RUU Bahan Kimia Mandek 10 Tahun

Ilham wibowo    •    Kamis, 13 Apr 2017 14:18 WIB
kriminalitas jalanan
RUU Bahan Kimia Mandek 10 Tahun
Penyidik KPK Novel Baswedan, salah satu korban penyiraman air keras yang regulasi tata niaganya belum diatur/ANT/Aprillio Akbar

Metrotvnews.com, Jakarta: Rancangan Undang-undang (RUU) Bahan Kimia disebut telah mandek 10 tahun. Aturan itu tak kunjung masuk program legislasi nasional (prolegnas) DPR.

"Kami sudah (susun RUU bahan kimia) 10 tahun yang lalu. Mungkin pemerintah merasa belum perlu untuk mengatur," kata ahli toksikologi kimia dari Universitas Indonesia (UI) Budiawan kepada Metrotvnews.com, Kamis 13 April 2017.

Budi yang juga salah seorang penyusun RUU tersebut mengatakan, tata niaga bahan kimia saat ini sangat buruk. Sejumlah kasus penyalahgunaan serta mudahnya masyakarat memperoleh bahan kimia dengan tingkat kandungan racun berbahaya dinilai masih belum cukup mengantar RUU menjadi aturan baku.

"UU yang dirancang ini juga padahal sudah dibahas antarkementrian dan para ahli, tetapi political will-nya sulit," kata dosen Fakultas Matematika dan IPA UI itu.

Tidak adanya aturan bahan kimia juga menyulitkan pendataan seluruh peredaran bahan kimia murni dan turunannya. Menurut Budi, pengawasan pemanfaatan bahan kimia masih tumpang tindih antarkementerian.

"Ketika kasus peyalahgunaan terjadi, tidak ada yang lantas bertanggung jawab. Tata cara membeli bahan kimia ini harus diatur, supaya bisa kita monitoring siapa yang produksi, dari mana, dan berapa jumlahnya" beber dia.

Budi menjelaskan, aturan baku pengawasan secara terintegrasi seluruh kementerian terkait ini penting untuk segera diwujudkan. Pasalnya, perdagangan terbuka memungkinkan orang dengan niat jahat memanfaatkan sifat berbahaya bahan kimia.

"Dari mulai produksi atau impor, suplai, serta penggunaan dan daur ulang harus diatur. Berbagai kasus (penyalahgunaan) sudah muncul. Teroris juga sama, tidak mungkin membuat bahan peledak tanpa menggunakan bahan kimia," ucap Budi.

Penyalahgunaan bahan kimia baru-baru ini dilakukan untuk meneror Penyidik senior Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan. Wajah Novel disiram air keras jenis H2SO4 atau senyawa kimia asam sulfat oleh orang tak dikenal dalam perjalanan pulang usai salat Subuh di masjid dekat rumahnya, kawasan Kelapa Gading, Jakarta Utara. Pelaku diduga dua orang dan mengendarai sepeda motor.

Teror itu diduga kuat berkaitan kasus KTP elektronik yang diusut Novel. Presiden Joko Widodo memerintahkan Kapolri Jenderal Tito Karnavian segera mencari aktor di balik aksi brutal ini.


(OJE)