Swasta Diharapkan Terlibat dalam Peningkatan Kompetensi SDM

Gervin Nathaniel Purba    •    Rabu, 10 Oct 2018 14:50 WIB
berita kemenaker
Swasta Diharapkan Terlibat dalam Peningkatan Kompetensi SDM
Menaker Hanif Dhakiri (Foto:Dok.Kemenaker)

Maumere: Pemerintah mendorong agar proses peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) Indonesia tidak hanya dilakukan oleh pemerintah saja, tapi juga melibatkan pihak swasta dan dunia usaha. 

Hal ini dibutuhkan agar proses peningkatan kualitas SDM dapat dipercepat dan menghasilkan tenaga kerja kompeten yang sesuai dengan kebutuhan pasar kerja.

"Indonesia harus mengejar ketertinggalan dari negara-negara lain dalam penyiapan SDM berkompeten. Apalagi Indonesia juga dihadapkan pada tantangan bonus demografi," ujar Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) M Hanif Dhakiri, saat mengunjungi Laboratoriun Pelatihan Politeknik ATMI Sikka (Kampus Cristo re Maumere), Nusa Tenggara Timur (NTT), Rabu, 10 Oktober 2018.

Berdasarkan data BPS, Indonesia masih mengalami persoalan angkatan kerja yang didominasi lulusan SD-SMP (59,6 persen). Dalam rentang usia tersebut, kemungkinan sangat tipis bagi masyarakat untuk melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Oleh karena itu, untuk menambah keterampilan bekerja, masyarakat bisa mengikuti pelatihan di Balai Latihan Kerja (BLK).

"Misalkan, lulusan politeknik dibandingkan dengan lulusan BLK yang pelatihan hanya beberapa bulan, itu kualitasnya (lulusan) bisa diadu," ujarnya.

Sementara itu, salah satu pengurus Politeknik Ketenagakerjaan (Polteknaker) ATMI Romo Doni, menyebut bahwa pendidikan vokasi seperti politeknik memiliki prospek bagus di dunia kerja. Sejumlah lulusan politeknik mereka disebutnya telah berhasil masuk ke dunia industri. Hanya saja, pendidikan vokasi, khususnya di daerah punya banyak kendala. 

"Kendala yang dihadapi antara lain kebutuhan alat-alat (pelatihan) yang tidak murah. Itulah kenapa setiap tahun hanya sekitar 20-an orang saja yang kami terima," kata Romo Doni.

Menanggapi hal tersebut, Hanif menyebut bahwa dalam standar internasional (ILO), kuota pelatihan memang hanya sekitar 16 orang di setiap kelas. Tetapi, Hanif mengingatkan selain kualitas dan kecepatan, lembaga pelatihan dan pendidikan vokasi juga harus memperhatikan pembangunan karakter dan sikap.

"Seperti di Jepang, kalau karyawan baru, dilatih karakternya dengan jalan kaki sekian meter dengan waktu tempuh sekian detik. Jadi yang jalannya lambat biar bisa bertambah cepat. Yang jalannya terlalu cepat, bisa menyesuaikan," ucapnya.


(ROS)

KPK Setorkan Rp2,286 Miliar ke Kas Negara

KPK Setorkan Rp2,286 Miliar ke Kas Negara

1 week Ago

Uang berasal dari uang pengganti terpidana kasus korupsi proyek KTP-el Andi Agustinus alias And…

BERITA LAINNYA