Baru Dua Politeknik Optimalkan Kolaborasi dengan Industri

Intan Yunelia    •    Kamis, 10 Jan 2019 15:28 WIB
Pendidikan Vokasi
Baru Dua Politeknik Optimalkan Kolaborasi dengan Industri
Menristekdikti, Mohamad Nasir saat kunjungan kerja ke PT INKA, Kemenristekdikti/Humas.

Jakarta: Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti), Mohamad Nasir mengatakan baru ada dua dari 199 politeknik di bawah Kemenristekdikti yang mengoptimalkan kolaborasi dengan industri. Di antaranya Politeknik Negeri Batam yang bekerja sama dengan Aircraft Maintainance, dan Politeknik Negeri Madiun dengan PT Industri Kereta Api (INKA).

"Di politeknik Indonesia baru ada dua yang sudah berkolaborasi dengan industri dengan baik, satu adalah Politeknik Negeri Batam, yaitu (dengan) Aircraft Mantainance.  Mahasiswa kuliah di Batam, di pusat perbaikan pesawat terbang, dan Politeknik Negeri Madiun yang dalam hal ini bekerja sama dengan PT INKA," kata Nasir, di Jakarta, Kamis, 10 Januari 2019.

Nasir Rabu, 9 Januari 2019 kemarin juga berkunjung ke Politeknik Negeri Madiun (PNM). Ia mengharapkan PNM bisa berkolaborasi baik dengan PT INKA. Agar bisa menghasilkan Sumber Daya Manusia (SDM) yang terampil dan berdaya saing di bidang perkeretaapian.

"Ini kalau terwujud, bayangan saya inilah politeknik seperti yang ada di Jerman, Swiss, maupun negara-negara maju lainnya. Kalau ini berhasil, bisa jadi embrio bagi politeknik lain," ujar Mantan Rektor Terpilih Universitas Diponegoro (Undip) Semarang ini.

Baca: Lulusan Politeknik Belum Banyak Dilibatkan dalam Pembangunan

Saat ini, Kemenristekdikti sedang merancang pengadaan laboratorium dan software untuk dihibahkan kepada PT INKA. Di mana nantinya dapat digunakan untuk mahasiswa PNM.

Perlu diketahui, PNM ini merupakan salah satu politeknik spesialis perkeretaapian di Indonesia. PNM ini juga sekaligus mendukung inovasi pada PT INKA.  "Kami akan alokasikan dalam kaitan revitalisasi vokasi untuk laboratotium. Laboratorium ini alat uji yang layak digunakan untuk kereta api, yang tahu PT INKA. Oleh karena itu untuk Politeknik (Negeri Madiun), kalau kita, ingin mengajukan laboratorium Bogie, laboratorium Propulsi. Ini akan jadi sangat penting untuk kita kembangkan," papar Nasir.

Jumlah anggaran yang diperlukan untuk pengadaan akan ditanggung oleh Kemenristekdikti. Dengan syarat PNM juga dapat menggunakan laboratorium dan software tersebut secara bersama-sama dengan dosen dan mahasiswa PNM.

"Co-working ini penting sehingga ini laboratorium yang langsung digunakan mahasiswa bersama PT INKA. PT INKA yang tahu penggunaannya dan cara mengoperasikannya," pungkasnya.


(CEU)