Media Indonesia Bersih dari Kasus Suap Lippo Group

Dian Ihsan Siregar    •    Jumat, 21 Oct 2016 01:13 WIB
media indonesia
Media Indonesia Bersih dari Kasus Suap Lippo Group
Dirut PT Kobo Media Spirit Stefanus Slamet Wibowo bersaksi dalam sidang dengan terdakwa mantan Panitera Pengadilan Negeri Jakarta Pusat Edy Nasution di Pengadilan Tipikor, Jakarta, Rabu (19/10) - ANT/Widodo S Jusuf

Metrotvnews.com, Jakarta: Direktur Utama PT Kobo Media Spirit Stefanus Slamet Wibowo memastikan, Media Indonesia tidak menerima uang terkait pengamanan berita kasus suap pengurusan sejumlah perkara hukum yang melibatkan panitera Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Edy Nasution.

"Di sidang, saya menjelaskan kepada hakim bahwa tidak ada satu pun pekerjaan yang saya lakukan terkait Paramount. Saya tidak bermaksud berbohong di depan sidang. Saya tidak teliti meneliti BAP," ujar Slamet mengutip Media Indonesia, Jakarta, Jumat (21/10/2016).

Slamet mengungkapkan kepada publik, bahwa kliennya Paul Montolalu dan Lippo tidak pernah memberi order untuk berita positif atau pengamanan sidang. "Saya juga menegaskan bahwa Media Indonesia bersih dari situasi ini," terang Slamet.

Seperti diketahui, saat bersaksi di Pengadilan Tipikor Jakarta, Rabu, 19 Oktober 2016, Slamet bersaksi untuk terdakwa Edy Nasution.

Menurut Slamet, permintaan tersebut disampaikan oleh Paul Montolalu, salah satu petinggi Lippo Group yang menjabat sebagai Direktur PT Direct Vision.

"Kalau ditanya apakah ada pihak yang meminta jasa konsultan, ada klien kami, di antaranya Pak Paul Montolalu," ucap Slamet di Pengadilan Tipikor.

Menurut Slamet, Paul yang dikenalnya di salah satu usaha Lippo Group yakni First Media, meminta bantuannya untuk mendapatkan citra positif di media. Pencitraan tersebut terhadap sejumlah unit usaha di bawah Lippo Group.

"Misalnya Lippo punya banyak unit kerja yang sahamnya ada di pasar modal, sehingga saya akan dorong dan bantu kalau ada isu positif," tegas Slamet.

Slamet tidak ingat apakah Paul pernah memintanya membantu memberikan citra positif tiga perusahaan di bawah Lippo yang terkait dengan kasus suap panitera PN Jakarta Pusat, Edy Nasution.

Tapi, dalam berita acara pemeriksaan (BAP) di KPK, Slamet mengaku, bahwa Paul meminta bantuannya untuk mengamankan sejumlah media cetak agar memberikan hal-hal positif terkait PT Paramount Enterprise International, salah satu anak usaha Lippo yang terkait kasus hukum di KPK.

"Saya tidak bermaksud berbohong, tapi Paramount seingat saya tidak pernah. Tapi, kalau di BAP saya tanda tangan, artinya pernah," ujar Slamet.

Panitera Pengadilan Negeri Jakarta Pusat Edy Nasution didakwa menerima suap secara bertahap sebesar Rp2,3 miliar. Suap tersebut diduga diberikan agar Edy membantu mengurus perkara hukum yang melibatkan perusahaan di bawah Lippo Group.

Tiga perkara Lippo Group yang diurus oleh Edy adalah perkara eksekusi lahan terhadap PT Jakarta Baru Cosmopolitan, penundaan "aanmaning" perkara niaga PT Metropolitan Tirta Perdana (MTP) melawan PT Kwang Yang Motor (PT Kymco), dan terkait pengajuan peninjuan kembali perkara niaga PT Across Asia Limited (AAL) melawan PT First Media. 


(REN)

KPK Periksa Eks Pejabat Kemendagri terkait KTP-el

KPK Periksa Eks Pejabat Kemendagri terkait KTP-el

2 weeks Ago

KPK memanggil Sekretaris Direktur Jenderal Administrasi Kependudukan Kementerian Dalam Neg…

BERITA LAINNYA