampaikan informasi tentang SKM bukan susu kepada jamaah di wilayah masing-masing.




(FZN)

Irvanto Kecewa Divonis 10 Tahun Penjara

Irvanto Kecewa Divonis 10 Tahun Penjara

1 week Ago

Vonis untuk Irvanto Hendra Pambudi dianggap lebih berat ketimbang vonis pelaku-pelaku utama&nbs…

BERITA LAINNYA