Anak Minim Pendidikan Karakter

Radikalisme Subur karena Anak Kurang Keteladanan

Intan Yunelia    •    Selasa, 15 May 2018 14:20 WIB
perlindungan anak
Radikalisme Subur karena Anak Kurang Keteladanan
Anggota komisi X DPR RI Ledia Hanifa Amaliah. Foto: Antara/Puspa Perwitasari

Jakarta: Anggota komisi X DPR RI, Ledia Hanifa Amaliah menyayangkan pelibatan anak-anak dalam aksi teror di Surabaya. Menurutnya, radikalisme anak-anak muncul karena minimnya pendidikan karakter dan budi pekerti.

"Budi pekerti dan karakter tentang menghormati orang lain, toleransi, menyampaikan dan menghargai pendapat orang, mengamalkan ajaran agama dalam kehidupan sehari-hari," kata Ledia kepada Medcom.id, Selasa, 15 Mei 2018.

Bentuk pendidikan budi pekerti itu bukan saja sebatas ajaran secara lisan di sekolah. Tetapi juga keteladanan dari guru dan orangtua kepada anaknya dalam kehidupan sehari-hari.

"Pendidik harus memastikan anak didiknya bisa mengimplementasi nilai-nilai kebajikan yang diajarkan sampai menjadi perilaku. Sudah barang tentu  pendidik harus jadi teladan anak-anak. Demikian juga orang tuanya," ucap Ledia.

Politisi PKS itu menyadari, butuh waktu yang tidak sebentar untuk menanamkan nilai-nilai pendidikan karakter dan budi pekerti. Butuh praktik dan ajaran yang berkesinambungan dari orang-orang terdekat.

"Pendidikan ini bukan hanya kognisi (pengetahuan) tapi dibangun sampai melibatkan perasaan, diaplikasikan dalam keseharian sehingga terbentuk perilaku. Tidak bisa setahun dua tahun," tutur Leida.

Sebelumnya, Kapolri Jendral Tito Karnavian mengatakan polisi mengidentifikasi terduga pelaku peledakan bom di Surabaya, Jawa Timur. Diduga kuat, pelaku berasal dari satu keluarga.

Sebelum melakukan aksi bom bunuh diri, lanjut Tito, Dita (kepala keluarga)  terlebih dahulu mengantar istrinya bernama Puji Kuswati, dan kedua orang putrinya bernama Fadila Sari (12) dan Vamela Riskika (9) ke GKI di Jalan Diponegoro.

"Setelah mengantar istri dan kedua putrinya, bom sudah posisi dililitkan di bagian perut dan dada kedua putrinya. Dan kemudian meledakkan diri," ujarnya.

Kemudian pelaku bom bunuh diri di Gereja Santa Maria Tak Bercela di Jalan Ngagel, dilakukan oleh dua orang laki-laki yang merupakan putra dari Dita dan Puji. Keduanya bernama Yusuf Fadil (18) dan Firman Halim (16).

"Keduanya melakukan bom bunuh diri dengan mengendarai sepeda motor masuk ke area gereja. Jadi semua adalah serangan bom bunuh diri, cuma jenis bomnya saja berbeda," kata Tito.
 


(CEU)