Ditjen Perhubungan Udara Larang Bawa Powerbank dalam Pesawat

Siti Yona Hukmana    •    Selasa, 13 Mar 2018 04:13 WIB
penerbangankeselamatan lalu lintas
Ditjen Perhubungan Udara Larang Bawa Powerbank dalam Pesawat
Ilustrasi powerbank

Jakarta: Ditjen Perhubungan Udara Kemenhub melarang membawa powerbank atau baterai lithium yang ukurannya lebih dari 160 Wh (watt-hour) ke dalam pesawat udara. Peraturan ini muncul setelah terjadi ledakan powerbank di tas jinjing dalam maskapai penerbangan China. 

Dirjen Perhubungan Udara Agus Santoso mengatakan, powerbank yang boleh dibawa hanya yang mempunyai daya per jam tidak lebih dari 100 Wh. Sedangkan peralatan yang mempunyai daya per jam lebih dari 100 Wh tapi tidak lebih dari 160 Wh harus mendapatkan persetujuan dari maskapai dan diperbolehkan untuk dibawa maksimal dua unit per penumpang. 

"Powerbank harus ditempatkan pada bagasi kabin dan dilarang pada bagasi tercatat," kata Agus dalam keterangan tertulisnya, Senin, 12 Maret 2018.

Aturan ini ditegaskan dengan dikeluarkannya Surat Edaran (SE) Nomor 015 Tahun 2018 yang telah diberlakukan sejak 9 Maret 2018. Dalam SE ini menyatakan pelarangan membawa powerbank karena adanya potensi resiko bahaya meledak atau kebakaran pada powerbank yang membahayakan keselamatan selama penerbangan.

Selain itu, ketentuan lainnya yang terdapat dalam SE adalah  yang dibawa di pesawat udara tidak terhubung dengan perangkat elektronik lain.  Kemudian, maskapai  harus melarang penumpang dan personel pesawat udara melakukan pengisian daya ulang dengan menggunakan powerbank  pada saat penerbangan. 

Dalam SE itu juga menyebutkan, maskapai domestik dan asing diinstruksikan untuk menanyakan kepada setiap penumpang pada saat proses lapor diri (check-in) terkait kepemilikan powerbank atau baterai lithium cadangan. 

"Mencegah lebih baik daripada mengobati. Surat Edaran ini untuk mencegah agar hal tersebut tidak terjadi di Indonesia. Mengingat sudah adanya kejadian terkait bahayanya membawa powerbank dan baterai lithium cadangan dengan ukuran daya tertentu pada penerbangan," ungkap Agus.

Untuk itu, kata Agus perlu melakukan pengawasan awal terutama terkait besaran daya dari peralatan-peralatan tersebut. Ia mengatakan, larangan tersebut hanya untuk peralatan dengan daya yang besar. 

"Daya kecil silakan saja dengan perlakuan tertentu sesuai aturan. Hal ini, juga mulai diatur di berbagai negara maju dalam hal penerbangan yang selalu responsif demi menjaga keselamatan penerbangan," ujar Agus.

Menurut Agus, pencegahan ini sangat perlu karena terkait dengan keselamatan penerbangan yang tidak bisa ditawar. Dengan adanya SE ini, petugas regulator dan operator di lapangan mempunyai pegangan terhadap penanganan barang-barang tersebut baik di bandara maupun di saat penerbangan.

Agus berharap SE ini dapat dilaksanakan dengan baik, kontinu dan penuh tanggung jawab. Ia menyebutkan, petugas di lapangan harus dilatih dan diinformasikan terkait surat edaran ini dengan baik. Termasuk di antaranya dengan memberi informasi yang jelas kepada para penumpang dan melakukan pemeriksaan tetap dengan simpatik.

"Dalam pemeriksaan harus memastikan daya per jam powerbank atau baterai lithium cadangan yang ditemukan saat pemeriksaan keamanan di Security Check Point (SCP) sesuai dengan ketentuan-ketentuan," ucap dia.

Selain itu, Agus juga menghimbau para penumpang untuk mengikuti dan mematuhi ketentuan dalam aturan tersebut. Ia mengharapkan, penumpang bisa bekerjasama dengan petugas terkait segala sesuatu pengaturan dalam SE itu. 

"Ini demi keselamatan dan keamanan penerbangan. Karena keselamatan dan keamanan penerbangan adalah tanggung jawab bersama semua pihak, baik regulator, operator maupun penumpang," pungkasnya. 

Lebih jauh, bagi penyelenggara bandara juga harus  segera menindaklanjuti SE yang telah diterbitkan dengan membuat Standard Operating Procedure (SOP). 

"Kepada Kantor Otoritas Bandar Udara di seluruh Indonesia diinstruksikan untuk melaksanakan pengawasan atas pelaksanaan Surat Edaran ini," tambah dia. 

Sebagai informasi, beberapa waktu lalu terjadi ledakan powerbank di tas jinjing yang diletakkan di hatrack dalam sebuah penerbangan maskapai di China. Hal itu, menjadi alarm seluruh dunia terhadap potensi ancaman keselamatan penerbangan dengan adanya perkembangan teknologi dan kebiasaan sosial penumpang pesawat membawa powerbank.


(SCI)

Irvanto Kecewa Divonis 10 Tahun Penjara

Irvanto Kecewa Divonis 10 Tahun Penjara

5 days Ago

Vonis untuk Irvanto Hendra Pambudi dianggap lebih berat ketimbang vonis pelaku-pelaku utama&nbs…

BERITA LAINNYA