Amirulloh Selalu Bangga Berseragam STIP

Nur Azizah    •    Rabu, 11 Jan 2017 14:54 WIB
penganiayaan di stip
Amirulloh Selalu Bangga Berseragam STIP
Jenazah Amirulloh Adityas Putra, korban penganiayaan Taruna STIP, Jakarta Utara diusung menuju kuburan. Foto: MTVN/Al Abrar

Metrotvnews.com, Jakarta: Nurul Arifin, paman Amirulloh Adityas Putra, tak menyangka keponakannya berumur pendek. Apalagi meninggalnya karena disiksa kakak kelas di Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran (STIP) Marunda.

Menurut Arifin, Amirullah tak pernah bercerita macam-macam, apalagi soal kekerasan yang dialaminya. Yang dia tahu, Amirulloh sangat bangga bersekolah di sekolah kedinasan milik Kementerian Perhubungan itu.

Bahkan, tak jarang ia mengabadikan dirinya saat mengenakan seragam STIP. Sesekali ia menunjukkan fotonya kepada Arifin.

"Dia bangga sekali dengan seragamnya. Dia suka nunjukin ke saya fotonya, saya tanya, ini di mana fotonya," cerita Arifin kepada Metrotvnews.com, Jakarta Timur, Rabu (11/1/2017).

Semenjak sekolah di STIP, Amirulloh semakin piawai membentuk tubuhnya. Kadang, dia menantang Arifin melakukan push-up.

"Pak de, ayo push-up 100 kali. Saya kuat," kenang Arifin.

Amirulloh Adityas Putra, korban penganiayaan para senior di STIP, Jakarta didampingi bapak dan ibunya. Foto: Dok/Istimewa

Kasus penganiayaan terjadi pada pukul 17.00 WIB, Selasa, 10 Januari. SM, terduga pelaku, mengajak pelaku lainnya berkumpul dan merencanakan penganiayaan kepada junior.

Pukul 22.00 WIB, SM memanggil enam taruna tingkat 1 untuk berkumpul di lantai dua, kamar M-205, gedung Dermotery ring empat, kampus STIP. Satu per satu taruna tingkat satu datang ke lokasi yang sudah ditentukan.

Di sana, senior memukuli korban secara bergantian dengan tangan kosong. Pukulan diarahkan ke perut, dada, dan ulu hati. Amirulloh mengalami hal sama.

"Pada pukulan terakhir oleh pelaku W, korban ambruk ke dada pelaku W," kata Kapolsek Cilincing Kompol Ali Yuzron saat dikonfirmasi Metrotvnews.com.

Pelaku bersama beberapa orang yang menyaksikan peristiwa itu mengangkat Amirulloh ke tempat tidur di dekat lokasi pemukulan. Melihat korban hanya diam, pelaku panik, lalu menghubungi senior tingkat empat, dilanjutkan ke pembina dan petugas medis STIP.

Sekitar pukul 00.15-01.45, dokter STIP memeriksa kondisi Amirulloh. Pukul 02.00 WIB, kasus ini dilaporkan ke polisi.

"Mengetahui kondisi korban tidak bernyawa, setelah diperiksa dokter piket STIP, selanjutnya peristiwa tersebut dilaporkan ke Polsek Cilincing," ujar Ali.

Polisi sudah memeriksa terduga pelaku, yakni SM, WH, I, dan AR. Polisi mengambil barang bukti berupa satu botol minyak tawon, satu botol minyak telon, satu gayung mandi, satu gelas, dan dua puntung rokok.

Pemeriksaan juga dilakukan kepada saksi kejadian, yakni AWP, AGI, LMN, RJ, AS, dan J. Mereka merupakan taruna tingkat dua.

"Kejadian tersebut merupakan insiden ketiga, sebelumya terjadi pada 2012 dan 2013," kata Ali.

 


(MBM)

KPK Bakal Pelajari Pernyataan Miryam

KPK Bakal Pelajari Pernyataan Miryam

8 hours Ago

Miryam S. Haryani yang menyebut ada pertemuan anggota Komisi III DPR dengan pejabat KPK setingk…

BERITA LAINNYA