Tanggapan Istana Ihwal Aksi Penghentian Mobil Presiden

Damar Iradat, M Sholahadhin Azhar    •    Kamis, 14 Feb 2019 15:58 WIB
presiden jokowi
Tanggapan Istana Ihwal Aksi Penghentian Mobil Presiden
Kepala Staf Presiden Jenderal (Purn) TNI Moeldoko - Medcom.id/M Sholahadhin Azhar,

Jakarta: Istana menanggapi insiden pengadangan mobil Presiden Joko Widodo oleh Serikat Pekerja Awak Mobil Tangki (SP-AMT) Pertamina pada Rabu, 13 Februari 2019 petang. Peristiwa itu dianggap sebagai tindakan berisiko bagi massa aksi.

Kepala Staf Presiden Jenderal (Purn) TNI Moeldoko mengatakan Presiden Jokowi sejatinya perlu pengamanan. Jadi, ketika Paspampres melihat situasi yang kurang bagus untuk pengamanan presiden maka ada langkah-langkah yang harus diambil. 

"Semalam kan sempat sedikit ada dorong-dorongan oleh aparat yang ingin jangan sampai nanti ada yang ketabrak, keserempet mobil, dan seterusnya. Sehingga itu sebuah peristiwa yang biasa, bukan peristiwa yang selalu serius," kata Moeldoko di kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Kamis, 14 Februari 2019. 

Kendati demikian, Moeldoko memastikan Presiden Jokowi tak mempersoalkan hal tersebut. Apalagi, presiden juga sudah terbiasa menghadapi masyarakat di jalanan. 

Moeldoko yang biasa menemani mengaku memang sempat khawatir dengan gaya Jokowi itu. Namun, dengan pembawaan Jokowi, mantan Panglima TNI itu meyakini tak akan ada hal serius yang terjadi.

"Saya sendiri secara pribadi sebagai mantan panglima TNI cukup khwatir, cuma presiden happy-happy saja dengan situasi seperti itu. Karena itu menjadi kebiasaan," tutur dia. 

(Baca juga: Satpam Masuk Istana Penghargaan yang Luar Biasa)

Demo Salah Sasaran

Terkait kegiatan demonstrasi yang ditujukan ke Jokowi, Moeldoko menilai salah sasaran. Menurut dia, para pekerja seharusnya menuntut kepada perusahaan tempat mereka bekerja.

"Menurut saya salah sasaran, jangan semuanya ke presiden. Itu mestinya kepada vendor di mana dia bekerja," kata Moeldoko.

Namun, ia memastikan pihak Istana sudah memanggil Direktur Utama PT Pertamina Patra Niaga Nina Sulistyowati untuk meminta penjelasan terkait tuntutan SP-AMT tersebut. Dari penjelasan pihak perusahaan, para pekerja yang melakukan demo merupakan pekerja alih daya atau outsourcing.

Ia menambahkan permasalahan mereka seharusnya bisa diselesaikan di tingkat perusahaan. "Taat asaslah, jangan sedikit-sedikit semuanya presiden. Itulah saya buru-buru memanggil dirutnya. Itu hanya kelompok kecil ya," kata dia.

(Baca juga: Jokowi Teken Perpres Pengamanan Capres dan Cawapres)

Serikat Pekerja Awak Mobil Tangki (SP-AMT) Pertamina kembali berdemonstrasi di depan Istana Merdeka, Rabu, 13 Februari 2019. Mereka menuntut kejelasan nasib mereka yang dipecat secara sepihak.

Dalam aksinya, SP-AMT Pertamina sempat menghentikan mobil Jokowi yang keluar dari kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, untuk menuntut nasib mereka. Di tengah aksi, salah satu peserta berhasil merangsek pengamanan aparat kepolisian dan Pasukan Pengamanan Presiden (Paspampres) untuk sampai ke mobil Jokowi. 


 


(REN)

KPK Periksa Eks Pejabat Kemendagri terkait KTP-el

KPK Periksa Eks Pejabat Kemendagri terkait KTP-el

3 weeks Ago

KPK memanggil Sekretaris Direktur Jenderal Administrasi Kependudukan Kementerian Dalam Neg…

BERITA LAINNYA